HIJRAH ke Yatsrib (Madinah) terjadi setelah Baiat Aqabah. Shahabat yang hijrah kali pertama adalah Mush’ab bin Umair al-Abdari dari Bani Abdid-Dar bin Qushai bin Kilab. Beliau ditugas untuk hijrah setelah Baiat Aqabah I tahun 11 dari kenabian, menemani dan mengajari shahabat Anshar peserta baiat, serta menyebarkan Islam di Yatsrib.

Orang pertama yang menyusul Mush’ab hijrah ke Yatsrib adalah Abdullah bin Ummi Maktum. Setelah itu Bilal bin Abi Rabah, lalu Sa’ad bin Abi Waqqash, lalu Ammar bin Yasir. Kemudian disusul oleh rombongan Umar bin al-Khaththab yang terdiri atas 20 shahabat yang terdiri dari keluarga beliau sendiri, serta orangorang lemah (mustadh‘afîn) yang mengandalkan keberanian Umar. Ini menurut pendapat yang menyatakan bahwa Umar hijrah secara terang-terangan, sehingga diikuti oleh kalangan mustadh‘afîn hingga sampai ke Yatsrib.

Menurut riwayat yang menyatakan bahwa Umar hijrah secara rahasia, diceritakan bahwa beliau hijrah berdua bersama ‘Iyasy bin Abi Rabiah hingga sampai ke Quba. Akan tetapi, mereka disusul oleh Abu Jahal dan adiknya, al-Harits bin Hisyam bin al-Mughrah. ‘Iyasy lantas dipaksa untuk kembali ke Makkah lantaran ibunya bersumpah untuk tidak akan bernaung di bawah atap sampai melihat ‘Iyasy kembali. Setelah berdialog dengan Umar, ‘Iyasy memutuskan untuk kembali ke Makkah bersama Abu Jahal dan al-Harits, satu hal yang tidak disarankan oleh Umar. Akibatnya, ‘Iyasy langsung ditahan sesampainya di Makkah.

***

Di Madinah, Umar dipersaudarakan dengan ‘Uwaim bin Sa’idah. Ada yang mengatakan dengan ‘Utban bin Malik. Versi lain menyebut nama Mu‘adz bin ‘Afra’. Bisa jadi, beliau memang dipersaudarakan dengan ketiga shahabat Anshar tersebut, namun di waktu yang berbeda.

Pada periode Madinah, Umar dipercaya menjadi pendamping paling dekat dengan Rasulullah, bersama dengan Abu Bakar ash-Shiddiq. Keduanya berperan sebagai wazir sekaligus penasehat yang banyak dimintai saran dan masukan oleh Baginda Rasul.

Umar terlibat dalam semua peristiwa bersejarah bersama Rasulullah. Beliau senantiasa mendampingi Baginda dalam setiap peperangan, perundingan, maupun dalam forum-forum diskusi yang diadakan oleh Rasul.

Umar tak pernah absen dalam setiap ghazwah yang dihadiri oleh Rasulullah. Sebaliknya, ketika Baginda Rasul mengutus pasukan (sariyah) untuk misi tertentu, Umar nyaris tak pernah dilibatkan, kecuali sekali saja. Persis seperti yang dialami oleh Abu Bakar ash-Shiddiq yang juga sekali memimpin pasukan sariyah. Hal ini menunjukkan bahwa kedua tokoh ini lebih dibutuhkan tenaga dan pikirannya di Madinah, mendampingi Rasulullah dan memberikan saran dan masukan berharga.

Umar memimpin sariyah beranggotakan 30 orang untuk memerangi Bani Hawazin di Turbah, arah tenggara Makkah dan Thaif. Sesampai di Turbah, Bani Hawazin ternyata sudah kabur begitu mendengar kedatangan Sariyah Umar.

Waktu itu, sang penunjuk jalan dari Bani Hilal menawarkan kepada Umar, “Apa kalian tidak tertarik untuk menaklukan Bani Khasy’am? Mereka sekarang sedang berpindah tempat tenggal karena desa-desa mereka kerontang.”

Tapi Umar tidak tertarik. Beliau menjawab ringkas, “Kami hanya diperintah untuk memerangi Hawazin di Turbah.”

BACA JUGA: KEISLAMAN UMAR BIN AL-KHATHTHAB RA

Peran dalam Ghazawât

Dalam setiap ghazawat yang melibatkan Baginda Rasul, Umar senantiasa memainkan peran penting dalam pasukan Islam. Berikut uraiannya:

1. Ghazwah Badar (17 Ramadan 2 H). Perang ini adalah perang kolosal pertama dalam sejarah Islam. Umar banyak menyumbang ide-ide berharga berkenaan dengan strategi perang dan keputusan yang harus diambil oleh Rasulullah selaku pimpinan pasukan. Termasuk syahid pertama dalam perang ini adalah Mihja‘, bekas budak Umar. Umar sendiri membunuh pamannya dari jalur ibu, yaitu al-‘Ash bin Hisyam. Umar lah yang berpendapat agar para tawanan Perang Badar dihukum mati. Ide ini berlawanan dengan pendapat Abu Bakar, dan lantas ditolak oleh Rasulullah. Akan tetapi, justru pendapat Umar lah yang dibenarkan oleh Allah melalui QS Al-Anfal: 67.

