BERCANDA dan tertawa adalah sesuatu yang niscaya. Tidak mungkin rasanya manusia cemberut terus menerus dan bermuka datar tanpa ekspresi sepanjang usia. Terlebih, ketika memang ada sesuatu yang
dianggap lucu dan memancing senyum dan tawa. Hanya saja, ketika dosis tawa terlalu sering dan over, efek samping yang ditimbulkan juga kurang baik. Bahkan, ada yang bilang bisa meruntuhkan wibawa dan kredibilitas seseorang, benarkah demikian? Bagaimana Islam memandang persoalan humor ini? Berikut ulasan kami. Selamat menikmati.
BEGINILAH CANDA DAN HUMOR BAGINDA NABI
KEHIDUPAN dunia yang begitu beragam ini, tidak mungkin rasanya bila sepanjang usia hanya diisi dengan cemberut dan tanpa senda gurau sedikitpun. Sangat wajar apabila pada waktu-waktu tertentu kita perlu tertawa dan berbahagia. Tak luput pula, manusia paling paripurna panutan kita bersama, Rasulullah Muhammad bin Abdullah. Rasulullah yang dikelilingi oleh para shahabat dan keluarga yang begitu istimewa juga pernah bergurau dan mengeluarkan humor. Bahkan, sebagaimana hadis riwayat Imam Ahmad dan Imam at-Tirmidzi, Beliau tidak menampik kadang bercanda dengan para shahabat. Shahabat Abu Hurairah meriwayatkan, para shahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bercanda dengan kami?” Rasulullah menjawab, “(Iya) hanya saja saya tidak mengatakan sesuatu, kecuali berupa sebuah kebenaran.”
Implementasi jawaban Rasulullah tentang humor ini tertuang dalam candaan Beliau dengan nenek renta yang meminta didoakan agar bisa masuk surga. Bukan langsung mendoakan sebagaimana pinta wanita tua itu, Baginda justru berkata ‘surga tidak akan dimasuki oleh wanita tua renta’. Pernyataan Baginda ini tentu saja benar dan sesuai fakta. Sebab, semua orang tua yang kelak akan masuk surga kembali muda dan segar bugar. Tentu saja Rasulullah tidak menghendaki vonis wanita tua renta itu tidak akan masuk surga. Namun, karena situasi dan kondisi, membuat wanita itu salah paham dan menangis. Setelah Rasulullah jelaskan semua clear dan beres.
|BACA JUGA : ULAMA DUNIA PEMERHATI SEJARAH
Dalam kesempatan lain, Rasulullah juga pernah bercanda dengan Sayidina Ali. Kala itu Rasulullah sedang berbuka puasa dengan para shahabat. Di antara makanan yang terhidang adalah buah kurma. Rasulullah dan para shahabat menyantap buah kurma itu dengan nikmat. Sebagaimana lazimnya, setelah memakan buah kurma, mereka meletakkan biji kurma di hadapan mereka masing-masing. Mendapati tumpukan biji kurma terlalu banyak di depannya, Sayidina Ali mencampur biji kurma miliknya dengan biji kurma Rasulullah, lalu memindahkan biji-biji kurma itu ke hadapan Rasulullah. “Wahai Baginda, apakah engkau begitu lapar, sehingga banyak sekali buah kurma yang engkau habiskan,” goda Sayidina Ali sambil menatap tumpukan biji kurma di depan Rasulullah. Dipancing iseng begitu, bukannya marah ataupun kesal, Rasulullah justru membalas dagelan Sayidina Ali tadi. “Bukankah engkau yang justru terlalu lapar wahai Ali. Bukankah engkau memakan buah kurma dengan biji-bijinya?,” balas Rasulullah.
Canda Baginda juga pernah mengemuka kala seorang perempuan datang meminta bantuan agar dicarikan unta buat memindahkan barang-barang miliknya. Rasulullah menyuruh para shahabat memberikan anak unta kepada wanita tadi. Para shahabat heran, begitu pula dengan wanita itu. Bagaimana mungkin seekor anak unta sanggup memindahkan barang-barang yang begitu banyak. “Apa yang akan saya lakukan dengan seekor anak unta? (Bagaimana mungkin seekor anak unta sanggup membantuku untuk memindahkan barang-barang yang begitu banyak dan bobotnya sangat berat)?,” tanya si wanita. Baginda menjawab, “Bukankah semua unta adalah anak unta?” Shahabat baru mengerti bahwa yang dikehendaki Baginda bukanlah menyuruh memberikan seekor anak unta kecil kepada wanita tadi. Baginda bercanda dengan menyebut untuk besar sebagai anak unta. Tentu saja ucapan dan kata-kata Rasulullah ini benar dan bukan dusta.
Pada kesempatan berbeda, Rasulullah juga sering bermain dan bercanda dengan kedua cucu kesayangannya, Sayidina Hasan dan Sayidina Husain. Shahabat Jabir mengisahkan, suatu ketika saya memasuki rumah Baginda, ternyata Sayidina Hasan dan Sayidina Husain tengah berada di punggung Rasulullah. Baginda berjalan membawa keduanya menggunakan kedua tangan dan kaki. Bagindapun bersabda, “Sebaik-baiknya tunggangan adalah tunggangan kalian berdua, dan sebaik-baiknya orang adil adalah kalian berdua.” Shahabat Abu Hurairah juga mengisahkan, ia pernah mendapati Rasulullah menjulurkan lidah kepada cucu tersayangnya, Sayidina Hasan dan Sayidina Husain. Shahabat Abu Hurairah sampai melihat warna merah lidah Baginda.
Rasulullah juga pernah bercanda dan bermain dengan istri Beliau, Sayidah Aisyah. Sayidah Aisyah menceritakan, “Saya pernah melakukan sebuah perjalanan dengan Rasulullah. Kala itu badanku masih kurus dan ramping. Beliau meminta agar para shahabat berjalan duluan.” Setelah semua shahabat ada di depan, Rasulullah mengajak Sayidah Aisyah lomba lari. Sayidah Aisyah menerima ajakan itu dan berhasil menang. Selang beberapa lama, Rasulullah kembali melakukan perjalanan dengan Sayidah Aisyah. Sebagaimana pertama, Baginda mempersilahkan para shahabat berjalan di depan. Setelah tinggal berdua dengan Sayidah Aisyah di belakang, Baginda kembali mengajak Sayidah Aisyah lomba lari. Sayidah Aisyah sama sekali tidak terpikir lomba pertama yang mereka lakukan. “Bagaimana mungkin aku dapat mendahului engkau wahai Rasulullah sedang badanku gemuk seperti ini.” Sayidah Aisyah tetap menerima ajakan itu, dan tentu saja Rasulullah menang. Berhasil mendahului Sayidah Aisyah, Baginda pun berkata, “Ini untuk menebus kekalahanku kala itu.” Baru kemudian Sayidah Aisyah teringat perlombaan pertama.




