Nama Pesantren: Pondok Pesantren Al-Munawwariyah
Alamat: Jl. Raya Bakalan, Sudimoro Krajan, Sudimoro, Kec. Bululawang, Kab. Malang, Jawa Timur
Tahun Berdiri: 28 Juli 1983 M
Pendiri: KH. Muhammad Maftuh Sa’id
Pengasuh sekarang: KH. Muh. Agus Fahim Maftuh
Jumlah Santri: 2.300-an
Pendidikan: SD, SMP, SMA, SMA, Madrasah Diniyah (I’dadiyah, Ibtidaiyah, Wustha)
Seiring berkembangnya zaman, pesantren-pesantren di Indonesia memiliki kemajuan yang signifikan. Mulai dari sektor pembangunan , kurikulum pendidikan, serta program-program unggulan yang dianggap mampu membawa daya tarik tersendiri bagi para wali santri. Seperti salah satu pesantren yang ada di Kabupaten Malang ini, Pondok Pesantren Al-Munawwariyah. Pesantren yang kini menginjak usianya yang ke-39 tahun ini memilki visi mencetak para penghafal al-Quran.
KILAS SEJARAH
Pondok Pesantren Al-Munawwariyah didirikan oleh KH. Muhammad Maftuh Said pada tanggal 7 Syawal 1402 H/ 28 Juli 1983 M, berlokasi di Desa Sudimoro, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang. Kiai Maftuh sendiri sedari awal tidak ada keinginan untuk mendirikan sebuah pesantren. Bermula pada awal tahun 1980-an, di mana Kiai Maftuh diminta oleh salah satu keluarga beliau yang pada waktu itu menjabat sebagai Sekda Kabupaten Malang, Bapak Achmad Fauzi, untuk menetap di Desa Sudimoro. Keinginan tersebut muncul ketika Bapak Fauzi melihat dan mengamati secara langsung bahwa Desa Sudimoro termasuk desa yang sangat minus khususnya dalam hal pendidikan dan agama. Akhirnya, Kiai Maftuh menerima dan mengemban amanah tersebut dengan harapan dapat memajukan pendidikan yang berada di Desa Sudimoro.
Pada mulanya, Kiai Maftuh hanya menyewa sebuah rumah kecil bersama keluarga di depan kompleks pesantren saat ini. Kiai Maftuh dan keluarga kemudian membantu masyarakat sekitar belajar al-Quran dan ilmu agama pada malam hari. Sedari awal Kiai Maftuh dengan keluarga memang dikenal dengan ‘keluarga al-Quran’. Semua putra-putri Kiai Said (ayah Kiai Maftuh) semua memiliki basic penghafal al-Quran. Bahkan salah satu santri Kiai Maftuh mengatakan bahwa beliau sudah bisa mengkhatamkan hafalannya pada umur 9 tahun, usia yang relatif muda bagi penghafal al-Quran.
Di pagi harinya, Kiai Maftuh membantu anak-anak tetangga yang hendak bersekolah untuk menyeberang jalan. Pada masa itu pesantren belum berdiri, dan jenjang pendidikan di daerah tersebut hanya SD yang berlokasikan di depan dhalem Kiai Maftuh.
| BACA JUGA : KISAH AL-QURAN HANYA DONGENG?
Lambat laun, aktivitas Kiai Maftuh terdengar dan diketahui oleh Bapak Fauzi. Akhirnya Bapak Fauzi mendirikan SD di belakang kediaman Kiai Maftuh. Jenjang inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya pesantren.
JENJANG PENDIDIKAN
Setelah berdirinya SD, mulailah berdiri beberapa jenjang pendidkan yang lain. Hingga kini, jenjang pendidikan di Al-Munawwariyah terbilang banyak. Meliputi pendidikan formal; SDN III, SMP, SMA, serta SMK Al-Munawwariyyah. Pendidikan informal yaitu Madrasah Islamiyyah Al-Munawwariyah (MIM) dengan beberapa jenjang; I’dadiyah, Ibtidaiyah, dan Wustha. Dan juga ada kegiatan nonformal, mencakup; Dirasatul–Quran, Tahfidz al-Quran, Mutalaah Kutub at-Turast (Kajian Kitab Klasik), dan Lembaga Pendidikan Bahasa Asing (LPBA).
