Kota Basrah atau yang dikenal dengan Kota Kanal didirikan pada tahun 636 M di era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab. Pada tahun itu, pasukan tentara Islam yang mulai melakukan ekspansi di bawah komando Utbah bin Ghazwan berhasil menaklukkan wilayah itu dari kekuasaan Dinasti Sassaniyah. Di daerah yang awalnya bernama Vahestabad Ardasir itu, pasukan Islam berkemah.
Utbah bin Ghazwan adalah shahabat Rasulullah yang mampu menaklukkan dan merebut Ubullah dari cengkeraman tentara Persia dengan pasukan minimnya. Utbah termasuk angkatan pertama yang masuk Islam. Beliau adalah orang terakhir dari kelompok tujuh perintis yang dibaiat sambil menjabat tangan Rasulullah. Dia bersedia menghadapi orang-orang Quraisy yang sedang memegang kekuatan serta kekuasaan yang gemar berbuat zalim maupun aniaya.
Khalifah Umar bin Khaththab mengirim Utban ke Ubullah untuk membebaskan negeri itu dari pendudukan tentara Persia yang hendak menjadikannya sebagai gerbang dan menghancurkan kekuatan Islam yang sedang menyebar ke wilayah-wilayah Persia. Ketika hendak melepaskan pasukan Utbah, Umar berkata, “Berjalanlah engkau bersama anak buahmu hingga batas terjauh dari negeri Arab dan batas terdekat Negeri Persia! Pergilah dengan restu Allah dan berkah-Nya! Serulah ke jalan Allah Bagi yang mau dan bersedia dan bagi yang menolak hendaklah membayar pajak. Terhadap orang-orang yang menentang, maka pedang adalah bagiannya tanpa pilih bulu. Tabah menghadapi musuh serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu!”
Umat Islam lalu menjadikan Basrah sebagai basis pertahanan saat melawan Imperium Sassaniyah. Sejak itu, wilayah itu pun diberi nama Bashrah (bahasa Arab) yang berarti ‘’mengawasi’ atau ‘memantau’. Dari wilayah itulah, pasukan tentara Islam memantau pergerakan militer Sassaniyah.
Sejak dahulu kala, Basrah sangat terkenal dengan saluran atau kanal airnya. Menurut Ibnu Hauqal, pada abad ke-10 M, jumlah kanal yang ada di kota itu mencapai 100 ribu. Sebanyak 20 ribu di antaranya bisa dilalui kapal. Nahr Ma’kil merupakan saluran utama yang menghubungkan Bashrah ke Baghdad.
| BACA JUGA: MACAM OBAT HERBAL AMPUH TANGANI SAKIT PINGGANG
Kanal utama itu dibangun pada era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Sahabat Ma’qil bin Yasar adalah tokoh yang memimpin pembangunan kanal itu. Selain itu, kanal utama lainnya di kota itu adalah Kanal Ubullah yang menghubungkan Bashrah ke arah tenggara. Itulah mengapa, Bashrah kerap dijuluki Venesia Timur Tengah. Venesia adalah salah satu provinsi di Italia yang memiliki ribuan kanal. Sayangnya, era keemasan Basrah sebagai kota intelektual dan perdagangan tak bertahan lama. Memasuki akhir abad ke-10 M, perlahan namun pasti kejayaan Basrah yang sempat menjadi ‘obor peradaban’ itu mulai padam. Ada beberapa faktor yang menyebabkan, masa kejayaan Basrah meredup. Pertama, kota Bashrah yang tengah mengalami kemajuan yang pesat mulai rusak parah setelah pada tahun 953 M diserang oleh sekte Syiah Qaramithah selama 17 hari.
Meski begitu, setelah serangan itu Basrah bisa kembali pulih. Hal itu dibuktikan oleh kekasaksian seorang penjelajah Muslim bernama Nasir Khursaw. Menurut Nasir pada tahun 1052 M, Basrah merupakan kota yang padat. Dia melihat dinding kota yang dihancurkan sekte Syiah Qaramithah sudah diperbaiki. Meski begitu, tak sepenuhnya kerusakan akibat serangan itu bisa diperbaiki.
Kedua, padamnya kejayaan kota Bashrah juga terjadi akibat gempuran dan serangan membabi buta tentara Mongol. Pada gelombang penyerangan tentara Mongol yang pertama antara tahun 1219 M hingga 1222 M, Bashrah masih bisa selamat. Namun, dalam serangan kedua, Kota itu tak luput dari gempuran tentara Mongol. Basrah pun dihancurkan oleh serangan gabungan yang dilakukan tentara Perang Salib dengan Mongol.
Untuk menghancurkan metropolis intelektual dan perdagangan utama Islam para pemimpin Nasrani telah mengirimkan utusan khusus kepada Mongol. Mereka berkomplot untuk melakukan serangan gabungan terhadap kota-kota Islam. Basrah pun luluh-lantak ketika Baghdad pada tahun 1258 M dihancurkan pasukan Mongol di bawah komando Hulagu Khan. Penjelajah Muslim Ibnu Baththuthah, pada medio abad ke-14 masih menyaksikan puing-puing kehancuran Basrah.



