Nama: Nama: KH. Ali Rahbini
TTL: Banyuwangi,
Alamat: Sumberbulus 2
Ayah: H. Ali Mufi
Ibu: Hj. Huzaimah
Putra-putri: Huzaini Ali, Iffa’uz Zaini, Ali Zaini, Izzatul Masnunah,
Istri: Muzayyanah
Pendidikan: Pondok Pesantren SIdogiri
Aktivitas: Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ali Jember
Tahun masuk PPS: 1976 M
Tahun keluar PPS: 1984 M
Sosok Reuni kali ini adalah salah satu Kiai dari Jember yang memulai dakwahnya di daerah baru, tanpa kerabat dan keluarga. Meski berada di daerah yang baru, beliau berhasil mewarnai kehidupan masyarakat, bahkan sukses mendirikan pesantren.
BOYONG DAN MENIKAH
Kiai Ali Rahbini boyong pada tahun 1984 Masehi setelah nyantri di Pondok Pesantren Sidogiri selama 6 tahun. Lantas beliau menikah dengan gadis yang dipilihkan oleh orang tuanya pada tahun 1988 M. Dalam berumah tangga mulanya beliau tinggal di rumah mertua selama satu tahun. Namun beliau merasa tidak betah dan meminta izin untuk pulang ke Banyuwangi. Pada kesempatan ini mertua beliau tidak mengizinkan.
Di tahun kedua beliau kembali meminta izin untuk membawa serta sang istri pulang ke rumah orang tuanya di Banyuwangi. Akhirnya Kiai Ali Rahbini pun pulang ke Banyuwangi. Di Banyuwangi pun Kiai Ali Rahbini masih tetap merasa tidak betah.
HAIJRAH KE SUMBERBULUS JEMBER
Akhirnya pada bulan Dzul Hijah tahun 1991 beliau diperintahkan untuk pulang ke Sumberbulus. Ketepatan saat itu Kiai Ali Mufi mendengar ada masyarakat Sumberbulus yang mengharapkan beliau hijrah ke sana. Mulanya saat ditanya oleh orang tuanya perihal dirinya yang diminta pindah ke Sumberbulus Kiai Ali Rahbini sempat ragu. Beliau berfikir kumpul dengan saudara-saudaranya saja beliau tidak betah, apalagi ke Sumberbulus yang saat ini masih terbilang pedalaman. Namun ketika sang abah mengutarakan pendapatnya akhirnya Kiai Ali Rahbini pasrah dan mengikuti perintah sang abah. Saat itu pula sang abah memerintahkannya untuk berangkat keesokan harinya.
Kiai Ali Rahbini berangkat ke Sumberbulus hanya berbekal satu kresek baju dan kebulatan tekad. Sang abah tidak menjelaskan detail ke mana dan ke siapa Kiai Ali harus menjumpai saat di Sumberbulus. Sang abah hanya memerintahkan beliau ke Sumberbulus.
Sesampainya di Sumberbulus beliau berjumpa dengan Pak Mulyadi, salah satu penduduk Sumberbulus yang beliau kenal. Pak Mulyadi menanyakan pada beliau, “Mau ke mana?” Karena tidak tahu ke mana tujuannya, Kiai Ali Rahbini menjawab, “Ke sampeyan”. Akhirnya di sana Kiai Ali menceritakan secara gamblang bahwa dirinya diperintahkan sang abah untuk hijrah ke Sumberbulus. Saat ditanya Sumberbulus mana, Kiai Ali Rahbini pun hanya menjawab, “Pokok ke Sumberbulus”. Padahal Sumberbulus cukup luas ada Sumberbulus 1 hingga Sumberbulus 4.
Setelah selesai mendengar kisah Kiai Ali, Pak Mulyadi lantas menginformasikan pada masyarakat Sumberbulus. Saat itu ada salah satu warga Sumberbulus yang bernama H. Imam langsung menawari beliau untuk menempati salah satu dari dua tanahnya sebagai tempat tinggal.Salah satunya di barat masjid, dan satunya di timur masjid. Kiai Ali memilih tanah yang berada di barat masjid. Saat itu masjid masih dikelilingi kebun kopi, dan suasana di sana masih terbilang sepi. Setelah memilih, Kiai Ali pulang ke Banyuwangi untuk memberitahukan orang tuanya, dan mereka pun memberi dukungan.
| BACA JUGA: KARIKATUR RASULULLAH ALA PRANCIS
Setelah itu pembangunan tempat tinggal beliau pun dimulai. Pembangunan ini dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat setempat. Setelah 22 hari tempat tinggal Kiai Ali sudah rampung dan siap untuk ditempati. Selama pembangunan beliau menginap di rumah masyarakat sekitar.
