DINASTI SASSANIYAH, KEKAISARAN PERSIA TERAKHIR PRA-ISLAM
Pada tanggal 28 Mei 224 M, ArdashirI berhasil menaklukkan Artabanos IV dalam perang Hormozdgan, pertempuran klimaks antara dinasti Arsacid dan Sassaniyah yang terjadi pada tanggal 28 April 224. Kemenangan Sassaniyah mematahkan kekuasaan dinasti Parthia, yang secara efektif mengakhiri kekuasaan Parthia selama hampir lima abad di Iran dan menandai awal resmi dinasti Sassaniyah.
Ardashir I berhasil menciptakan “Kekaisaran Persia Kedua” yang diakui selama lebih dari empat abad sebagai salah satu dari dua kekuatan besar di Asia Barat dan Eropa. Dia dikenang sebagai raja teladan, seorang pembangun kota (tidak kurang dari delapan kota telah didirikan olehnya), seorang pembaru administrasi, dan konsolidator agama Zoroastrian. Ardashir I mengganti raja bawahan dengan putra dan kerabatnya sendiri, dan dia memusatkan pendapatan dan otoritas negara dengan mengembangkan birokrasi yang efisien dan dengan memperkuat militer.
Ditahun-tahun terakhirnya, Ardashir I menjadikan Shapur I, putra sulungnya, sebagai wakil bupati. Setelah Ardashir I turun takhta, Shapur I menggantikannya sebagai penguasa tunggal dan memerintah hingga tahun 270 M. Shapur I menganeksasi sebagian besar Armenia Romawi, mengangkat putranya sendiri, Hormozd I sebagai “Raja Agung Armenia”, dan merebut serta menjarah banyak kota di Suriah, Cilicia, dan Cappadocia. Akhirnya, pada tahun 260 ia menjebak dan menangkap kaisar Valerian dan seluruh pasukannya yang berjumlah 70.000 di dekat Carrhae. Semua dideportasi, bersama dengan banyak penduduk kota yang direbut, dan menetap di wilayah kerajaan di seluruh Iran. Karena kerajaannya sekarang memasukkan begitu banyak orang non-Iran, Shapur I meluaskan gelarnya menjadi “Raja Diraja Iran dan non-Iran” yang selanjutnya menjadi gelar adat penguasa Sassaniyah.
Penerus Shapur I, yakni Hormozd I, meninggal setelah pemerintahan singkat (270-271 M). Takhta diberikan bukan kepada putranya yang bernama Hormozdak, tetapi kepada saudaranya yang bernama Bahram Gelanshah (Bahram I). Bahram I memerintah pada tahun 271-274M. Dia adalah seseorang yang gemar berkelahi, berburu, dan berpesta.
Penerus takhta selanjutnya adalah Bahram II. Dia memerintah pada tahun 274-293 M. Di bawah kepemimpinan Bahram II, seni Sassaniyah mencapai penguasaan bentuk dan gaya yang realistis. Dia meninggalkan setidaknya tujuh relief batu di Persia. Peristiwa setelah kematian Bahram II diceritakan dalam prasasti dwibahasa Narseh yang diukir di dasar menara peringatan di Paikuli, Irak. Atas kematian Bahram II, beberapa bangsawan Iran memihak putranya yang bernama Bahram Saganshah (Bahram III) untuk menjadi raja. Namun, kelompok yang lebih besar memohon kepada Narseh (putra Shapur I yang menjadi Raja Agung Armenia) agar mendapatkan kembali “Farra”(kemuliaan yang diberikan Tuhan) dan kerajaan serta memulihkan takhta dan kehormatan leluhurnya serta membuat wilayah kekuasaan bangsa Iran aman. Narseh melengserkan Bahram III pada 293 dengan dukungan sebagian besar kaum bangsawan.
Dalam perang dengan Romawi, Narseh pertama kali memenangkan kemenangan besar atas Galerius Caesar, tetapi kemudian dikalahkan lagi olehnya. Perjanjian damai yang ditandatangani pada tahun 299 menyerahkan lima provinsi melintasi Tigris (Arzanes, Carduene, Zabdicene, Moxoene, dan Rehimene) ke Romawi, mengakui Tigris sebagai perbatasan kedua kekaisaran, memberikan wilayah Persia hingga benteng Zintha ke Armenia, dan menjadikan Iberia sebagai protektorat Romawi. Tidak lama setelah itu, Narseh meninggal. Putranya yang bernama Hormozd II (memerintah 302- 309) mendapat perlawanan di dalam negeri. Dia dibunuh di tempat terpencil dan kaum bangsawan membunuh ahli warisnya, memenjarakan putra kedua, membutakan putra ketiga, dan memproklamirkan putra bungsu, yakni Shapur II sebagai raja.
Di awal pemerintahannya, Shapur II memimpin ekspedisi hukuman melawan orang-orang Arab di padang pasir yang telah menyeberang ke Persia dan Khuzistan dan menghancurkan pusat kota dan pedesaan. Dia tanpa henti mengejar dan menghukum orang Arab dengan keras dan membangun parit Shapur, sebuah garis pertahanan di selatan Hira di sepanjang perbatasan selatan Mesopotamia. Shapur IImemerintah cukup lama, mulai tahun 309-379 M.
| BACA JUGA: PRIODE KHALIFAH UMAR; MENAKLUKKAN SASSANIYAH (1)
Penerus Shapur II, yakni Ardashir II cenderung memiliki toleransi beragama dan memiliki hubungan damai dengan tetangga, tetapi upayanya untuk menegakkan absolutisme kerajaan terus-menerus ditentang oleh para pendeta yang membenci raja-raja yang menoleransi agama Kristen atau kepercayaan lainnya. Selain itu, para bangsawan menolak segala upaya untuk mengekang kekhususan mereka sambil melihat dengan jijik raja mana pun yang menunjukkan kelembutan terhadap musuh domestik atau asing. Akibatnya, dari tahun 379 hingga sekitar tahun 530 M, kekaisaran menyaksikan krisis internal yang parah dan memuncak dalam pergolakan sosial. Para bangsawan menggulingkan Ardashir II ketika dia berbalik melawan para bangsawan. Kekuasaan Ardashir II hanya bertahan mulai 379-383 M. Para bangsawan itu juga membunuh Shapur III (berkuasa pada 383-388 M).
