Sepasang suami istri di Jedah Arab Saudi, suatu ketika mengalami cek-cok. Pada puncaknya, sang suami menampar istrinya sehingga sang istri pun menangis. Bersamaan dengan kejadian tersebut, ada seseorang mengetuk pintu rumahnya dan terlihat yang datang adalah ibu dari istri. Sang istri pun sontak membersihkan mukanya dari aliran air mata yang membasahi.
Adapun yang sang suami, dihinggapi rasa bingung, risau dan takut. Ia pun membukakan pintu untuk ibu mertuanya. Setelah ibu mertuanya masuk, ia mendapati wajah putrinya sembab usai menangis. Ibunya pun bertanya, kejadian apa yang menimpa, hingga ia mengeluarkan air matanya.
Dengan tanpa ragu ia mengatakan bahwa ia menangis lantaran rindu berat akan bertemu sang ibu. Mendengar jawaban putrinya, sang ibu memeluknya hingga air mata keduanya tumpah ruah menyelimuti wajah mereka. Melihat kejadian tersebut, sang suami kaget, ia mengira bahwa rumah tangganya akan hancur lantaran apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan sang istri, tetapi justru sebaliknya.
Setelah sedikit tenang, sang suami berangkat menuju ke pasar untuk membeli hidangan bagi tamu yang datang. Ia tak hanya membeli makanan untuk disajikan kepada tamunya, tapi juga membeli perhiasan emas yang bernilai mahal, 1.000 real yang akan ia hadiahkan untuk istrinya.
Setelah menjamu tamu-tamunya, si suami langsung memberikan perhiasan mewah tersebut kepada istrinya. Istrinya kaget saat menerima kejutan dari suami tersebut. Sang istri pun menanyakan kepada sang suami, apa gerangan yang membuat dirinya membeli barang mahal untuknya. Si suami kemudian menjelaskan bahwa si istri berhak untuk mendapatkan itu semua, karena telah menyelamatkan keluarga dan menyebut ia sangat bahagia mempunyai istri yang salihah yang tidak mengumbar aib rumah tangganya.
Baca Juga: Menata Rasa Meraih Bahagia
Pertengkaran merupakan pernik-pernik dalam rumah tangga. Sebahagia apa pun rumah tangga yang dibangun, perselisihan itu pasti muncul. Bukankah pernikahan memang menyatukan perbedaan jenis kelamin? Akan tetapi, dari perbedaan itulah pertemuan menjadi sumber kebahagiaan.
Rumah tangga merupakan harta paling berharga. Tidak ada kebahagiaan sempurna selain kehadiran keluarga. Karena itu, saat seseorang menghadapi masalah, salah satu yang menjadi titik beratnya adalah keluarga. Karena itu, mempertahankan keutuhan keluarga sama halnya memegang erat kebahagiaan yang telah dicapai.
Salah satu langkah mempertahankan keluarga adalah menyimpan aib pasangannya. Dalam bingkai rumah tangga, aib dari pasangan sudah pasti diketahui. Seorang yang terlihat baik di hadapan manusia, pasti ada aib yang diketahui oleh pasangannya. Di kantor atau pun di tempat kerja, suami terlihat seolah gagah seolah sempurna, tetapi bagi istri sangat mungkin mengetahui aibnya. Demikian pula sebaliknya.
Keretakan rumah tangga seringkali juga disebabkan kebocoran aib pasangan kepada orang lain; istri membocorkan aib suaminya kepada teman, dan bahkan kepada keluarganya, sehingga suami terbilang lemah di hadapan mereka. Demikian pula sebaliknya.
Terlebih, penyebaran aib keluarga saat ini demikian mudah seiring kemudahan alat informasi. Fitur-fitur canggih yang disajikan oleh handphone demikian rupa, terlebih aplikasi media sosial. Seseorang dengan mudahnya curhat di media sosial yang ujung-ujungnya menyebut aib pasangan. Pada akhirnya, aib tersebut tersebar dan banyak yang tahu. Hal yang mestinya menjadi privasi keluarga, diketahui oleh orang lain.
Akibatnya, banyak pihak yang akan nimbrung di antara mereka. Bukan hanya dari pihak keluarga pasangan, orang yang tidak memiliki hubungan apa pun juga akan ikut nimbrung. Banyak dijumpai, perceraian disebabkan oleh ikut nimbrungnya pihak keluarga pasangan dengan alasan “tidak terima”.
Bagaimana jika dalam kisah di atas, sang istri demikian leluasa mencurahkan apa yang dialaminya di hadapan orangtua? Sudah tentu, naluri seorang ibu akan bergerak untuk menuntut lebih jauh pada menantunya agar menjelaskan persoalan yang dihadapi. Jika tidak puas sudah tentu terjadi percekcokan.
Masih mending jika orangtuanya masih meminta penjelasan. Bagaimana jika emosi sudah menguasai dengan melihat anaknya diperlakukan seperti itu? Ujungnya pasti runyam. Rumah tangga pun terancam, sehingga kebahagiaan itu akan sirna. Jika pun tidak terjadi perceraian, saat orang tua mendengar peristiwa buruk yang terjadi pada rumah tangga anaknya pastinya akan menjadi beban bagi keluarga.
Efek membuka aib pasangan, juga bisa berujung perselingkuhan. Sering pula dijumpai perselingkuhan melalui media sosial yang dimulai dengan mengeluh yang kemudian berujung pada pengungkapan aib pasangan. Pada gilirannya, terjadi hubungan serius, kalau tidak mau dikatakan perselingkuhan. Seolah lawan curhatnya menjadi pahlawan di tengah kekuarangan pasangan dengan sejuta harapan sempurna dan terlepas dari aib pasangan.
Baca Juga: Rasa Syukur Istri Dalam Keluarga Sakinah
Dari itulah, dalam bingkai rumah tangga al-Quran menyebut sepasang suami istri merupakan pakaian satu sama lainnya. Dalam surah al-Baqarah: 187, Allah berfirman:
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ …
“… mereka (istri-istrimu) merupakan pakaian bagimu dan kamu merupakan pakaian bagi mereka …” (QS. al-Baqarah [02]: 187).
Kosa kata yang digunakan berupa libas atau pakaian merupakan metafor dari upaya untuk menutupi aib pasangan. Suami adalah pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami. Jika seorang suami atau istri membuka aib pasangannya, sama saja ia menelanjangi diri. Suami istri adalah satu kesatuan yang saling melengkapi.
Selain ayat di atas, dalam sebuah hadis dari Abu Sa’id al-Khudriy, dia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di hari kiamat adalah seorang laki-laki (suami) yang berkumpul (bersetubuh) dengan istrinya, kemudian membeberkan rahasia istrinya tersebut.” (HR Muslim)
Meski yang dimaksudkan ayat di atas adalah suami, namun tidak berarti hal itu tidak berlaku untuk istri. Intinya adalah, suami dan istri tidak seharusnya saling membeberkan rahasia mereka kepada orang lain.
Secara umum, membuka aib orang lain adalah larangan berat dalam Islam. Terdapat sejumlah dalil yang menopang hukum ini. Di antaranya, riwayat Imam Muslim yang menyebut Rasulullah bersabda “Tidaklah seorang hamba menutupi (aib) seorang hamba (yang lain) di dunia melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.” (HR Muslim).
Lantas, apakah seluruhnya pengungkapan aib dalam keluarga dilarang? Tentu saja tidak sepenuhnya demikian. Ada tempat untuk mengungkapkan aib pasangan, saat bahtera rumah tangga memang sulit diselamatkan. Di persidangan, misalnya, pasangan boleh mengungkapkan kekurangan pasangan, agar hakim bisa menilai sejauh mana persoalan yang dihadapi sehingga bisa diputuskan dengan cermat dan tepat. Namun yang jelas, menyimpaan aib dalam rumah tangga salah satu jalan meraih apa yang disebut keluarga sakinah. Wallahu a’lam.
M. Masyhuri Mochtar/sidogiri