MENDIRIKAN SMP TERBUKA
Selang seminggu beliau kedatangan tamu yang tidak beliau kenal. Ternyata itu adalah Wakil Kepala SMP Negeri Kalisat. Maksud kedatangannya adalah untuk menawarkan pendirian SMP Terbuka di Sumberbulus. Masyarakat sekitar pun setuju. Mulanya pendirian SMP ini seadanya, tanpa bangunan dan sistem seadanya. Di Awal pendirian murid kecil dan besar dikumpulkan menjadi satu. Barulah setelah beberapa tahun pengelolaannya mengalami perbaikan.
MEMINTA GURU TUGAS SIDOGIRI
Di tahun 1993 Kiai Ali Rahbini mulai meminta Guru Tugas dari Pondok Pesantren Sidogiri. Di tahun 1996 mulai resmi menjadi Ranting Sidogiri B-18. Ranting ini merupakan ranting kedua yang ada di Jember.
Pada tahun 2006 SMP Terbuka yang ada di Sumberbulus diubah menjadi Madrasah Tsanawiyah Nurul Ali. Setelah itu, beliau mulai membuka tingkat lanjutan, yaitu Madrasah Aliyah. Setelah dibukanya Madrasah Aliyah para santrimulai berdatangan. Sebelumnya, saat masih Tsanawiyah saja santri masih sedikit; santri laki-laki 10 orang dan putri 10 orang.
KENADALA-KENDALA YANG DIJUMMPAI
Pada awal kepindahannya di Sumberbulus kendala paling terasa adalah kekurangan tenaga pengajar. Karena di Sumberbulus Kiai Ali merupakan pendatang, sehingga kesulitan mencari pengajar. Masalah itulah yang dirasakan paling berat. Saat itu lulusan SMP pun jarang. Akhirnya termasuk usaha yang dilakukan Kiai Ali adalah meminta Guru Tugas dari Sidogiri yang bertahan sampai sekarang.
PENDEKATAN KE MASYARAKAT
Cara pendekatan yang ditempuh oleh Kiai Ali saat di awal dakwahnya adalah dengan mengadakan majlis salawat tiap malam Kamis. Majlis ini diadakan secara berkeliling, berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Akhirnya banyak masyarakat yang tertarik untuk mengikutinya, hingga mencapai 100 orang. Kegiatan ini bertahan selama 3 tahun. Dan berakhir setelah Kiai Ali Rahbini sudah mengenal dan mendapatkan dukungan banyak masyarakat.
Dalam bermasyarakat Kiai Ali Rahbini memiliki prinsip, “Mon ekebecikin oreng ebagusin kiya (Jika dibenci orang, balaslah dengan kebaikan)”. Sehingga meskipun di awal dakwahnya banyak yang mencemooh, beliau tetap menyikapi mereka dengan sikap yang baik. Bukan dengan membalas kejelekan dengan kejelekan.
Akhirnya lambat laut orang-orang yang mulanya membenci beliau menjadi sadar dan berbalik mendukung dakwah yang beliau lakukan. Bahkan tidak sedikit yang malah memondokkan putranya di pesantren yang diasuh oleh beliau.
Kiai Ali Rahbini juga yakin bahwa semua yang beliau dapatkan adalah sebab barakah Sidogiri. Di Nurul Ali banyak keluarga Sidogiri yang pernahberkunjung, seperti Mas Sholeh Abdul Haq, Mas d. Nawawy Sadoellah hingga KH. Fuad bin Noerhasan.


![KH. [Nama Tokoh] mengenakan baju koko dan peci putih](https://i0.wp.com/sidogirimedia.com/wp-content/uploads/2026/09/gambar_815x6001-1-1.webp?resize=815%2C600&ssl=1)

