Istilah ‘generasi milenial’ muncul untuk menciptakan perspektif bahwa anak-anak muda saat ini semuanya merupakan generasi cemerlang, generasi yang patut dibanggakan. Akan tetapi, hal semacam ini apakah bisa dibenarkan mengingat juga banyak anak-anak muda yang akhlaknya kurang baik, pendidikannya tidak menentu. Apakah anak-anak demikian bisa dikategorikan sebagai generasi milenial? Berikut hasil wawancara Ahmad Rizqon dari Sidogiri Media dengan Habib Muhammad bin Anies Shahab, salah satu ulama muda yang sangat eksis berdakwah di kalangan remaja.
Bagaimana menurut Habib tentang generasi milenial?
Akhir-akhir ini, di mana-mana tema generasi milenial marak diperbincangkan. Namun, perlu diketahui generasi milenial yang sebenarnya itu siapa? Generasi milenial itu bukan mereka yang hanya hidup gaul tanpa ada harakah yang bermanfaat, bukan mereka yang hidup penuh gaya, bukan mereka yang kesehariannya bersenang-senang saja. Akan tetapi, generasi milenial itu, menurut hemat saya ada dua, pertama generasi yang mengarah pada duniawi, dan kedua yang mengarah pada keagamaan. Generasi milenial yang mengarah pada duniawi ya mereka yang berkecimpung pada keduniaan, seperti bisnis dan semacamnya. Sedangkan yang mengarah pada keagamaan adalah mereka yang mau diajak berjuang membela agama, mau diajak menyebarkan ajaran Islam.
Nah, sekarang, anak-anak milenial yang mau ikut berjuang membela agama ini harakahnya sangat luar biasa, terutama yang berada di kota-kota besar, seperti Jogja, Bandung, Jakarta dan sebagainya. Mereka mempunyai gerakan yang sangat luar biasa untuk mengenalkan ajaran Islam kepada semua kalangan, tidak hanya pada kalangan yang sudah paham ajaran Islam, akan tetapi juga pada pemuda dan pemudi yang minim, atau bahkan tidak tahu ajaran Islam, anak-anak yang hidup modern di perkotaan.
Ada sejumlah contoh tentang generasi milenial saat ini. Pertama, di Jogja ada sebuah komunitas remaja yang bernama ‘Love Masjid’. Mereka adalah anak-anak muda yang sebetulnya minim ilmu agama, namun mempunyai ghirah dan semangat yang cukup tinggi untuk menghidupkan masjid. Aktivitas keseharian mereka adalah mengikuti pengajian setiap malam dan membersihkan masjid-masjid sekitar pada jam 03.00 Wib dini hari, dengan membawa peralatan lengkap dan tanpa meminta imbalan. Dengan gerakan semacam ini, banyak orang yang akhirnya ikut membantu, bergotong royong dalam kebaikan, membersihkan masjid agar umat Muslim betah untuk beribadah.
Kedua, ada pula ustaz-ustaz yang berdakwah dengan tanpa membatasi yang menghadiri pengajian harus pakai kopyah, harus pakai sarung, harus pakai jilbab. Mau pakai celana silahkan, hanya pakai kaos tidak masalah, yang penting tetap sopan. Kenapa demikian? Karena ini salah satu cara anak-anak milenial untuk mengenalkan ajaran Islam pada mereka yang hidupnya tidak seperti kita, audiennya adalah orang-orang yang biasa hidup di kota, mahasiswa, musisi, grup band, anak-anak skater, klub basket dan sebagainya. Tentu, gaya hidup dan pakaian mereka berbeda dengan pakaian ala santri. Karena itu, ustaz-ustaz tadi tidak membatasi pakaian untuk datang kepengajian, tidak ada ketentuan busana untuk menghadiri majelis ilmu. Yang penting hadir, yang penting mengikuti pengajian terlebih dahulu. Sebab, jika ada batasan dan ketentuan, maka akan sedikit orang yang mendatanginya.