PROGRAM TAHFIDZ AL-QURAN
Meskipun memiliki jenjang yang berbeda-beda, semua santri yang bermukim di Pondok Pesantren Al-Munawwariyah memiliki kegiatan khusus menghafal al-Quran. Sebagaimana tujuan awal didirikan, pesantren ini memiliki visi untuk mencetak santri yang berbasiskan al-Quran. Sekarang, pesantren ini memiliki santri kurang lebih 2.300-an, yang mana banyak di antara mereka masih remaja, bahkan banyak pula yang masih kanak-kanak. Program ini menjadi program unggulan di Pondok Pesantren Al-Munawwariyah.
Banyak wali santri yang sowan kepada Kiai Maftuh dengan tujuan menitipkan anaknya belajar mengahafal al-Quran di pesantren ini. KH. Hasan Abdullah Sahal, Pengasuh Pesantren Gontor pun memondokkan putranya ke sini. Konon, putra Kiai Hasan berhasil menghafal al-Quran 30 juz hanya dalam waktu 15 bulan.
KEGIATAN EKSTRAKULIKULER
Pesantren Al-Munawwariyah tidak hanya fokus dalam program tahfidz al-Quran saja, pesantren ini juga berkeinginan untuk lebih berperan aktif dalam peningkatan sumber daya manusia yang memiliki nilai kompetensi tinggi, menguasai iptek, serta mampu menghasilkan produk unggul, berbudi luhur, dan berakhlak mulia. Maka dari itu, pengurus pondok kemudian menyediakan beberapa kegiatan ekstrakurikuler untuk mensukseskan program-program yan dimaksud, seperti pelatihan berpidato dalam tiga bahasa (Indonesia, Arab, Inggris), diskusi dan penelitian ilmiah, kepramukaan, pengembangan seni beladiri, pengembangan jurnalistik, dan keterampilan wirausaha.
AKTIVITAS SANTRI
Di Al-Munawwariyah, baik di pondok putra ataupun putri, semua kegiatannya sama. Dimulai dengan shalat Tahajjud pada pukul 04.00 WIB. Kegiatan dilanjut dengan shalat Subuh berjamaah di masjid dan mengaji al-Quran untuk semua tingkatan sampai pukul 06.30 WIB. Pagi harinya, semua santri diwajibkan untuk mengikuti KBM di Madrasah Diniyah sesuai dengan jenjang pendidikannya masing-masing. Kegiatan Madrasiyah ini selesai sampai pukul 08:15 WIB. Setelah itu, semua santri juga berkewajiban untuk sekolah di jenjang formal, baik SD, SMP, SMA, atau SMK sesuai tingkatan kelas masing-masing. Kegiatan ini berakhir sampai pukul 12.00 WIB. Para santri kemudian diwajibkan untuk mengikuti shalat Zuhur berjamaah.
Setelah shalat Zuhur, pengurus pondok mewajibkan para santri untuk beristirahat, dengan tujuan agar para santri dapat menghilangkan penat dan bisa berkonsentrasi untuk menghadapi kegiatan berikutnya. Pada pukul 03.00 WIB, santri melaksanakan kegiatan berupa shalat Ashar berjamaah. Setelah kegiatan ini selesai, para santri kemudian mempersiapkan diri untuk kegiatan shalat Maghrib berjamaah.
Seusai shalat Maghrib, kegiatan kemudian dilanjut dengan mengaji al-Quran. Di jam inilah semua santri diwajibkan menyetorkan hafalan al-Qurannya kepada asatidznya masing-masing. Setoran santri juga disesuaikan dengan kemampuan santri serta jenjang pendidikan yang ada. Setelah kegiatan Isya berjamaah, para santri kemudian mengikuti kegiatan wajib berikutnya berupa jam belajar. Kegiatan jam belajar berakhir pada pukul 11.00 WIB. Setelah itu santri diperkenankan untuk beristirahat di kamarnya masing-masing.