Putra Shapur III yang bernama Bahram IV (berkuasa pada 388-399 M) ditembak mati ketika mencoba menjinakkan komandannya. Wajar jika saudara laki-laki sekaligus penerusnya, Yazdegerd I (berkuasa pada 399- 420), tidak dapat mempercayai kaum bangsawan dan dengan tegas mencegah mereka mendapatkan pengaruh yang tidak semestinya dan mengikis otoritas kerajaan. Yazdegerd I sendiri dikenal sebagai seorang pemuda yang cerdas dan terpelajar. Dia memelihara hubungan persahabatan dengan Roma, bahkan bertindak sebagai wali dari anak kaisar Theodosius (Kaisar Romawi 379-395 M). Kebijakannya membuat marah para pendeta dan aristokrasi, sehingga mereka menuduhnya melakukan banyak kejahatan, menyebutnya sebagai pendosa dan membunuhnya di tempat terpencil. Para pendeta berkompromi dengan putra Saphur III yang bernama Bahram V. Bahram V berkuasa pada tahun 420-438 M.
Setalah Bahram V meninggal, takhta berpindah pada Yazdegerd II, seorang pemuda yang cerdas dan terpelajar. Selama masa pemerintahannya, ancaman nomaden meningkat. Dia memukul mundur invasi ke Kausasus dan membangun atau memperkuat pertahanan Persia di wilayah tersebut. Dia juga mengalahkan Chuls, suku Hun di sebelah timur Laut Kaspia, sebelah utara Gorgan, dan membangun benteng di wilayah mereka, yang disebut Shahrestan-e Yazdegerdy. Setelah beberapa kemenangan atas mereka, ia terpaksa mundur pada tahun 457.
Kematian Yazdegerd II meresmikan periode lain persaingan kerajaan dan feodal. Putra tertuanya, Hormozd III berkuasa pada 457-459), dibunuh oleh Bahram sang Mehran yang kemudian menobatkan putra angkatnya yang bernama Peroz I (berkuasa pada 459-484 M). Peroz I menghentikan pemberontakan di Albania, menghentikan invasi dari Kaukasus, dan mengalahkan Kidarite Hun, yang pindah ke tenggara dan menetap di Peshawar.
Pemegang takhta selanjutnya adalah Balash (memerintah pada 484-488 M), saudara kandung dan penerus dari Peroz I dari Persia (457–484) yang meninggal pada pertempuran melawan Hephthalite yang menyerang Persia dari timur. Pada masa kepemimpinan Balash, kekaisaran berada dalam masalah besar, sementara Balash tidak punya uang untuk membayar pasukan. Akhirnya, bangsawan yang dipimpin oleh Zarmehr dan Shapur the Mehran kehilangan kesabaran, lantas menggulingkan dan membutakan Balash, dan memilih Kavadh I, putra Peroz I, sebagai raja. Kavadh I naik takhta pada 488-496 M. Kavadh I berhasil memulihkan absolutisme kerajaan. Dia kemudian melembagakan kembali hak raja untuk memilih ahli warisnya dan membatasi peran tokoh terkemuka dan pendeta tertinggi.
Setelah kematian Kavadh I, putra tertuanya yang bernama Kaus merebut tahta, tetapi kaum bangsawan mematuhi wasiat mendiang raja dan membantu Khosrau I untuk menduduki tahta. Dia melakukan reformasi yang telah dimulai ayahnya, mengkonsolidasikan otoritas kerajaan melalui perpajakan langsung dan perluasan birokrasi pusat di setiap bagian kekaisaran, mengubah tuan feodal menjadi pejabat pemerintah pusat yang setia kepadanya.
Ketika Khosrau I meninggal karena sakit pada tahun 579 M, bangsawan tinggi dan pendeta berusaha untuk mendapatkan kembali kekuasaan tradisional mereka, tetapi mereka dengan tegas ditentang oleh penggantinya, yakni Hormozd IV. Dia adalah seorang raja yang berpendidikan tinggi, tetapi angkuh dan penuh kecurigaan. Hormozd IV membunuh saudara laki-lakinya sendiri, membunuh sejumlah besar pendeta tinggi dan pejabat senior, dan menolak tawaran perdamaian dari kekaisaran Bizantium, sehingga memperpanjang perang di front utara.
Cemburu akan keberhasilan Bahram VI di wilayah timur, Hormozd IV membuatnya dipermalukan dan dipecat, yang menyebabkan pemberontakan yang dipimpin oleh Bahram VI, yang menandai dimulainya perang saudara Sassaniyah tahun 589-591 M. Faksi lain, yang dipimpin oleh dua bangsawan lain yang tidak puas, Vistahm dan Vinduyih, memerintahkan Hormozd IV digulingkan dan dibunuh, dan mengangkat putranya Khosrow II sebagai raja baru. Khosrow II berkuasa antara tahun 590-628 M. Khosrow II inilah yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai Raja Kisra yang pernah dikirimi surat oleh Nabi Muhammad agar ia memeluk agama Islam.



