PENDAKWAH ISLAM PERTAMA DI PULAU JAWA
GRESIK lekat dengan julukan Kota Santri. Adanya petilasan tokoh-tokoh penting penyebar Islam di Pulau Jawa membuat nama Gresik cukup dikenal. Sebut saja Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri, dua anggota Wali Songo yang namanya tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai penyebar Islam di Nusantara. emas sejarah sebagai penyebar Islam di Nusantara. dikenal di kalangan para peneliti sejarah Islam. Masa hidupnya jauh sebelum Wali Songo. Sebagian penulis menjulukinya “Leluhur Wali Songo”, mengingat masa hidupnya lebih dulu empat abad sebelum Wali Songo.
Selain keduanya, sosok Siti Fatimah binti Maimun juga banyak dikenal di kalangan para peneliti
sejarah Islam. Masa hidupnya jauh sebelum Wali Songo. Sebagian penulis menjulukinya “Leluhur Wali Songo”, mengingat masa hidupnya lebih dulu empat abad sebelum Wali Songo. Rasanya kurang lengkap berziarah ke Gresik tanpa mengunjungi situs yang
satu ini, bangunan kuno yang menjadi bukti tertua masuknya Islam di Nusantara. Kompleks makam ini berada di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Letaknya kurang lebih sembilan kilometer di barat Kota Gresik. Akses ke lokasi cukup mudah; setelah keluar dari tol Manyar, pengunjung cukup berjalan kurang lebih 2 km ke arah barat. Lalu di sebelah kiri jalan ada gapura penanda lokasi makam Siti Fatimah binti Maimun.
Saat ini kompleks makam Siti Fatimah binti Maimun sudah memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Mulai dari area parkir yang luas, kamar mandi yang bersih, hingga pendopo sebagai tempat peristirahatan dan mushala. Memasuki kompleks makam kita akan disambut oleh sepasang gapura kuno berbentuk mirip candi. Lalu kita akan melewati jalan setapak menuju bangunan utama, lokasi makam Siti Fatimah binti Maimun.
| BACA JUGA : MANUSIA DAN PERKARA GAIB
Selanjutnya, di sisi kanan dan kiri jalan kita akan menemukan dua buah makam yang cukup panjang. Masing-masing adalah makam Raden Said dan Raden Ahmad. Menurut juru kunci, keduanya adalah penjaga dan penerima tamu Siti Fatimah binti Maimun semasa hidup. Setelah itu, kita akan melihat sebuah papan bertuliskan, “Mintalah pada Allah.” Mengingatkan setiap peziarah agar senantiasa meluruskan niat saat berziarah.
BANGUNAN UTAMA MAKAM
Bangunan makam Siti Fatimah berbentuk cungkup persegi, menyerupai candi. Luasnya kurang lebih 4×6 meter, dan tingginya sekitar 8 meter. Bangunan ini dibangun dengan batu kapur yang konon diambil dari bukit kapur di Desa Suci. Warnanya tetap dibiarkan putih, tanpa polesan cat, agar tetap bertahan keasliannya. Beberapa bagian tampak sudah berlumut. Hanya saja bangunan ini masih terlihat kokoh.
Bangunan utama dikelilingi oleh pagar batu setinggi pinggang orang dewasa. pintu masuknya terbuat dari kayu dengan ukuran yang relatif rendah. Konon pintu ini memang dibuat sedemikian agar peziarah yang ingin masuk membungkuk dan menundukkan kepala sebagai lambang penghormatan kepada pemilik makam.Pintu masuk bangunan utama biasanya memang dikunci. Apabila peziarah ingin memasuki bangunan makam, bisa menghubungi juru kunci makam.
Bangunan makam ini dilengkapi ventilasi-ventilasi kecil untuk menjaga kesegaran udara di dalam bangunan. Menurut pengalaman kami, udara di dalam bangunan ini akan tetap dingin dan sejuk, meskipun cuaca di luar sedang terik. Di dalam bangunan ini terdapat lima buah makam. Makam paling istimewa adalah makam Siti Fatimah binti Maimun. Makam ini ditutupi kain berwarna hijau. Sedangkan empat makam lain adalah makam saudara-saudaranya, yaitu Putri Seruni, Putri Keling, Putri Kucing dan Putri Kamboja. Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa mereka adalah dayang atau pelayan Siti Fatimah.
| BACA JUGA : DUA JUMATAN DALAM SATU DESA
KOMPLEKS MAKAM PANJANG
Kompleks makam ini, selain dikenal dengan kompleks Makam Siti Fatimah binti Maimun, juga sering disebut sebagai kompleks Makam Panjang. Pasalnya, di sana terdapat beberapa makam yang memiliki ukuran jauh lebih panjang dari makam pada umumnya. Di depan, sempat kami singgung dua buah makam yang berukuran panjang. Selain keduanya, ada beberapa makam lain yang juga memiliki ukuran panjang. Seratus meter di sebelah timur bangunan utama terdapat enam buah makam yang ukuran panjang. Enam
makam tersebut berada dalam dua kompleks, masing-masing kompleks dikelilingi oleh pagar batu kapur.
Kompleks yang pertama berisi tiga buah makam. Masing-masing adalah makam Sayid Kharim, Sayid Djakfar dan Sayid Syarif. Menurut penuturan juru kunci mereka adalah paman Siti Fatimah binti Maimun.
Sedangkan di kompleks kedua terdapat makam Sayid Jalal dan Sayid Jamal. Selain itu terdapat satu makam
lagi di luar dua kompleks tersebut, yaitu makam Sayid Jamaluddin. Mereka bertiga adalah para prajurit Sultan Mahmud (ayah Siti Fatimah binti Maimun) yang diberi kuasa untuk memegang dan mengurus barang-barang pusaka pada masanya.
Menurut keterangan juru kunci,sebenarnya ukuran tubuh mereka sama saja dengan ukuran tubuh manusia pada umumnya. Panjangnya ukuran makam menjadi lambang bahwa menyebarkan Islam adalah sebuah proses dan perjalanan yang panjang.
SEKILAS SEJARAH SITI FATIMAH
Berdasarkan penuturan juru kunci makam Siti Fatimah binti Maimun adalah putri dari Sultan Mahmud Mahdad Alam dari Kedah Malaka. Dia datang bersama rombongan keluarga dan para prajurit untuk berdakwah. Setelah sampai di Jawa, Siti Fatimah sering dipanggil dengan nama Putri Dewi Retno Swari.
Menurut cerita yang beredar Siti Fatimah wafat di usia 18 tahun, karena terserang wabah taun. Keempat dayang yang menyertainya juga wafat karena sebab yang sama. Bencana taun itu terjadi hanya selang satu tahun setelah kedatangan Siti Fatimah binti Maimun di Pulau Jawa. Berdasarkan Prasasti Batu Nisan Leran yang ditemukan di kompleks makam, banyak ahli sejarah menyimpulkan bahwa Siti Fatimah wafat pada hari Jumat bulan Rajab tahun 475 H atau 1082 M. Hanya saja saat ini batu nisan tersebut telah diamankan di Museum Trowulan Mojokerto.