2. Ghazwah Uhud (7 Syawal 3 H). Dalam perang ini Umar menjalankan peran dan tugasnya dengan baik. Saat banyak pasukan Islam mundur ketika tersiar bahwa Rasulullah telah terbunuh, Umar termasuk di antara beberapa shahabat yang tetap bertahan melindungi Baginda Rasul. Di akhir perang, di tengah euforia karena merasa telah unggul atas pasukan Islam, Abu Sufyan menanyakan keadaan 3 orang: Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Abu Sufyan menyadari, bahwa kekuatan utama Islam terletak pada ketiga tokoh tersebut.

3. Ghazwah Bani Mushthalik (Syaban 6 H). Perang ini bukan perang besar, namun membekas di hati umat Islam karena seusai perang inilah, terjadi cobaan terbesar yang menimpa biduk rumah tangga Rasulullah. Umar, sama seperti shahabat lain, ikut marah atas tuduhan keji terhadap Sayidah Aisyah. Maka Umar meminta izin kepada Baginda Rasul untuk memenggal kepala Abdullah bin Ubai bin Salul, gembong kaum munafikin yang bertanggung jawab menyebarkan fitnah terhadap Sayidah Aisyah. Akan tetapi, Rasulullah tidak mengizinkan. “Wahai Umar, bagaimana jika kelak orang-orang membahas bahwa aku telah membunuh temanku?,” sabda Rasul.

4. Ghazwah Hudaibiyah (Dzul Qadah 6 H). Perjanjian Hudaibiyah berakhir dengan poin-poin yang sekilas sangat merugikan umat Islam. Umar termasuk shahabat yang paling getol mengkritisi poin-poin perjanjian tersebut. Namun seiring berlalunya waktu, terbukalah manfaat dan hikmah yang tersimpan di balik poin perjanjian Hudaibiyah yang tidak bisa dimengerti oleh shahabat. “Aku terus bersedekah, puasa, shalat, dan memerdekakan budak, sejak ucapanku waktu itu. Aku takut ucapanku berdampak buruk,” kata Umar suatu ketika.

5. Fathu Makkah (20 Ramadan 8 H). Menjelang keberangkatan pasukan Islam, Hathib bin Abi Balta’ah membocorkan rencana penaklukan Makkah kepada penduduk Makkah melalui surat yang diantarkan seorang perempuan. Setelah perempuan itu ditangkap oleh Ali bin Abi Thalib dan az-Zubair bin al-‘Awwam, maka jelaslah maksud sesungguhnya dari Hathib, bahwa ia tak bermaksud apapun, hanya ingin melindungi keluarganya di Makkah. Umar menganggap tindakan Hathib sebagai suatu bentuk kemunafikan. “Biar saya penggal kepalanya, wahai Rasulullah!” Rasulullah menjawab, “Ingat, Hathib adalah veteran Perang Badar. Bisa jadi Allah telah melihat pasukan Badar lalu berfirman, ‘Lakukan apapun sesuka kalian, Aku telah mengampuni dosadosa kalian’.”

6. Ghazwah Hunain (10 Syawal 8 H). Usai meraih kemenangan terbesar dengan menaklukkan Makkah, umat Islam kembali diuji dengan sebuah perang di sebuah lembah antara Makkah dan Thaif, melawan 30.000 pasukan dari Tsaqif dan Hawazin. Penaklukan atas Makkah membuat pasukan Islam terbuai kepercayaan diri yang berlebihan, apalagi jumlah mereka melebihi 10.000 pasukan. Dalam perjalanan menuju perkampungan Hawazin, resimen pertama di bawah komando Khalid bin al-Walid disergap di sebuah lembah sempit bernama Hunain. Mereka menyerang dari ketinggian dengan batu dan panah, membuat panik pasukan Islam hingga mereka mundur melarikan diri. Tak banyak yang bertahan bersama Rasulullah, kecuali sebagian kecil shahabat. Umar salah satunya.

7. Ghazwah Tabuk (Rajab 9 H). Misi militer ke Tabuk terjadi pada saat kemarau panjang dan wabah kelaparan melanda Madinah. Para pembesar shahabat menunjukkan keunggulan mereka dengan sumbangsih yang sangat besar, terutama Utsman bin Affan. Umar turut andil dengan menyumbangkan separuh hartanya. Sedangkan Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah.

Bersambung.

Moh. Yasir/sidogiri