TIDAK ada kepastian tentang kapan persisnya Lailatul Qadar tiba. Al-Quran dan hadis pun tak menjelaskan tentang hal itu. Hakikat hari atau tanggal terjadinya Lailatul Qadar tetaplah menjadi misteri. Kondisi ini menyimpan hikmah, salah satunya agar semua orang tekun beribadah sepanjang Ramadan tanpa mesti terikat waktu tertentu.
Namun demikian, Rasulullah memberi semacam kisi-kisi tentang kapan datangnya Lailatul Qadar. Pesan
itu tampak dari hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim yang memerintahkan umat Islam berburu Lailatul Qadar pada sepuluh terakhir bulan Ramadan. Rasulullah sendiri meningkatkan intensitas ibadah malam
hari pada sepuluh hari terakhir itu, bahkan sampai membangunkan keluarganya.
Hadis lain yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dari Aisyah mengatakan, “Carilah Lailatul Qadar itu pada malam malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan).” Lailatul Qadar sebagai pengalaman spiritual juga pernah dirasakan oleh para shahabat Nabi. Ibnu Umar mengaku bermimpi sebagaimana mimpi-mimpi shahabat lain bahwa Lailatul Qadar terjadi pada tujuh hari terakhir.
Berdasar kisi-kisi informasi di atas, para ulama kemudian berusaha meneliti pengalaman mereka dalam menemukan Lailatul Qadar. Menurut keterangan dalam kitab Fathul-Qarib, Hasyiah Al Bajury, dan Fathul-Mu’in beserta I’anatuth Thalibin, Imam Syafii menyatakan bahwa Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh akhir Ramadan, lebih-lebih pada malam ganjilnya, dan yang paling diharapkan adalah pada malam 21 atau 23 Ramadan.
| BACA JUGA : PERTARUNGAN IDENTITAS
Di antara ulama yang menyatakan bahwa ada kaidah untuk mengetahui malam Lailatul Qadar adalah Imam Abu Hamid al-Ghazali (450-505) dan Imam Abul Hasan as Syadzili. Tentang kaidah menandai Lailatul Qadar ala Imam al-Ghazali ini, setidaknya ada dua versi penjelasan. Namun, keduanya mengajukan teori yang sama bahwa Lailatul Qadar bisa diterka dari hari pertama bulan Ramadan. Versi pertama tercatat dalam kitab I’anatuth Thalibin dan Hasyiyatul-Jamal, sementara versi kedua bisa dijumpai keterangannya dalam Hasyiyah al-Bajury.
Versi pertama, jika awal Ramadan jatuh pada hari Ahad atau Rabu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke Jika awal Ramadan jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21. Jika awalnya jatuh pada hari Selasa atau Jumat maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27. Jika awalnya jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25. Jika awalnya jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23. Kaidah ini mendapat testimoni dari Syekh Abul Hasan As-Syadzili. Ia mengatakan, “Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah meleset dari jadwal atau kaidah tersebut.”
Versi kedua, jika awal puasanya Jumat maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29. Jika awal puasanya Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21. Jika Ahad maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27. Jika Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29. Jika Selasa maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25. Jika Rabu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27. Jika Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada sepuluh akhir malam-malam ganjil.
Kalau kita lihat, awal Ramadan 1442 H ini akan jatuh pada hari Selasa, 13 April 2021 M, berdasarkan kalender yang diterbitkan Pondok Pesantren Sidogiri (untuk kepastiannya menunggu sidang itsbat dari pemerintah). Bila mengacu pada kaidah Imam al-Ghazali dalam menerka jatuhnya Lailatul Qadar maka kita akan jumpai dua kesimpulan yang berbeda, tergantung rujukan mana yang kita gunakan:
Jika merujuk pada kaidah Imam al-Ghazali versi pertama dalam kitabI’anatuth-Thalibin dan Hasyiyatul-Jamal maka Lailatul Qadar pada bulan Ramadan 1442 H ini jatuh pada malam ke-27 atau Sabtu malam, 8 Mei 2021 M. Jika merujuk pada kaidah Imam al-Ghazali versi kedua dalam kitab Hasyiyah al Bajuri maka jatuh malam ke-25 atau Kamis malam, 6 Mei 2021 M.
Kaidah ini merupakan ijtihad dan pengalaman spiritual personal, jadi sangat wajar bila ulama lain memiliki versi hitungan yang berbeda. Tentang hakikat kepastian kebenarannya, jawaban terbaiknya hanya Allah yang paling tahu. Karena itu, walaupun titik pusat konsentrasi ibadah Ramadan boleh diarahkan sesuai dengan kaidah tersebut, para ulama menyarankan untuk terus mencari malam yang penuh kemuliaan itu di malam atau tanggal apa saja.




