(REFLEKSI SILATURAHIM NASIONAL IASS KE-6)
Beberapa hari yang lalu, Ikatan Alumni Santri Sidogiri menggelar Silaturahim Nasional yang keenam. Memang, setiap fragmen dari perhelatan nasional itu menarik untuk dibicarakan, namun jika kita mencoba melihat sisi yang paling relevan untuk didiskusikan, tentu saja terletak pada tagline-nya yang tak biasa: “Jihad Kultural Kaum Sarungan”. Memangnya apa maksud dari “jihad kultural” di sini, dan apa pula relevansinya dengan dunia kita hari ini?
“Jihad” di sini, sebagaimana sudah maklum, merujuk pada makna usaha keras dan penuh kesungguhan. Dalam ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi, “jihad” senantiasa menjadi tombol yang mesti ditekankan dalam setiap perjuangan keagamaan. Sedangkan makna “kultural” di sini kembali pada tradisi kaum sarungan, yakni para santri, dalam usaha mereka dalam memperjuangkan agama Islam, yang diwariskan oleh para dai Islam yang mendakwahkan Islam di negeri ini, semisal Wali Songo dan para penerus perjuangan mereka.
Lebih jelasnya, Silatnas IASS ke-6 ini hendak meneguhkan kembali peran Sidogiri di dalam jihad kultural yang telah dijalankan sejak awal oleh Muasis dan para Masyayikh, berupa melangsungkan proses pendidikan keagamaan Islam Ahlusunah wal-Jamaah. Inilah bidang garapan Sidogiri yang telah dijalankan sejak awal hingga saat ini, baik di pusat maupun di sekian banyak lembaga afiliasinya yang tersebar di berbagai penjuru negeri. Sidogiri sekali-kali tidak pernah mengambil jalur jihad yang lain sebagai bidang perjuangannya; jihad di bidang politik, misalnya (apalagi politik praktis).
| BACA JUGA : SURGA DIBUAT UNTUK SEMUA?
Jika kita mencoba untuk sedikit memperdalam perspektif jihad kultural ala Sidogiri ini, maka kita bisa menemukan keabsahan ‘thariqah’ Sidogiri ini dari al Quran, misalnya pada QS. al-Furqan ayat 52 yang artinya:
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Quran dengan jihad yang besar.”
Berkenaan dengan ayat tersebut, para ulama bersepakat bahwa ia termasuk kategori Makkiyyah, yang berarti ayat itu turun sebelum disyariatkannya jihad qital di Madinah. Lebih menakjubkannya lagi, perintah jihad di situ adalah berjihad dengan al-Quran (bukan dengan pedang). Maka apakah maksud dari berjihad terhadap orang-orang kafir dengan al-Quran? Tentu maksudnya adalah mengutarakan Hujjah Qur’ani terhadap mereka agar mereka bisa menerima kebenaran Islam — alih-alih menodongkan mata pedang kepada mereka. Dan lebih hebatnya lagi, Allah menyebut jihad dengan al-Quran itu sebagai “jihad yang besar”.
Dari sini bisa disimpulkan, bahwa jihad kultural ala Sidogiri yang mengajarkan santri-santrinya mendalami ajaran al-Quran, yakni ajaran agama Islam, tak lain merupakan “jihad besar” yang telah diperintahkan oleh Allah sejak dakwah Baginda Nabi periode Makkah, jauh sebelum jihad qital disyariatkan di Madinah. Jihad kultural inilah yang paling relevan untuk terus kita galakkan di era kita hari ini.




