SEBAGAI penerus keturunan, anak juga disebut buah hati. Anak juga disebut amanat ilahi, karena ia sebagai titipan Allah untuk dibesarkan dan dididik agar mengenal agama dan paham tata sosial lingkungannya. Ada metode dalam Islam yang cukup ampuh mengenalkan anak pada yang akan dihadapinya, yaitu melalui shalat berjamaah.

Sebagaimana maklum, shalat berjamaah adalah bagian dari Islam yang menggabungkan sisi ibadah dan sosial. Shalat sebagai ibadah mahdhah kemudian dilakukan secara berjamaah yang mengharuskan mushalli melibatkan orang lain dalam pelaksanaannya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik dan Imam Muslim dari Ibnu Umar, sebuah hadis berbunyi:

صَلاةُ الجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاةِ الفَدِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَاتٍ

 “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, dengan jaminan 27 derajat.” (HR Imam Muslim)

Besarnya keutamaan shalat berjamaah tidak perlu penalaran yang rumit, juga tidak butuh argumen untuk menguatkan. Ketika status shalat telah ditetapkan sebagai tiang agama, ketika dilakukan secara bersama, tentunya secara logis ia akan semakin kuat dan kokoh. Hikmah-hikmah yang terpendam juga semakin dirasakan, bukan hanya oleh individu akan tetapi oleh setiap komponen masyarakat yang melakukannya.

Semasa hidupnya, Rasulullah tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah. Bagi sebagian ulama, shalat berjamaah menjadi aktivitas yang tidak bisa ditinggalkan. Hatim al-Asham pernah bercerita: ”Suatu kali aku tidak shalat berjamaah, ternyata Abu Ishaq al-Bukhari melawat dengan berbela sungkawa. Andaikan anakku meninggal niscaya lebih sepuluh ribu orang akan berkabung untukku, karena musibah agama (meninggalkan shalat berjamaah) lebih ringan bagi mereka dari pada musibah kemanusiaan (kematian anak).”

Pernah pula Maimun bin Mahran, penguasa Iraq, mendatangi sebuah masjid yang sepi dari jamaah. Seorang mendatanginya dan memberitahu bahwa orang-orang telah membubarkan diri. Spontan ia berucap; “Innâ Lillahi wa Innâ ilaihi râji’un, keutamaan shalat (berjamaah) ini lebih aku senangi daripada menjadi pemimpin Iraq.”

Kemudian, apa sajakah keutamaan yang terpendam dalam shalat berjamaah, sehingga berpahala 27 kali lebih besar? Apa motivasi orang-orang shalih berlomba-lomba melakukannya? Tentunya, angka 27 ini tidak sekadar simbol “kelebihan”, akan tetapi lebih dari itu, ia menyiratkan keberagaman keutamaan yang dijanjikan bagi pelakunya. Bukan hanya pahala yang bermanfaat baik bagi setiap individu yang shalat berjamaah, tetapi juga memancarkan hikmah-hikmah lain di luar ibadah mahdhah (murni), seperti aspek pembetukan mental spiritual personal dan aspek realitas sosial.

Lantas apa hubungannya dengan pendidikan anak? Saat anak kita ajak shalat berjamaah, dalam pikirannya akan tersadar bahwa shalat teramat penting dalam kehidupannya. Mengajak ikut serta berarti juga melakukan aksi sosial dalam keutamaan berjamaah, sekaligus memahamkan mereka bahwa beribadah harus meraih yang paling tinggi fadhilah-nya.

Selebihnya, seorang anak secara alami akan belajar melalui hikmah-hikmah yang terselip dalam aktivitas shalat berjamaah. Berikut ini lima hal yang bisa diselami sang anak saat bersama orangtua atau bersama komunitas masyakarat sekitar di masjid atau mushallah. Pertama, anak akan belajar arti kebersamaan dan persatuan. Sebagaimana diketahui, dalam aturan shalat berjamaah disunatkan untuk merapatkan barisan antar jamaah. Hal ini memberi hikmah akan pentingnya kebersamaan dan persatuan. Jamaah shalat yang berada di bawah satu atap dan menghadap ke satu arah untuk bermunajat pada satu tuhan: Allah, dapat melahirkan kebahagiaan hakiki dengan saling kenal antar jamaah dan mengikat persaudaraan.

