الأكوانُ ظاهرُها غِرَّةٌ وباطنُها عِبْرَةٌ فالنَّفْسُ تَنْظُرُ إلى ظاهرِ غِرَّتِها والقَلْبُ يَنْظُرُ إلى باطنِ عِبْرَتِها
Dunia itu bungkusnya dapat menipu, sementara isinya dapat kita ambil pelajaran. Nafsu melihat pada bungkusnya yang menipu. Sementara hati melihat pada isinya yang menjadi pelajaran.
Bahwa dunia yang kita lihat, memiliki dua dim ensi yang berbeda. Dimensi dzahir dan dimensi batin. Dimensi dzahir adalah apa yang kita lihat dan dapat menggoda nafsu, menipunya lalu menjerumuskannya. Sedangkan dimensi batin adalah sesuatu yang samar, tapi masih bisa dilihat oleh akal yang berfikir dan hati yang merenung.
Sebelum kita melanjutkan pembahasan, perlu kita samakan pemahaman terlebih dahulu, bahwa nafsu yang mudah tertipu dengan dunia adalah nafsu hayawaniyah yang ada pada manusia. Nafsu ini yang juga terdapat di dalam diri semua hewan. Nafsu yang mengajak pada keserakahan, pertikaian dan kerusakan. Bukan nafsu yang tenang yang mendekatkan diri pemiliknya pada Allah.
Selain itu, yang dimaksud dengan dunia di sini tidaklah semua isi dunia. Sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk keberlangsungan hidup dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memenuhi semua tuntutan kewajiban dari Allah, tidaklah termasuk ke dalam dunia seperti yang dibahas oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam kalam hikmah kali ini.
Kita tahu bahwa semua orang Islam membutuhkan tempat dan rumah untuk bermukim, memastikan keamanan serta ketenangan hidupnya. Butuh keluarga untuk saling menjaga, mengingatkan dan menolong. Butuh pada rezeki untuk menghidupi diri dan orang-orang yang wajib dinafkahi. Butuh pada banyak hal agar dapat menunaikan semua perintah Allah serta menjahui segala yang dilarangnya.
Sangat maklum dalam kaidah Ushul Fikih, “Sesuatu yang tanpanya tidak akan sempurna sebuah perkara wajib, maka hukumnya juga wajib. Dan sesuatu yang tanpanya tidak akan sempurna perkara sunah, maka hukumnya juga sunah”. Oleh karenanya, semua yang dibutuhkan manusia demi keberlangsungan hidupnya, keberlangsungan orang yang menjadi tanggungannya, atau dibutuhkan demi menunaikan semua yang Allah perintahkan guna menggapai rida-Nya, semua itu adalah sesuatu yang memang harus diupayakan sesuai dengan tuntunan yang ada. Maka dunia semacam ini tidak masuk dalam pembahasan kali ini.
| BACA JUGA : MENIKAHI PEREMPUAN HAMIL
Sebaliknya dunia yang akan kita bahas adalah dunia yang melebihi kadar kebutuhan di atas. Dunia yang bukan lagi kewajiban, juga bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dunia ini yang bungkusnya berupa tipuan, sementara isinya dapat diambil pelajaran (peringatan).
Maksudnya bagaimana? Mengapa ketika nafsu melihat pada bungkus dunia yang tampak adalah tipudaya? Sedangkan hati ketika melihat pada isinya akan dapat mengambil pelajaran berharga?
Jawabannya sederhana. Karena nafsu yang ada pada diri manusia hanya bisa melihat pada apa yang terjadi saat ini. Apabila saat ini nikmat, menyenangkan, dan dapat memberi kepuasan, maka nafsu akan condong padanya. Tanpa memperhatikan efek negatif di masa mendatang. Oleh karenanya, ketika nafsu dihadapkan dengan dunia yang ada, maka yang dilihat adalah kesenangan dan kenikmatan semata. Cara melihat nafsu yang demikian pendek ini pasti membuatnya terpedaya dengan dunia dan segala pernak-perniknya.
Ini tidak sama dengan cara pandang hati dalam melihat dunia. Hati dapat melihat jauh ke depan, bahkan melihat pada kehidupan setelah kematian. Hati dapat dengan bijak melihat dunia dan gemerlapnya, lalu mengambil pelajaran dan keputusan terbaik demi kebaikan masa depan. Dengan cara pandang seperti ini, tentu yang didapatkan oleh hati adalah pelajaran berharga, bukan malah terpedaya.
Dan mau tidak mau, dua cara pandang ini pasti dimiliki setiap manusia. Karena selain dibekali nafsu, manusia juga dibekali hati. Tinggal pihak mana yang lebih kuat pengaruhnya, maka dia yang akan memenangkan pertarungan dalam diri seorang hamba. Bila nafsunya yang menang, yang dilihat hanya kesenangan sesaat tanpa memikirkan masa depan yang akan datang, maka dia pasti terpedaya dengan rayuan duniawi. Namun bila hatinya yang menang, dunia yang ada di hadapannya akan dilihat sebagai pengingat dan pelajaran berharga bagi dirinya. Sehingga tindak tanduknya di dunia tidak akan melampaui batas aturan syariat.
Tidakkah kita ingat ketika manusia masih kecil. Di saat kehidupan kita hanya soal bermain dan bermain. Seakan-akan tidak ada kebaikan selain bermain. Maka ketika kita memiliki mainan baru, kita akan sangat bahagia. Kita akan memegangnya siang dan malam. Bahkan menyimpannya dengan baik atau membawanya tidur bersama. Karena pada saat itu kita tidak pernah berfikir panjang ke depan. Yang ada di dalam pikiran kita hanya menghabiskan hari ini untuk bermain, dan menyiapkan hari esok untuk kembali bermain.
Ketika kita sudah bertambah ilmu dan pengalaman. Kita mulai berpikir jangka panjang. Ada cita-cita dan harapan yang harus kita wujudkan. Maka nafsu untuk bermain seperti yang pernah kita alami dulu hilang dengan perlahan. Malah kita bisa mengambil kesimpulan besar ketika nafsu ingin kembali bermain, bahwa ada hal lain yang lebih berharga untuk diperjuangkan. Dan memperjuangkannya tidak dengan main-main, melainkan dengan pengorbanan yang berdarah-darah.
Dua cara pandang yang saling bersebrangan, antara nafsu dan hati. Padahal objek yang dilihat sama, yaitu dunia dengan tanda kutip di atas. Semoga kita semua dijaga oleh Allah dari nafsu yang terus mengajak pada kecintaan dan kenikmatan dunia.




