MENUMBUHKAN MINAT & BAKAT PARA SANTRI
Nama Pesantren: Pondok Pesantren Miftahul Qulub
Alamat: Polagan Tengah, Polagan, Kec. Galis, Kabupaten Pamekasan
Tahun Berdiri: 1960 M
Pendiri: KH. Fadholi bin Sirajuddin
Jumlah Santri: 305
Pendidikan: RA, SD, MTS, MA, SMK, Madrasah Diniyah
Pulau Madura merupakan salah satu kepulauan di Jawa Timur yang sampai saat ini masih memegang erat akidah Ahlussunah wal Jamaah. Tentu hal ini tidak lepas dari perjuangan para masyayikh dan kiai yang selalu ikhlas dalam mengemban amanah untuk selalu mengayomi umat. Salah satu bukti nyata akan perjuangan mereka adalah berdirinya pesantren-pesantren yang siap untuk mengajari santri ilmu agama. Baik di kota maupun di pedalaman desa. Seperti salah satu pesantren yang berada di Pamekasan ini, Pondok Pesantren Miftahul Qulub. Meskipun berdiri di tengah persawahan, pesantren ini tetap eksis dan terus mengalami perkembangan setiap tahunnya. Kini, pesantren ini telah mencapai usia setengah abad lamanya.
KILAS SEJARAH
Pondok Pesantren Miftahul Qulub berdiri pada tahun 1960 M, lewat tangan seorang alim bernama KH. Fadholi Siraj. Jika dihitung, pesantren ini sudah berusia kurang lebih 62 tahun. KH. Fadholi sendiri sejatinya bukan asli penduduk Desa Polagan yang menjadi lokasi berdirinya pesantren ini. Beliau berasal dari Desa Bettet (salah satu desa di daerah Pamekasan), putra dari Kiai Sirajuddin bin Nashiruddin.
Kepindahan beliau ke Polagan sendiri dikarenakan ada permintaan dari salah satu wali santri untuk mengajarkan masyarakat sekitar Polagan tentang ilmu agama. Ketika bermukim di Desa Polagan, Kiai Fadholi tidak langsung membangun pesantren. Seperti halnya cikal-bakal pesantren pada umumnya, kiai mengamalkan ilmunya pada masyarakat sekitar. Mengisi pengajian atau tausiah keagamaan. Lalu beliau membangun sebuah masjid. Masjid tersebut lantas menjadi pusat beliau mengajar anak-anak setempat yang oleh orang tuanya dititipkan pada beliau untuk nyantri.
Lambat laun, masjid yang ditempati oleh Kiai Fadholi untuk mengajar, menyedot para generasi yang haus akan ilmu agama. Semakin hari santri Kiai Fadholi semakin bertambah jumlahnya. Baik yang datang dari masyarakat setempat maupun dari luar Kota Pamekasan.
Ketika Kiai Fadholi wafat, KH. Abdul Hamid Mu’in dari Bettet menggantikan kepengasuhan sementara sembari menunggu bakal mantu Kiai Fadholi, KH. Syafiuddin. Di samping itu, putra Kiai Fadholi ketika itu masih kecil-kecil dan masih berada dalam dunia pendidikan.
| BACA JUGA : KOMDOM SAAT HAID
Setelah menyelesaikan studinya di salah satu pesantren di Arab Saudi, KH. Syafiuddin kemudian ditunjuk sebagai pengasuh berikutnya. Pada tahun 1987 M, Madrasah Diniyah Ibtidaiyah yang dibangun oleh Kiai Fadholi diganti dengan Madrasah Diniyah Takmiliyah. Tujuan utama perubahan ini untuk mengantisipasi lonjakan santri yang semakin hari semakin banyak. Pada tahun ini juga berdiri Madrasah Diniyah Awwaliyah dan Wustha.
Pada tahun 1991 M, KH. Mukri Fadholi, salah satu putra Kiai Fadholi telah menamatkan studinya di beberapa pondok pesantren di Jawa timur. Saat itulah Kiai Syafiuddin selaku menantu Kiai Fadholi menyWWerahkan sepenuhnya pimpinan pondok pesantren dan juga pengolaan pendidikan Miftahul Qulub kepada Kiai Mukri. Atas usaha keras Kiai Mukri serta dukungan masyarakat, pada tanggal 10 Januari 1992 diresmikanlah gedung pondok pesantren sebanyak 20 lokal.
Tahun 1996 M, Kiai Mukri mendirikan pondok pesantren di daerah Blega, Bangkalan. Sejak saat itu kepemimpinan di Pondok Pesantren Miftahul Qulub diserahkan sepenuhnya kepada KH. Abdul Mannan, adik dari Kiai Mukri sendiri. Pada tahun 2017 M, Kiai Abdul Mannan berpulah ke rahmatullah setelah 21 tahun mengemban amanah kepengasuhan. Setelah itu, kepemimpinan pesantren kembali diemban oleh Kiai Mukri sampai sekarang.
JENJANG PENDIDIKAN
Jenjang pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Qulub terbagi menjadi dua: formal dan non-formal. Pada jenjang formal, pesantren ini menyediakan 5 jenjang pendidikan: RA (setara dengan TK), SD, MTS, MA, dan SMK. Sedangkan di non-formal, jenjang pendidkan meliputi: Shifir, Ibtidaiyah, Madrasah Diniyah Awwaliyah dan Wustha.
Meskipun memiliki jenjang pendidikan formal, Pendidikan Agama Islam menjadi kurikulum utama di pesantren ini. Kegiatan keagamaan pun turut menjadi kepadatan bagi para santri. Kegiatan dimulai dengan shalat Shubuh berjamaah pada jam 04:30 WIB yang wajib diikuti oleh semua santri. Setelah shalat Shubuh berjamaah, santri di jenjang selain Wustha diwajibkan berada di masjid untuk mengikuti pengajian al-Qur’an, sementara santri di jenjang Wustha mengikuti pengajian kitab yang langsung di asuh oleh pengasuh.
Pukul 07.00 WIB, para santri wajib mengikuti KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) sesuai dengan tingkatan masing-masing. Kegiatan dilanjut pada siang hari di jenjang Ibtidaiyah. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 02.00-04.00 WIB. Sepulang dari madrasah, para santri langsung diwajibkan untuk shalat Ashar berjamaah di masjid.
Pukul 05.30 WIB, shalat Maghrib berjamaah yang kemudian dilanjut dengan pengajian al-Quran dan pengajian kitab. Setelah shalat Isya’ berjamaah, barulah para santri mengikuti KBM di Madrasah Diniyah (MADIN) sesuai dengan jenjang masing-masing. Kegiatan ini dilaksanakan pukul 08.00-10.15 WIB, kemudian dilanjut dengan musyawarah hingga pukul 11.00 WIB.
Di samping belajar agama, para santri juga dilatih tampil bekerja dengan nmenekuni salah satu sektor keterampilan nyang khusus disediakan bagi para santri. Hal ini dimaksudkan agar nantinya para santri biasa bekerja dan tidak menggantungkan nasibnya pada bantuan orang lain alias bisa mandiri. Adapun bentuk keterampilan yang diajarkan meliputi sektor pertanian, tata boga (memasak), perkoperasian, pengobatan tradisional, serta pijat refleksi.





