Terpaan fitnah yang mengarah kepada Islam dan umat Muslim hingga sekarang terus berdatangan. Penghinaan dan penistaan agama oleh umat lain dan orang-orang munafik gencar dilakukan. Sesama Muslim diadu domba sampai terjadi perseteruan di antara mereka. Contoh di Indonesia, ormas Islam seperti NU dan FPI dinarasikan sebagai organisasi antagonis, lembaga pendidikan dan dakwah Islam yang dinilai tidak sejalan dianggap saingan, bahkan lawan. Intinya, umat Muslim di Indonesia diupayakan agar tidak bisa menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) sehingga mudah diadu domba oleh kelompok lain yang pada akhirnya terpecah belah.
Tidak bisa dipungkiri bahwa berbeda-beda merupakan suatu keniscayaan. Setiap insan diciptakan tidak sama, berkelompok, bersuku-suku, memiliki prinsip, pikiran dan pandangan masing-masing. Kendati demikian, perlu kita sadari bersama bahwa perbedaan bukanlah sekat atau pembatas untuk menyatukan visi dan misi dalam memperjuangkan agama, bukanlah penghalang untuk saling bahu membahu dalam Izzul Islâm wal Muslimîn, bukanlah alasan untuk tidak saling bersinergi membangun kekuatan demi tegak dan tersebarnya ajaran Islam.
Setiap ormas Islam atau lembaga pendidikan dan dakwah memang memiliki dasar dan worldview masing-masing, namun yang melatarbelakangi munculnya dasar dan worldview itu tentu karena ingin memperjuangkan dan menyebarkan ajaran Islam. Nah, di situlah kesamaannya, yaitu sama-sama memiliki visi misi dan tujuan yang sama Li i’lâi Kalimâtillâh.
Oleh karena itu, mari kita kembali bersatu, kembali berjamaah. Dengan kita bersatu dan berjamaah, maka kekuatan umat Muslim akan semakin besar sebab Allah akan menjaga hamba-Nya yang berada dalam persatuan, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah:
يَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ. (رواه الترمذي)
“Penjagaan Allah berada di atas kebersamaan.” (HR at-Tirmidzi).
Hadis di atas mengisyaratkan bahwa Allah akan menjaga hamba-Nya yang selalu dalam kebersamaan dan kolektifitas, selalu berjamaah dan tidak terpecah belah. Allah akan menjaga dari adu domba, perselisihan dan perpecahan, menjaga dari ketersesatan dan penyimpangan dll. Tidak hanya itu, dalam hadis yang lain sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW pernah menyampaikan, umat Muslim yang selalu menjaga kebersamaan, tidak mengasingkan diri dari sebuah jamaah atau golongan mayoritas, maka ia akan mendapat tempat yang lapang di surga.
| BACA JUGA : KEMULIAAN ALLAH DI ATAS SEGALA-GALANYA
Demikianlah ciri khas umat Muslim Ahlusunah wal Jamaah, saling meneguhkan dan menguatkan, saling mencintai bukan saling membenci, bersatu dalam kebaikan, direkatkan sebab memiliki tujuan yang seragam. Rasulullah bersabda;
الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya.” (HR Imam Muslim)
Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami dalam Al-Fath al-Mubîn bi Syarhil-Arba’în menjelaskan mengapa sesama Muslim kemudian disebut saling bersaudara, yaitu karena mereka satu keyakinan, satu agama dengan menjadikan Allah sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad utusan-Nya. Bahkan, kata beliau, persaudaraan dalam keagamaan itu lebih agung dari pada persaudaraan secara kandung.
Maka, seyogianya umat Muslim kembali bersatu, bersinergi, berjamaah. Ketika umat bersatu, mengenyampingkan perbedaan dan mengutamakan persamaan, saling menguatkan dan meneguhkan, maka musuh-musuh Islam akan sulit merongrong ajaran Islam, melakukan penghinaan dan penistaan. Musuh-musuh Islam tidak akan mampu mengadu domba sebab persatuan umat Muslim. Oleh karena itu, mari kita terus tingkatkan persaudaraan, bersatu dan berjamaah supaya kita menjadi hamba yang selamat di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.




