Akidah laksana akar bagi tegaknya syariat. Setinggi apapun pohon menjulang, bila akar tidak kuat menghunjam, maka akan mudah tumbang. Karena itulah, tema akidah selalu menjadi perhatian utama para ulama sejak dulu. Terutama ketika akidah sesat semakin menyebar luas di tengah-tengah umat. Ratusan kitab dikarang untuk mengungkap, menyingkap, sekaligus menjawab kebatilan akidah sesat tersebut. Setiap kitab lumrahnya merupakan bentuk respon terhadap keyakinan sesat yang berseliweran di sekitar lingkungan si penulis pada zaman itu. Ada yang berbentuk penguatan akidah yang benar, ada pula yang berupa jawaban atau penjelasan langsung mengenai akidah sesat tersebut. Di Indonesia, salah satu kitab yang langsung menyasar tema-tema akidah tertentu adalah kitab al-Ma’man minadh-Dhalalah karya Hadhratus-Syaikh KH. A. Nawawi bin Abdul Djalil, pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri.
Kitab ini terdiri dari dua jilid dengan empat belas bab pembahasan. Setiap jilid memuat tujuh bab. Secara umum, model penulisan dan penempatan tema pembahasan mirip dengan kitab-kitab fatwa. Di pendahuluan, disebutkan bahwa penulisan kitab ini dilatarbelakangi oleh permintaan sebagian sahabat beliau untuk membahas beberapa tema akidah yang sering menimbulkan salah paham di tengah-tengah masyarakat.
Bab pertama berisi pembahasan mendalam mengenai muatan arti di balik kalimat tauhid yang diawali dengan uraian per kalimat beserta ruang lingkup pemahamannya. Sebagaimana Imam as-Sanusi dalam kitab Ummul-Barahin, beliau juga mengulas tentang terangkumnya akidah lima puluh dalam kalimat tauhid secara detail dengan susunan bahasa ala ulama Tauhid. Bagi kalangan yang masih mempertanyakan asal muasal akidah lima puluh, sangat disarankan untuk menelaah bagian ini. Di bab kedua, tema pembahasan berkisar tentang kalimat tahmid (Alhamdulillah) beserta kajian komparasi antara beberapa istilah lain dengan arti serupa secara linguistik. Tema ini kemudian diulas kembali beserta uraian tentang kalimat basmalah, shalawat, dan salam pada Rasulullah di bab keenam. Di bab ketiga, porsi kajian agak berat karena mengulas tentang masalah takdir. Diruntut dari hadis yang menjelaskan bahwa takdir baik dan buruk berasal dari Allah hingga beberapa ayat yang mengerucut pada penguatan tentang sifat Wahdaniyat fil-Af’al. Di juz kedua, kajian ini semakin dipertajam dengan uraian tentang ikhtiar hamba dalam amal perbuatannya di bab kesebelas dan ulasan mendalam tentang takdir dari sudut pandang yang sedikit berbeda di bab terakhir. Bab keempat berisi penjelasan tentang Kalamullah yang qadim, sedangkan bab kelima membahas dalil keberadaan (sifat wujud) Allah. Juz pertama ini ditutup dengan bab ketujuh yang mengulas tentang Wihdatul–Wujud yang sering disalahpahami banyak orang, kemudian disempurnakan dengan penjelasan mengenai Hulul dan Ittihad di bab ketiga belas.
| BACA JUGA : MENGAPA ALIRAN SESAT BISA BOOMING?
Di juz kedua, tema pembahasannya adalah sepenggal ayat yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan menyalahi janji.” Definisi serta perbedaan antara syariat, tarekat, dan hakikat diulas mendetail di bab kesembilan. Penjelasan ini penting diketahui mengingat tingginya animo masyarakat untuk mempelajari ilmu tasawuf, tetapi kadang tidak diimbangi pemahaman yang utuh tentang syariat. Di bab kesepuluh, beliau mengurai sumber sekaligus pengertian suatu maqalah terkenal, yaitu “Barang siapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.” Kemuskilan pemahaman mengenai penyebutan sebagian dosa dengan sebutan kufur diurai di bab kedua belas.
Dengan keseluruhan tema pembahasan di atas, kitab ini tak ubahnya benteng yang melindungi akidah umat dari berbagai akidah menyimpang, khususnya di Indonesia. Baik itu dari Wahabi, Syiah, Liberal, aliran Kebatinan, maupun beberapa sekte yang mengadopsi ajaran Muktazilah dan Khawarij, kendatipun tidak ada satu bab pun dalam kitab ini yang menyebut langsung nama aliran sesat tersebut. Kajian berbobot di bidang tauhid karya ulama Indonesia ini merupakan bentuk kepedulian penulis yang sangat tinggi terhadap akidah umat Islam, terutama di Indonesia, sehingga sangat patut masuk daftar bacaan dan layak mengisi rak-rak buku di rumah kita.