Secara tersirat sikap seperti ini berfungsi merekatkan hubungan sosial dalam kelas-kelas yang beragam di masyarakat: antara atasan dan bawahan; pemimpin dan rakyat; si kaya dan si miskin. Bukan hanya merekatkan hubungan emosional antar sesama, tapi juga berfungsi mematikan potensi munculnya keretakan masyarakat. Berkumpul untuk satu tujuan yang luhur, merupakan ‘ruh’ bagi terciptanya solidaritas persaudaraan di kalangan masyarakat, serta terjalinnya kasih sayang yang dinamis antar-individu.

Berkumpul lima kali dalam sehari-semalam, akan mengarahkan jiwa-jiwa manusia pada satu titik: menunaikan ritual ibadah serta memposisikan diri sejajar antara pimpinan dan rakyat, majikan dan buruh, yang kuat dan yang lemah. Berjamaan bisa menjadi media membentuk komunitas teguh dalam emosional yang kuat. Sebab ikatan emosional biasanya terbentuk melalui kontinuitas kontak atau seringnya melakukan hubungan. Semakin sering berhubungan, masing-masing individu dapat memahami karakter dan watak lainnya.

Semua ini di alami anak secara natural, sebagaimana ia belajar mengamati apa yang terjadi di lingkungan keluarganya. Ia akan tahu sosok ustadz, ketua RT dan orang-orang yang hadir saat itu dengan segala profesi dan jabatan. Semua menyatu tanpa ada skat perbedaan.

Kedua, anak dapat belajar arti kesetaraan di hadapan Allah. Sebagaimana diketahui, dalam shalat tidak ada sekat yang memisah. Semua Muslim harus menghadap ke arah yang sama di belakang imam. Ini merupakan prinsip utama dalam ajaran Islam. Artinya, tidak ada perbedaan status jamaah kecuali hanya ketakwaan diri masing-masing (QS al-Hujurât [49]: 13). Takwa merupakan hak masing-masing individu yang tidak ditentukan oleh kelompok.

Shalat berjamaah yang menganjurkan merapatkan diri dan meluruskan barisan, dapat menghilangkan sekat fanatisme individual ataupun ras. Jarak personal rapuh dan musnah ditelan kukuhnya ikatan ukhuwah Islamiah. Kebersamaan dalam shalat berjamaah bisa menghindarkan rasa terisolir, terpencil, terkucil atau tereliminasi dari kelompok mayoritas. Lebih dari itu, berjamaah juga memberi kesempatan pada pemimpin negara untuk mengetahui kondisi rakyatnya secara langsung. Rakyat bisa mengadukan keluhan atau protes dari tindankan pemimpin lalim.

Sikap seperti ini merupakan falsafah hidup yang bersinggungan dengan sesama. Ia mengajarkan nilai-nilai persamaan, kesetaraan hak manusiawi, serta saling memahami satu sama lain. Untuk mengatasi terjadinya hal negatif antar jamaah, dalam shalat jamaah juga disunahkan mandi memakai parfum terlebih dahulu. Maka makruh shalat bagi orang yang habis makan makanan berbau tak sedap, semacam bawang merah dan lain sebagainya. Mulut bau rokok yang mengganggu konsentrasi jamaah lainnya juga masuk kategori ini.

Sekali lagi, semua hikmah yang dijelaskan tadi biasanya di alami anak dibawah alam sadar mereka. Bisa jadi, pada tahap awal dia tidak menyadari. Namun dengan kontinuitas berjamaah, semuanya akan mengalir apa adanya dalam benak anak. Selanjutnya, sisi positif yang harus dipelajari anak dalam shalat berjamaah, akan diulas pada edisi berikutnya, Insya-Allah. Bersambung..

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri