SYEKH TAHIR JALALUDDIN
Masyarakat Minang hingga detik ini terkenal dengan tingkat relijiusitas yang tinggi. Banyak ulama dunia dan tokoh panutan yang berasal dari tanah Minang. Mencari ilmu ke belahan Asia lainnya, terutama di Tanah Suci, Mesir dan negara Islam lainnya, kemudian menetap dan menyebarkan ilmunya di daerah tersebut.
Salah satu ulama Minang yang menjadi guru ulama dunia adalah Syekh Tahir Jalaluddin yang masyhur dengan ilmu Astronominya. Ia dikenal sebagai ulama Falak dari tanah melayu, yang bukan hanya viral di negara sendiri dan Asia Tenggara, tapi juga di Asia Tengah, Selatan, dan lainnya.
Syekh Tahir Jalaluddin lahir di Cangkian, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada Selasa, 4 Ramadan 1286 H atau 8 Desember 1869 M–dalam catatan lain, ia lahir pada 7 November 1869. Ayahnya merupakan seorang pimpinanTarekat Naqsyabandiyah terkemuka di Minangkabau yang bernama Jalaluddin.
Syekh Tahir Jalaluddin memiliki lima orang bersaudara. Kedua orang tuanya meninggal dunia ketika ia masih kanak-kanak. Ayahnya meninggal saat ia berusia dua tahun, sedangkan ibunya meninggal tatkala usianya sembilan tahun. Setelah jadi yatim piatu, Tahir Jalaluddin diasuh oleh bibinya, Limbak Urai, ibu dari Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Lathif Al-Minangkabawi. Dengan demikian Syekh Tahir Jalaluddin dan Syekh Ahmad Khatib memiliki hubungan sepupu.
Sejak kecil Tahir Jalaluddin memang telah diajarkan untuk mencintai ilmu. Inilah yang kemudian membawanya pada 1879, di usia yang masih sangat muda, 10 tahun, berhijrah ke Makkah untuk menuntut ilmu agama. Kepergiannya untuk menyusul sepupunya, Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Lathif yang lebih dahulu menuntut ilmu di sana.
Syekh Tahir Jalaluddin belajar di Tanah Suci kurang lebih 12 tahun. Di sana Syekh Tahir Jalaluddin mengaji al-Quran kepada Syekh Abdul Haq di Madrasah Syakh Rahmatullah, sementara dalam bidang Fikih dan lainnya mengaji kepada Syekh Umar Syatha, Syekh Muhammad al-Khayyath dan sepupunya sendiri Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Selesai belajar di Makkah, Tahir jalaluddin kembali ke tanah kelahirannya, Minangkabau. Beberapa tahun berlalu, Syekh Tahir Jalaluddin berjumpa dengan ulama asal Pattani, Thailand, Syekh Ahmad al-Fathani yang merupakan alumnus Al-Azhar, Mesir. Bermula dari pertemuan inilah, Syekh Tahir Jalaluddin melanjutkan pendidikannya ke Al-Azhar dan mengambil mata kuliah ilmu Falak, Astronomi.
Dalam buku “Riwayat Hidup Ulama Sumatera Barat dan Perjuangannya” (2001) tertulis, Syekh Tahir Jalaluddin tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang belajar di Al-Azhar. Di Al-Azhar, Tahir Jalaluddin mendalami ilmu Falak selama empat tahun (1314- 1318 H/1893-1897 M). Ketekunan dan keuletan Syekh Tahir Jalaluddin dalam belajar ilmu Falak mengantarkannya menjadi ulama yang terkenal dengan ilmu tersebut.
| BACA JUGA : KISAH ISLAMNYA PUTRA-PUTRI PRABU SILIWANGI
Kepiawaiannya dalam ilmu astronomi itu juga dibuktikan dengan karya-karyanya yang konsentrasi dalam mengkaji ilmu Falak, yakni Natîjatul–Umûr yang kelar pada 1355 H/1936 M, juga Jadawil Pati Kiraan Pada Menyatakan Waktu yang Lima dan Hala Qiblat dengan Logharitma, Nukhbatut-Taqrirât fi Hisabil–Auqât.
Untuk kitab yang terakhir uraiannya ditulis dalam bahasa Arab, sedang jadwal yang menggunakan angka ditulis dalam angka Rumi/Latin. Cetakan pertama, Royal Press, 745 North Bird Road, Singapura, 1356 H/1937 M. Selain kitab-kitab Falak, Syekh Tahir Jalaluddin juga menulis kitab dalam disiplin ilmu yang lain, semisal Fikih, Faraidh, dan Tafsir.
Setelah menyelesaikan studinya di Makkah dan Mesir, Syekh Tahir Jalaluddin tidak langsung pulang ke Minangkabau, tetapi justru ia ke Singapura. Menurut catatan sejarah, ia pertama kali menginjakkan kakinya di Singapura pada tanggal 20 Mei 1888. Sejak itu ia menuliskan namanya secara lengkap menjadi Syekh Muhammad Tahir bin Muhammad bin Jalaluddin Ahmad bin Abdullah al-Minangkabawi al-Azhari.
Dari Singapura, Syekh Tahir Jalaluddin mengembara ke berbagai daerah di Indonesia untuk menetap beberapa bulan, berdialog dengan para raja, ulama dan berdakwah. Daerah yang ia kunjungi antara lain Riau, Kepulauan Anambas, Surabaya, Buleleng Bali, Sumbawa, Bima, Makassar, Gowa Sulawesi, dan kembali ke Singapura.
Setelah menetap lama di Singapura, pada 1914, Syekh Tahir Jalaluddin pindah ke Johor Malaysia, mengajar para hakim dan mendirikan institusi pendidikan agama di sana. Empat tahun kemudian, pada 1918 ia hijrah lagi ke Kuala Kangsar, Kerajaan Perak atas permintaan keluarga kerajaan. Baru pada 1927, Syekh Tahir Jalaluddin pulang ke Ranah Minang, ia disambut luar biasa oleh ulama pembaharu atau Kaum Muda dan masyarakat.
Syekh Tahir Jalaluddin berada di tanah airnya saat Belanda masih bercokol di Bumi Nusantara ini. Semangat juangnya dalam mengusir bangsa kolonial membuatnya harus berkeliling Sumatera Barat berdakwah mengembuskan gerakan anti kolonialisme.
Ia langsung menjadi target Belanda. Saat kembali ke Ranah Minang pada 1928, Syekh Tahir Jalaluddin langsung ditangkap dengan tuduhan tak masuk akal, ikut menyebarkan paham komunis. Syekh Tahir Jalaluddin awalnya ditahan di Bukittinggi kemudian dipindahkan ke Padang.
Penangkapan ini menimbulkan kehebohan. Protes keras disuarakan oleh para ulama di saat itu. Enam bulan ditahan dan diperiksa, ternyata tuduhan kepadanya sebagai penyebar paham komunis tak terbukti. Justru, itu hanya akal-akalan Belanda saja yang cemas dengan pengaruh Syekh Tahir Jalaluddin yang mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajah.
Setelah bebas, Syekh Tahir Jalaluddin kembali ke Kuala Kangsar untuk meneruskan kegiatan pendidikan Islam, berdakwah dan menulis puluhan buku. Syekh Tahir Jalaluddin wafat pada 26 Oktober 1956. Jasa-jasa keulamaannya sangat dihormati di Malaysia dan dikenang di tanah kelahirannya Minangkabau. Di Malaysia, namanya diabadikan jadi Pusat Falak Malaysia, atau Sheikh Tahir Astronomical Center, yang didirikan pada 9 Oktober 1991 di Pulau Pinang, Malaysia.




