Muslimah mana yang tidak ingin tampil menawan menjadi istri idaman bagi suami terkasihnya. Wanita yang dari ujung ubun sampai ujung kakinya bak permata cantik yang berkilauan membelai mata, tentunya memiliki sifat senang untuk dimiliki sebagai pilihan satu-satunya dan selalu berharap untuk diperhatikan selama-lamanya. Dengan segenap sifat kelembutan dan kemanjaannya itu, bisa dipastikan semua wanita berharap tampil istimewa dan memikat jiwa di dalam pandangan dan hati kekasih halalnya.
Islam, dalam hal ini telah memberikan bocoran perihal bagaimana menjadi Muslimah ideal, yang anggun lagi menawan, tampil dengan bingkai yang amat mapan, hingga berstatus menjadi istri paling idaman. Aduhai lelaki mana yang tidak bahagia jika kebetulan dalam lembaran hidupnya, ia dikaruniai seorang pendamping yang berkomitmen memiliki prinsip menjadi istri idaman jiwa.
Berkenaan dengan hal ini, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya seputar kriteria menjadi istri mulia idaman suaminya. Sesuai riwayat hadis dari Shahabat Abu Hurairah, Nabi Muhammad bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ قَالَ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إنْ نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إنْ أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, dikatakan bahwa Rasulullah pernah ditanya: Ya Rasulullah, siapakah wanita yang paling baik? Rasulullah kemudian menjawab: wanita yang membahagiakan suaminya ketika dilihat, menaatinya ketika diperintah, dan tidak menyalahinya dalam diri maupun hartanya dengan perkara yang tidak ia suka. (HR An-Nasa’i).
Muslimah, poin yang bisa kita tangkap dari hadis ini seenggaknya ada tiga bagian:
Pertama, membahagiakan sang suami
Istri yang baik menurut Nabi yang pertama adalah tampil menawan menyenangkan hati suaminya. Bagi yang kebetulan sudah berstatus menjadi istri, ini seolah menjadi reminder untuk kembali flashback mengingat ikrar cinta yang pernah terucap dari lisan manisnya. Bahwa dulu, di awal-awal memasuki pintu akad bersama suaminya, ia pernah berikrar akan setia menjadi pendamping hidup di kala suka maupun duka. Ikrar ini menandakan bahwa ia siap membahagiakan separuh napasnya. Saat bahagia, istri menjadi penenang jiwa dan saat mendung duka tiba, istri tersenyum mencoba menjadi pelipur lara.
Sementara bagi Muslimah yang jomblo masih happy dengan kesendiriannya, kriteria pertama ini seakan menjadi kado istimewa yang sejak sekarang bisa ia penuhi dengan hadiah setia untuk selalu menemani sang suami, hadiah sabar tatkala nafkah dari suami tidak sesuai dengan isi hati, dan hadiah cinta yang banyak tak terkalkulasi. Sehingga, apabila kado itu penuh dengan segala macam hadiah terbaiknya, kelak, ketika ia berstatus menjadi istri hakiki, ia benar-benar siap menjadi pendamping hidup yang suka maupun duka tetap akan berusaha membahagiakan sang suami.
| BACA JUGA: PERANG TALAS SEJARAH KEMUNCULAN INDUSTRI KERTAS DALAM ISLAM
Hadis di atas sederhana, bahwa membahagiakan seorang suami tidak harus menggelontorkan harta benda, membahagiakan suami tidak perlu berbusana yang mahal, dan membahagiakan suami tidak harus mentraktir banyak makanan. Nabi hanya menganjurkan, hendaknya seorang istri membahagiakan seorang suami dengan senyum ramahnya, membahagiakan suami dengan tutur kata lembutnya, dan membahagiakan suami cukup dengan sikap manjanya. Sekiranya suami tersenyum saat melihatnya, itu sudah cukup membuat dia masuk sebagai istri mulia idaman hati suaminya. Oleh karena itu, Syekh Zainuddin al-Malibari mengungkapkan bahwa cantik itu sebenarnya sederhana, cukup bisa membahagiakan suami saat melihatnya, itu sudah dikatakan cantik alami yang sesungguhnya.
Kedua, menaati perintah suami
Maksudnya adalah, seorang Muslimah yang berstatus menjadi istri maka ia harus sadar diri bahwa kini, tanggung jawab kehidupannya pindah tangan beralih kepada suaminya. Ia tidak lagi hidup mengikuti apa maunya sendiri, tetapi juga hidup dengan mengikuti apa kata suaminya. Ibarat pelaksanaan ibadah shalat, istri adalah makmumnya, sedang suami adalah imamnya. Sampai kapan pun juga, makmum harus tunduk dan ikut serta pada gerakan-gerakan imamnya.
Nah, potret taat kepada perintah suami di sini serupa dengan pelaksanaan ibadah shalat. Bahwa istri yang berstatus makmum itu harus patuh dan ikut kepada imamnya, ia tidak boleh mendahului imamnya, tetapi suami yang berstatus imam tersebut juga tidak boleh semena mena juga. Artinya, kalau makmum menjumpai ada perkara yang tidak cocok dengan aturan agama maka ia boleh berlepas diri dari imamnya. Sama, jika kebetulan istri melihat ada perintah suami yang menyalahi syariat agamamaka ia boleh bahkan wajib ingkar dan menghindar tidak mengerjakannya. Nabi Muhammad bersabda:
“Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat. Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang baik” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Poinnya adalah, selama perintah suami tidak berupa kemaksiatan, istri wajib mengikuti apa kata suaminya. Ketika seorang suami bekerja memeras keringat di bawah terik mentari yang panas misalnya, lalu saat lelah ia pulangmeminta diambilkan air putih untuk mengobati sedikit dahaganya, kemudian sang istri tersenyum ramah dan manja menyambutnya, dan bergegas diri segera mengambil air putih permintaan suaminya, maka di sanalah letak posisi yang pas seorang istri dikatakan istri anggun lagi menawan, baik hati dan pengertian, mengantarkannya dua langkah menjadi istri paling idaman.
Ketiga, menjaga diri dan harta suami
Terakhir, kata Nabi, istri yang baik adalah ia yang rasa setianya menembus ruang dan waktu. Maksudnya adalah, ketika kebetulan sang suami tercinta keluar mencari nafkah, lalu si istri diam di dalam rumah, maka ia akan berkomintmen kuat untuk terus menjaga kesucian dirinya dan menjagaharta benda suaminya. Syekh Ahmad Abdurrahman al-Banna, dalam kitabnya Al-Fathu ar-Rabbani li Tartîbi Musnad al-Imâm Ahmad bin Hanbal asy-Syaibâni mengatakan bahwa maksud menjagadiri bagi seorang istri shalihah di sini adalah tidak melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan hati suami tidak menyukainya, seperti saat suami keluar, istri tidak berkumpul dengan lelaki lain, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Adapun maksud menjaga harta suaminya adalah dengan cara tidak membelanjakannya pada hal-hal yang bukan menjadi kebutuhan primernya.
Nah, itulah tiga poin utama yang apabila seorang Muslimah bisa memenuhinya, ia pantas ditahbiskan sebagai istri anggun lagi menawan dan tampil menjadi istri yang paling idaman. Semoga bisa.