Ketiga, generasi milenial yang mengenalkan Islam melalui video. Bila ada yang menghina Islam mereka langsung bergerak, mereka langsung membuat video yang mengkonter hinaan terhadap Islam. Sehingga, dakwah mereka tidak hanya dengan mengkaji kitab kuning semata, akan tetapi juga respek terhadap persoalan-persoalan yang kian berkembang, dan dakwah mereka dengan metode demikian mengena ke seluruh kalangan.
Yang harus dilakukan oleh generasi milenial?
Banyak hal sebetulnya yang harus dilakukan oleh generasi milenial. Namun, setidaknya ada dua yang sangat urgen, pertama, memperkuat ukhuwah. Di Indonesia ini banyak suku, banyak aliran. Ada yang suka tahlilan, ada yang tidak. Ada yang suka maulid, ada yang tidak. Nah, semua itu harus saling respek, tidak boleh saling sikut, saling menghina, saling menjelek-jelekkan. Sebab, sekarang Indonesia dirongrong oleh orang-orang di luar Islam. Kalau kita masih saja bermasalah antar sesama, maka orang-orang di luar Islam akan merasa senang. Jadi, yang paling fundamental harus dilakukan anak-anak Muslim milenial itu adalah memperbaiki ukhuwahnya sambil menambah ilmu agama.
Kedua, menghadiri kajian-kajian keilmuan, kajian-kajian yang bermanfaat, bukan yang menghina pada yang lain. Sebab, persoalan saat ini sangat kompleks. Merekalah yang nantinya menjadi pendakwah, ustaz dan ustazah yang menyebarkan ajaran Islam. Mereka adalah Syubbânul-Yaum, Rijâlul-Ghad (pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari). Jadi, keilmuan agama mereka harus mumpuni, tidak boleh setengah-setengah.
Harapan Habib pada anak-anak muda
Harapan saya, mereka semakin banyak mengajak teman-temannya untuk hijrah pada yang lebih baik, lebih giat menghadiri pengajian, lebih giat mempelajari ilmu agama. Sebab, dengan memiliki ilmu mereka bisa mengajak pada yang lain. Contoh, sepuluh anak muda belajar ilmu agama dan sering menghadiri pengajian, setelah itu satu persatu dari mereka mengajak anak muda yang lain. Dengan demikian, lambat laun akan ada banyak anak muda yang mengerti agama.
Terutama para santri. Setelah berhenti dari pesantren, diharapkan mereka semangat memperjuangkan agama, mengajak anak-anak muda dan masyarakat untuk hijrah menjadi lebih baik. Jangan hanya bangga dengan tradisi-tradisi yang sudah marak di tengah kita. Kita jangan sampai kalah dengan remaja yang giat dan aktif memperjuangkan agama.
Kalau kita lihat anak-anak milenial di luar itu lebih bagus pergerakannya dari pada kita. Kita berbangga diri dengan adanya pengajian, merasa cukup dengan hadirnya orang ke pengajian. Akan tetapi, anak-anak milenial di luar itu target capaiannya bukan hanya itu. Mereka berupaya agar orang-orang yang tidak suka pengajian itu berubah menjadi suka, yang malas menghadiri pengajian dan tempat-tempat kajian itu mau hadir, yang tidak tahu nilai-nilai Islam menjadi tahu. Nah, inilah baru dikatakan pencapaian.
Sedikitnya ada empat tingkatan target mereka. 1. Golongannya asatidz, orang yang aktif dengan pengajian, 2. Santri, orang yang memang senang dengan pengajian, 3. Orang yang tidak tertarik menghadiri pengajian, namun mereka baik-baik saja, tidak menyalahkan pengajian, dan 4. Orang-orang yang benci dengan pengajian. Nah, yang menjadi target anak-anak milenial sekarang itu yang nomor 3 dan 4, orang yang enggan menghadiri pengajian dan orang yang tidak suka dengan pengajian. Bagaimana sekiranya suporter sepak bola senang dengan majelis taklim, bagaimana sekiranya anak-anak skater senang dengan pengajian, bagaimana sekiranya anak-anak band, musisi dan yang lain senang dengan majlis-majlis keilmuan. Inilah yang menjadi target anak-anak generasi milenial saat ini.
Baca juga: Inspirasi Muslimah Masa Kini




