SALAH satu anugerah terbesar dalam hidup umat Islam adalah diberi kesempatan untuk menjalani Ramadan dengan segenap ibadah dan rutinitas unik di dalamnya. Hal itu bukan saja karena suasananya yang istimewa, namun lebih karena nilai plus yang melekat pada Ramadan itu sendiri: dilipatgandakannya pahala setiap ibadah dan amal kebaikan.
Karena itu, bagi umat Islam, tak ada bulan yang ditunggu-tunggu dengan gegap-gempita melebihi bulan Ramadan. Jauh-jauh hari sebelum Ramadan, mereka sudah merutinkan doa yang dibaca dengan penuh antusias: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan”.
Tentu, antusiasme menyambut Ramadan itu tidak hanya terwujud dalam doa-doa dan harapan semata, melainkan lebih dari itu juga dimanifestasikan dalam tindakan, sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah. Maka, para ulama pada khususnya dan umat Islam pada umumnya, telah merutinkan puasa sejak bulan Rajab dan Syaban sebagai bahan latihan menjalankan puasa di bulan Ramadan.
Jika persiapan-persiapan lahir-batin yang sedemikian rupa itu sudah dilakukan, maka ketika Ramadan benar-benar tiba, seharusnya kita sebagai umat Islam bisa benar-benar fokus menyemarakkan Ramadan dengan berbagai macam ibadah dan amal-amal kebaikan, berupa puasa, tadarus al-Quran, tarawih, sedekah dan lain sebagainya. Jika demikian halnya, maka Ramadan benar-benar semarak sebagaimana mestinya, dalam arti yang sebenarnya.
| BACA JUGA : MAULID DIANTARA BIDAH DAN MASLAHAH
Namun faktanya, apa yang semestinya terjadi sebagaimana dinarasikan di atas tidak pernah benar-benar mewujud dalam realitas Ramadan kita. Selama ini, Ramadan kita memang gegap-gempita dan meriah, dengan suasana yang begitu riuh. Namun kemeriahan Ramadan itu bukan disebabkan ibadah dan semarak amal kebaikan lainnya, melainkan lebih karena hal-hal duniawi yang jauh dari visi Ramadan itu sendiri.
Ramadan kita semarak dengan aktivitas perdagangan dan perbelanjaan yang memenuhi pusat-pusat keramaian. Para pedagang dan pembeli berkerumun di pusat-pusat keramaian mulai sejak sore hingga malam hari, mulai sejak ngabuburit di sore hari dan berlanjut hingga setelah Maghrib, melewatkan ibadah Tarawih dan tadarus al-Quran. Bahkan, suasana di pagi hari juga tak kalah ramai dengan berlalu-lalangnya anak-anak muda yang keluyuran kesana kemari; kegiatan yang tidak ditemukan korelasinya dengan Ramadan sama sekali.
Namun, kini kita menjalani Ramadan dengan suasana yang benar-benar berbeda. Ya, Ramadan kita saat ini masih diselimuti oleh pandemi. Tentu, kita masih dilarang untuk berkerumun dan mengadakan kegiatan yang mengumpulkan massa. Maka, tidak akan ada yang namanya keramaian di pusat pusat perbelanjaan, pusat-pusat takjil, dan pusat-pusat berkumpulnya muda mudi di sore dan pagi hari.
Barangkali, inilah salah satu hikmah di balik keberadaan pandemi yang masih belum usai ini. Pandemi ini memaksa kita untuk benar-benar fokus pada ibadah-ibadah Ramadan, meninggalkan berbagai kegiatan dan hal-hal tak perlu yang bisa merusak nilai ibadah kita di bulan suci ini.




