Dalam suatu seminar, ada orang liberal yang menyatakan bahwa tujuan dari dihadirkannya kisah-kisah di dalam al Quran itu adalah untuk dijadikan ibrah, atau dijadikan pelajaran. Karena itu, tidak jadi masalah apakah kisah yang ada di dalam al-Quran itu fakta atau mitos. Sebab yang menjadi tujuan adalah bagaimana kita mengam bil ibrah dari sana. Bukan untuk membuktikan bahwa kisah itu adalah fakta, atau sesuatu yang benar-benar terjadi. Sebenarnya, pemikiran apa yang tersembunyi di balik narasi liberalis itu, dan bagaimana pula kita meresponsnya?
JAWABAN
Sebenarnya, pernyataan orang liberal semacam itu bukan hal yang baru sama sekali. Rata-rata pandangan sedemikian merujuk pada Muhammad Ahmad Khalafullah, seorang pemikir liberal Mesir, melalui bukunya yang kontroversial berjudul Al-Fann al-Qashash fil-Qur’an al-Karim. Dalam buku itu, Khalafullah membagi kisah al-Quran menjadi tiga macam, yaitu: kisah bercorak sejarah (al-qishshah at-tarikhiyyah), kisah bercorak perumpamaan (al-qishshah al matsaliyyah), dan kisah bercorak legenda atau mitos (al-qishshah al-usthuriyyah). Ketiga model kisah itu memiliki tujuan yang sama, yakni sebagai peringatan dan pelajaran (‘ibrah).
Mengatakan bahwa tujuan dari kisah kisah itu adalah ‘ibrah (untuk mengambil pelajaran dan atau sebagai peringatan) memang benar. Akan tetapi titik kekeliruannya terletak pada pernyataan bahwa “kisah-kisah dalam al-Quran itu tidak harus berangkat dari fakta, melainkan boleh berasal dari legenda atau mitos (usthurah). Poin tersebut jelas sesat dan menyesatkan, karena berarti menisbatkan suatu kebohongan pada kisah-kisah al-Quran, seakan al-Quran mengisahkan sesuatu yang
| BACA JUGA : JEJAK SADAH BA ALAWI (1)
tidak pernah terjadi, padahal al-Quran sendiri dengan tegas membantah hal itu, ketika orang-orang kafir menuduh al-Quran sebagai mitos-mitos orang-orang terdahulu (asathirul-awwalin). Bahkan, Allah berfirman yang artinya, “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Quran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf: 110). Dengan demikian jelas bahwa segala kisah yang tercantum dalam al-Quran harus diyakini sebagai fakta sejarah, sebab al-Quran sendiri mengatakan bahwa kisah-kisah itu “bukanlah cerita yang dibuat-buat”,bukan-fiksi,legenda,atau mitos.
Hanya saja, orang-orang liberal memiliki problem untuk meyakini kisah-kisah itu sebagai fakta, sebab dalam menilai kebenaran mereka hanya bersandar pada data-data empiris dan hukum sebab-akibat yang normal. Karena itu, jika mereka mendapati suatu kisah yang belum mampu dibuktikan secara empiris dan melampaui hukum sebab-akibat yang normal, seperti kisah-kisah mukjizat para utusan Allah dalam al-Quran, maka mereka segera mengklaim bahwa itu hanya sekadar mitos belaka. Bagaimanapun, pandangan sedemikian adalah kesesatan yang nyata.




