Predikat negara maju banyak disandang oleh negara-negara Barat yang mayoritas sekuler-liberal. Baik itu maju dalam segi ekonomi, pemikiran, budaya, maupun yang lain. Sedangkan negara-negara Timur yang penduduknya mayoritas muslim dianggap masih tertinggal. Beberapa pihak ada yang beranggapan bahwa tertinggalnya negara-negara Timur itu karena mereka cenderung berpegang teguh terhadap ajaran agamanya. Aturan-aturan agama dianggap sebagai penghambat kemajuan suatu bangsa. Ambil contoh, meluangkan waktu untuk shalat berjamaah dan menghadiri perayaan hari besar Islam dianggap menyita waktu yang semestinya bisa digunakan untuk aktivitas lain yang produktif, sehingga bisa meningkatkan perekonomian.
Berangkat dari sini, kemudian ada sentimen positif kepada negara-negara Barat yang bisa maju dengan berlepas diri dari agama. Oleh karena itu, melalui tulisan singkat ini, penulis akan membahas dua hal pokok yang tidak terlepas dari kemajuan, yakni kemana arah kemajuan yang hakiki dan apa yang seharusnya dijadikan ukuran sebuah kemajuan.
HAKIKAT ARAH KEMAJUAN
Negara Barat memang memiliki standar hidup yang relatif tinggi dan tingkat perekonomian yang merata. Namun, bukan berarti negara-negara Timur lantas membebek begitu saja kepada negara Barat dalam segala aspeknya. Perlu diteliti ulang, kemajuan yang sering digaungkan itu sebenarnya mengarah kemana. Apakah predikat maju yang disandang negara-negara Barat itu memang merupakan kemajuan hakiki yang harus ditiru oleh negara-negara Timur? Atau jangan-jangan label kemajuan itu hanya fatamorgana yang sebenarnya semu?
Jika kemajuan Barat itu dimaksudkan pada kemajuan peradaban, tentu bisa dilihat bagaimana peradaban Barat saat ini. Yang ada justru peradaban Barat sedang mengarah pada kerusakan dan kemunduran. Hal ini terbukti dari gaya berpakaian yang semakin lama justru semakin telanjang, atau minuman keras dan perjudian yang jelas-jelas merusak justru dilegalkan.
Jika kemajuan Barat itu dimaksudkan pada kemajuan ilmiah, tentu tidak semuanya bisa dianggap maju, sebab banyak keilmuan dan filsafat Barat justru menjadi pangkal dari ateisme, kerusakan moral, maupun kehidupan yang serba materialistik. Begitu juga kalau seandainya kemajuan itu diarahkan pada bidang ekonomi, fakta yang terjadi justru perekonomian Barat sarat dengan kapitalisme yang menindas maupun sistem perekonomian berbasis riba.
| BACA JUGA : HANYA SEKEDAR KITA
Dari beberapa fakta di atas, arah kemajuan negara-negara Barat tidak semuanya merupakan kemajuan yang hakiki. Sebab ukuran yang digunakan oleh Barat dalam menilai kemajuan selalu bersifat materialistik. Misalnya untuk membedakan negara maju, berkembang, dan terbelakang semata-mata dinilai dari kemajuan materi, sains, dan teknologi. Suatu negara tetap dianggap maju kalau dia memiliki tingkat ekonomi yang tinggi, meskipun di sisi lain, nilai moralnya justru sedang berada di titik terendah. Padahal untuk membangun peradaban yang maju, yang pertama kali harus dibangun adalah moral manusianya. Sebab membangun peradaban bukan sekadar mendirikan bangunan atau bertujuan memperluas wilayah kekuasaan. Pola pikir materialistik seperti ini justru akan mengarahkan pada kehancuran. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Abu Dawud, Rasulullah bersabda yang artinya:
“Akan datang suatu masa di mana bangsa mengeroyok kalian seperti orang rakus merebutkan makanan di atas meja.” Ditanyakan (kepada Rasulullah): apakah karena saat itu jumlah kita sedikit? Rasulullah menjawab: “Tidak, bahkan kamu saat itu mayoritas, tetapi kamu seperti buih di atas permukaan air banjir. Sungguh Allah telah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kamu, dan mencampakkan di dalam hatimu ‘al-wahn’.” Ditanyakan (kepada Rasulullah): apakah al-wahn itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Wahn adalah cinta dunia dan benci mati.”
NILAI SEBUAH KEMAJUAN
Sebagai orang Islam, tentu prinsip kemajuan yang seharusnya dijadikan acuan adalah kemajuan berdasarkan tuntunan agama. Kemajuan yang tidak bertentangan dengan aturan aturan al-Quran maupun Hadis. Kalau kemajuan versi Barat yang dijadikan kiblat, pada hakikatnya umat Islam justru sedang berlomba-lomba untuk menjemput kehancuran dan kebinasaan. Sebab kemajuan-kemajuan yang ada, sebenarnya hanya kemajuan semu dan sesaat. Kemajuan semu semacam ini justru akan menuntun umat Islam pada kehidupan yang celaka, persis seperti Firaun yang membawa kaumnya ke neraka. Allah berfirman dalam surah Hûd ayat 96-98:
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا مُوْسٰى بِاٰيٰتِنَا وَسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍۙ ٩٦ اِلٰى فِرْعَوْنَ وَملَا۟ىِٕهٖ فَاتَّبَعُوْٓا اَمْرَ فِرْعَوْنَۚ وَمَآ اَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيْدٍ ٩٧ يَقْدُمُ قَوْمَهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فَاَوْرَدَهُمُ النَّارَۗ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُوْدُ ٩
Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Musa dengan (membawa) ayat-ayat (mukjizat) Kami dan keterangan yang nyata kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya, tetapi (justru) mereka mengikuti perintah Fir‘aun, padahal perintah Fir‘aun sama sekali bukanlah (perintah) yang benar. (Fir‘aun) berjalan di depan kaumnya di hari Kiamat, lalu membawa mereka masuk neraka. Itulah seburuk-buruk tempat yang dimasuki.”
Dengan demikian, dalam memahami kemajuan, yang harus dijadikan ukuran dalam penilaian adalah kemana kemajuan itu akan membawa umat Islam. Jika tujuan akhirnya baik, maka kemajuan ini layak untuk dikejar dan diperjuangkan. Begitu pula sebaliknya, jika tujuan akhirnya justru membawa umat Islam menuju kehancuran dan keburukan, niscaya kemajuan itu pada hakikatnya merupakan kemunduran yang merusak.
Syekh Abdurrahman Hasan Habannakah dalam Kawâsyifu Zuyûf mengibaratkan kemajuan itu seperti halnya gelas kaca yang bening. Ia tidak memiliki nilai yang tetap, apakah harus selalu diikuti, atau selalu ditinggalkan. Untuk menentukan nilainya, tentu melihat apa yang mengisi gelas tersebut. Kalau gelas tersebut berisi racun, seindah apapun itu, jangan sampai dianggap baik dan harus diminum begitu saja. Begitu pula dengan kemajuan, yang perlu diperhatikan sungguh-sungguh adalah esensi kemajuan tersebut mengarah ke mana. Meskipun luarnya tampak indah, perekonomiannya serba tercukupi, tentu harus dilihat lagi isinya, apakah itu semua sesuai dengan prinsip-prinsip Islam atau tidak. Jika tidak sesuai, tentu jangan sampai diikuti, sebab pada hakikatnya itu merupakan kemunduran dan kehancuran.




