Imam Malik bin Anas, salah satu pendiri mazhab, mengatakan:
لا يبلغ أحد من هذا العلم ما يريد حتى يضربه الفقر ويؤثره على كل شئ
“Seseorang tidak akan mencapai ilmu ini sesuai dengan harapannya sehingga ia menjadi fakir dan memprioritaskannya di atas segala sesuatu.”
Ungkapan Imam Malik bin Anas ini benar-benar terjadi dalam diri seorang ulama besar yang juga guru dari Imam Al-Bukhari, yakni Imam Yahya bin Ma’in. Ulama yang konsentrasinya pada bidang hadis ini bergelar Malîkul-Huffâzh (raja para penghafal hadis) dan Syaikhul–Muhadditsin (guru para ahli hadis).
Sebagaimana dijelaskan oleh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam Shafahat min Shabril-Ulama, Yahya bin Ma’in adalah pemuka para imam dalam ilmu Jarh wa Ta’dil. Imam Yahya bin Ma’in lahir pada tahun 158 Hijriah di kota yang berperadaban gemilang kala itu, yakni Kota Baghdad, pada masa Daulah Abbasiyah, waktu tampuk kepemimpinan dipegang oleh Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur. Kunyah-nya adalah Abu Zakariya, tetapi lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Ma’in. Ia wafat pada bulan Dzul Hijah 233 H di Madinah, ketika tengah melaksanakan ibadah haji lalu dimakamkan di Baqi.
Antusiasme Imam Yahya bin Ma’in telah tampak saat masih muda. Ketika usianya 20 tahun, Yahya bin Mai’n serius menimba ilmu utamanya yang berkaitan dengan hadis. Hari-harinya dihabiskan dengan mengumpulkan hadis lalu mengkodifikasikannya dalam bentuk buku. Harta warisan sebanyak ribuah dirham, beliau gunakan semua untuk mega proyek pengumpulan hadis yang tersebar di beberapa negara. Uangnya tidak tersisa sedikit pun, bahkan untukmembeli sandal pun Yahya bin Ma’in tidak mampu.
Pengembaraan Imam Yahya bin Ma’in dalam mengumpulkan hadis membuatnya kenal dan dekat dengan para ulama hadis kala itu. Beberapa ulama tingkat dunia yang diambil hadisnya oleh Yahya bin Ma’in adalah Ibnu Mubarak, Sufyan bin Uyainah, Waqi bin Al-Jarrah, Abdurrahman bin Mahdi, dan lainnya. Dalam pengembaraan ilmiah ini, Imam Yahya bin Ma’in melanglang buana, bertolak dari satu negara menuju negara yang lain, dari Irak ke Hijaz, lalu ke Syam dan Mesir, Egypt.
Menurut pengakuannya, selama masa rihlah ilmiah itu, Imam Yahya bin Ma’in telah menulis kurang lebih satu juta hadis. Menurut Imam Adz-Dzahabi ini menunjukkan bahwa Yahya bin Ma’in seringkali menulis satu hadis yang sama berulang-ulang. Dalam tempat yang lain Yahya bin Ma’in mengajarkan bahwa syarat agar sebuah hadits terhafal kuat dalam ingatan adalah dengan menulisnya sebanyak 50 kali.
Tentu mengelilingi dunia bukanlah hal mudah, terlebih pada zaman dulu, selain membutuhkan mental yang kuat, fisik yang tangguh dan energik, juga memerlukan banyak biaya. Namun, semua itu dilakukan dengan teguh, tekun, ulet, dan hati yang sabar oleh salah satu guru Imam Al-Bukhari ini. Oleh sebab itu, Imam Yahya bin Ma’in menjadi ulama hadis ternama pada masanya dan menjadi rujukan para ulama yang juga berkonsentrasi dalam pengumpulan hadis pada masa selanjutnya.
Sejumlah ulama hadis masyhur yang pernah menimba hadis dari Imam Yahya bin Ma’in adalah Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hanbali, Imam Al-Bukhari, Imam Muslim Naisabur, Imam Abu Dawud, Imam Abu Zar’ah Ar- Razi, Imam Abu Hatim Ar-Razi, Imam Ibrahim bin Abdillah Al-Junaid, Imam Ahmad bin Ali Al-Marwazi, dan Imam Ibrahim bin Ya’qub.
| BACA JUGA: PELARIAN YANG TAK PASTI
Kedalaman pengatahun hadis seorang Yahya bin Ma’in telah diakui oleh banyak ulama. Sanjungan dan pujian sundul langit dari para ulama seringkali dialamatkan kepada Imam Yahya bin Ma’in, seperti sanjungan dari Imam Ali Al-Madini. Beliau pernah berkata bahwa ilmu Hadis pada masa itu seluruhnya berporos pada seorang Yahya bin Ma’in. Imam Ahmad bin Hanbal bahkan menggambarkan seandainya sebuah hadis tidak dikenal oleh seorang Yahya bin Ma’in maka patut diragukan, apakah benar-benar hadis atau bukan. Ungkapan Imam Ahmad bin Hanbal tersebut memang nyatan. Demikian ini karena Imam Yahya bin Ma’in adalah sosok ulama yang sangat teliti, sesuai dengan dunia ilmu Hadis yang memang sangat menuntut ketelitian. Prinsip yang digunakan oleh Imam Yahya bin Ma’in adalah:
إذا كتبت فقمّش, وإذا حدّثت ففتّش
”Apabila kamu menulis maka rujuklah pada banyak sumber, dan apabila kamu menyampaikan hadis, maka telitilah.”
Ketelitian dan kehati-hatian Imam Yahya bin Ma’in ini juga bisa dijumpai kitab Al-Jâmi’ li Akhlâqir-Râwî karya Imam Al-Baghdadi, saat menceritakan pengujian Imam Yahya bin Ma’in kepada salah satu pakar hadis, yakni Imam Abu Nu’aim. Suatu saat, Imam Yahya bin Ma’in, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Ali Al-Madini berangkat ke Kufah guna menguji keilmuan Abu Nu’aim. Imam Yahya bin Ma’in sudah mengacak empat hadis untuk diajukan kepada Abu Nu’aim.
Begitu Imam Yahya bin Ma’in sudahselesai menguji, sontak Abu Nu’aim menendangnya sampai terpelanting. Dengan nada menegur, Imam Abu Nu’aim berkata, “Kalau Ahmad bin Hanbal tidak akan melakukan ini (mengacak hadis), karena ia warak, sedangkan Ali Al-Madini juga tidak mungkin sebab ia telah bersumpah. Berarti pasti Anda pelaku pengacakan hadis tersebut”.
Namun demikian, tindakan ulama hadis Kufah itu bukan malah membuat Imam Yahya bin Ma’in merasa kesal, justru sebaliknya, ia senang dan gembira sekali. Usai bertolak dari kediamannya Imam Ali Al-Madini, Imam Yahya bin Ma’in berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal:
فكانت تلك الرفسة احب الي من كل شيء
“Tendangan tadi justru lebih saya sukai dibandingkan sesuatu apa pun.”
Imam Yahya bin Ma’in juga merupakan ulama yang gemar menulis. Karya-karyabeliau bisa kita jumpai dan nikmati hingga sekarang. Salah satu kitab Imam Yahya bin Ma’in yang paling populer adalah At–Târîkh wal-Ilal dan Ma’rifatur-Rijâl. Semoga bermanfaat.




