Setidaknya, pandemi ini telah membangunkan kesadaran kita akan keterbatasan teknologi, sekalipun telah mencapai tingkat kecanggihan yang tinggi. Ternyata, kemampuannya sangat terbatas.
Penting untuk menyadari hal ini karena terkadang, kecanggihan teknologi dapat menimbulkan pandangan bahwa manusia mampu mengatasi semua masalah saat ini dengan kemajuan di bidang sains dan teknologi.
Di awal-awal Covid-19, ketika pandemi ini masih berupa berita dari daratan China, kita tidak terlalu panik. Barangkali karena kita memiliki perasaan bahwa sebentar lagi para ilmuwan dengan segenap kecanggihan laboratoriumnya pasti segera menemukan penangkalnya. Ternyata perasaan itu meleset jauh, maka kitapun mulai menyadari bahwa manusia tidaklah berdaya.
Sisi baiknya, pada saat merasa tidak berdaya, manusia memiliki kecenderungan untuk menyandarkan dirinya kepada Tuhan. Hal itu menumbuhkan dan menyuburkan spiritualitas dalam diri mereka.
هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
Dialah Tuhan yang menjadikan kalian dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur. (QS Yunus [10]: 22)
Ayat ini adalah simulasi dari ayat sebelumnya yang menguraikan tentang kecenderungan buruk manusia yang suka melupakan rahmat Allah setelah mereka diselamatkan dari petaka. Pada saat tak berdaya oleh malapetaka, mereka cenderung kembali kepada Allah, berjanji akan bersyukur jika selamat. Nyatanya, setelah selamat dari petaka mereka justru melupakan rahmat Allah itu dan kembali seperti semula.
Imam ar-Razi menyatakan:
إِنَّ الْإِنْسَانَ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ لَا يَطْمَعُ إِلَّا فِي فَضْلِ اللَّه وَرَحْمَتِهِ، وَيَصِيرُ مُنْقَطِعَ الطَّمَعِ عَنْ جَمِيعِ الْخَلْقِ، وَيَصِيرُ بِقَلْبِهِ وَرُوحِهِ وَجَمِيعِ أَجْزَائِهِ مُتَضَرِّعًا إِلَى اللَّه تَعَالَى
“Pada saat manusia berada dalam keadaan (tidak berdaya oleh musibah) ini, maka yang mereka harapkan hanyalah anugerah dan rahmat Allah. Dia sudah tidak punya harapan kepada makhluk yang manapun. Dia mengarahkan segenap perasaan, jiwa dan raganya, memohon kepada Allah Ta’ala. (Mafâtih al-Ghaib)
Konon, seseorang bertanya kepada Sayidina Ja’far as-Shadiq, “Jelaskanlah padaku bukti mengenai adanya Tuhan?”
“Apa pekerjaanmu?” tanya beliau.
“Berniaga melalui pelayaran.”
“Bagaimana pengalamanmu?”
“Suatu ketika, kapalku pecah di tengah samudera, akhirnya aku menyelamatkan diri dengan menaiki papan pecahannya. Saat itu datanglah angin badai.”
“Pada waktu itu apakah kau merasa tidak berdaya, lalu memanjatkan doa dalam hati?”
“Benar.”
“Doa yang kau panjatkan adalah bukti adanya Tuhanmu.”
Inilah sisi baik dari musibah. Pada saat tidak ada pilihan lain, maka jiwa manusia ‘terpaksa’ kembali kepada Allah. Sisi buruknya, kadangkala ada banyak orang yang justru menghadapinya dengan sikap putus asa dan sikap-sikap negatif lainnya.
وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ
Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. (QS ar-Rum [30]:36)
Jadi, dalam kondisi pandemi yang semakin tidak menentu ini, jiwa kitalah yang menjadi penentu. Apakah akan membuahkan spiritualitas; ataukah akan melahirkan keputusasaan, termakan hoaks dan prangsangka buruk, serta mencari kambing hitam?
Marilah bersikap positif. Pandemi adalah peluang besar untuk menumbuhkan spiritualitas. Dan, spiritualitas itu harus kita bangun melalui tiga hal. Yaitu: trilogi ikhtiar, doa dan tawakal. Tiga-tiganya harus seimbang agar melahirkan sikap yang baik, benar dan tepat. Jika ada yang kurang, maka pasti akan pincang. Jika pincang, maka akan goyah, dan selanjutnya runtuh.
Dahulukan prasangka baik terhadap pihak lain, tapi jangan abaikan sikap waspada. Pemerintah, tenaga kesehatan dan segenap pemegang kebijakan, insya Allah secara institusional, mereka memiliki tujuan yang baik. Tanpa mengabaikan adanya oknum yang mengeruk keuntungan pribadi atau kepentingan kelompok di balik musibah yang menimpa bangsa, kita husnuzhan bahwa kebijakan yang mereka ambil tujuannya adalah baik. Hanya saja teknis untuk mencapai tujuan yang baik kadangkala memang tidak tepat. Kadangkala, petunjuk teknisnya sudah tepat, namun realitas dan detail pelaksanaannya tidak sesuai dengan harapan. Selalu ada kekurangan dalam setiap sesuatu.
Sering-seringlah membayangkan diri kita berada dalam posisi mereka, maka boleh jadi kita akan memaklumi dan memahami, mengapa mereka mengambil langkah itu.
مَنْ أَرَادَ الْإِنْصَافَ فَلْيَتَوَهَّمْ نَفْسَهُ مَكَانَ خَصْمِهِ
“Kalau ingin bersikap obyektif dan adil, maka bayangkan dirimu berada di dalam posisi pihak lain.” (Ibnu Hazm al-Andalusi dalam al-Akhlâq was-Siyar)




