ULAMA KERAMAT YANG TAWADUK
Salah satu ulama Al-Azhar yang masyhur dengan keilmuannya dan akhlaknya adalah Syekh Fathi Abdurrahman Ahmad Hijazi. Syekh Fathi Hijazi lahir di Desa Thukh Distrik Qulyubiyah Mesir pada 1946 M. Sebelum belajar di Al-Azhar, Syekh Fathi Hijazi sudah hafal Al-Quran awal-akhir di bawah bimbingan Syekh Salim.
Saat umurnya beranjak dewasa, Fathi muda belajar di Universitas Al-Azhar.Di sinilah titik awal keluasan wawasan keagamaan Syekh Fathi mulai diketahui oleh banyak orang. Jelas, semua ilmu yang ia miliki tidak lepas dari guru-guru yang mendidiknya sepenuh hati. Di antara sosok yang membimbing beliau ialah Syekh Abdul Mun’im Al-Khafaji, Syekh Abdul Halim Mahmud, Syekh Muhyiddin Abdul Hamid, serta nama-nama besar lainnya.
Selain di dalam kampus, Syekh Fathi Hijazi juga aktif mengikuti kajian-kajian di majelis ilmu, semisal majelisnya Syekh Shaleh Jakfari, setiap Jumat di masjid Al-Azhar yang sekarang dikodifikasikan dalam kitab Darsul-Jumah, juga kepada Syekh Muhammad Abdurrahman Al-Kurdi, dan Syekh Salamah Al-Azami, Syekh Najmuddin bin Muhammad Al-Kurdi.
Karena ilmunya yang luas, takayal, banyak ulama pada masanya menyanjung beliau. Di antaranya sanjungan dari Syekh Muhammad Imran Ad-Dah, seorang mursyid Tarekat Idrisiyyah saat berkunjung ke Indonesia. Beliau menegaskan jika Syekh Fathi Abdurrahman Ahmad Hijazi merupakan pembesar wali Allah subhanahu wa ta’ala. Hal itu lantaran Syekh Fathi Hijazi merupakan santri dari guru-guru yang sangat alim kala itu.
Ada kisah menarik dari ulama Mesir satu ini yang bisa dijadikan contoh. Suatu hari, ketika Syekh Fathi Abdurrahman Hijazi tengah mengisi majelis taklim di masjid Universitas Al-Azhar, tentang keutamaan bahasa Arab dibanding bahasa-bahasa lain di seluruh dunia, tiba-tiba seorang syekh memakai jubah yang umurnya lebih muda ketimbang Syekh Fathi Hijazi, masuk ke dalam masjid. Sontak saja, beberapa jamaah yang ada di masjid langsung menghampirinya dan menyalaminya.
Ternyata syekh yang baru datang itu, tidak mengisi majelis juga di salah satu sudut masjid Al-Azhar, malah ikut nimbrung bersama mahasiswa yang tengah khusyuk mendengarkan ulasan ilmiah dari Syekh Fathi Hijazi. Melihat hal itu, Syekh Fathi Hijazi terkejut dan terdiam melihat ulama itu ikut majelis taklimnya. Beliau merasa segan kepada syekh itu, sebab duduk di lantai bersama santri-santri, sementara Syekh Fathi Hijazi duduk di kursi.
Setelah diam cukup lama, Syekh Fathi pun mempersilahkan syekh tersebut untuk duduk di sampingnya, tetapi syekh itu menolak dengan senyuman, dan mempersilahkan Syekh Fathi Hijazi untuk melanjutkan kajiannya. Syekh Fathi pun melanjutkan kajiannya dengan penuh antusias.
| BACA JUGA : YANG TERSISA DARI BAITUL HIKMAH
Setelah selesai pengajian, syekh itu langsung ke depan dan mencium tangan Syekh Fathi Hijazi, lalu Syekh Fathi pun membalas dengan mencium tangan syekh tersebut, kendati umurnya masih di bawahnya, tapi karena memuliakan ilmunya, Syekh Fathi Hijazi tidak sungkan mencium tangannya.
Sebagai seorang ulama, Syekh Fathi Hijazi tidak hanya piawai dalam memberikan penjelasan tentang ilmu-ilmu agama, tapi juga ada sisi lain dalam diri beliau, yakni sebuah kekeramatan. Bukti kekeramatan Syekh Fathi Hijazi terlihat saat ulama kelahiran Qulyubiyah ini berkunjung ke Indonesia, tepatnya ke Pondok Pesantren Attaujieh Al-Islamy, Leler, Randegan, Kebasen, Banyumas atas undangan khusus dari K.H. Zuhrul Anam Hisyam, atau Gus Anam.
Hadirnya beliau ke pondok pesantren asuhan Gus Anam itu mengundang banyak jamaah berdatangan dari berbagai daerah. Entah untuk baiat tarekat, meminta doa, ijazah sanad kitab, atau bahkan meminta nama untuk anak-anak mereka yang akan segera lahir.
Saat itu, ada dua orang yang meminta nama untuk anaknya kepada Syekh FathiHijazi. Dua orang tersebut bernama Fathurrahman dan Fukhuluddin. Fathurrahman meminta nama untuk cucunya, sementara Fukhuluddin meminta nama untuk anaknya.
Ketika keduanya menghadap dan mengutarakan niatnya, Syekh Fathi Hijazi mengatakan kepada Fathurrahman agar memberi nama cucunya dengan nama Abdullah. Alasannya karena nama itu merupakan sunah. Sementara pada Fukhuluddin, Syekh Fathi Hijazi menyarankan agar memberi nama anaknya dengan nama Khadijah sebab nama itu akan memberi keberkahan kepada rumah yang didiaminya.
Setelah mendapatkan nama dari Syekh Fathi, keduanya keluar dengan perasaab bimbang dan bingung lantaran jenis kelamin si jabang bayi masih belum diketahui. Kedua tamu itu pun menyuruh seorang perantara guna memintakan nama kembali kepada Syekh Fathi. Duanya-duanya minta dua nama laki-laki dan perempuan sekaligus. Namun, karena padatnya jadwal Syekh Fathi Hijazi di Indonesia, mereka berdua gagal mendapatkan dua nama sekaligus yang diinginkan.
Selang beberapa waktu, Fathurrahman dan Fukhuluddin dibuat tercengang dan kaget, sebab bayi yang lahir berjenis kelamin sama dengan nama yang diberikan oleh Syekh Fathi Hijazi. Akhirnya mereka berdua memberikan nama sesuai nama yang diberikan. Keduanya pun takjub melihat karamah itu dan henti-hentinya memuji Syakh Fathi Hijazi.
Demikianlah riwayat hidup dan keutamaan dari Syekh Fathi Hijazi. Seorang ulama yang berwawasan luas, low profile, menghormati para ulama sekalipun mereka lebih muda darinya serta memiliki karamah. Syekh Fathi Hijazi juga segan dan kagum terhadap ulama-ulama Indonesia, salah satunya kepada Mbah Maemon Zubair.




