Adagium al-mâddah muhimmah wa lakin at–tharîqah ahammu minal–m âddah (materi itu penting, tetapi metode jauh lebih penting) sering terdengar. Jika dikontekstualkan dengan dinamika dakwah juga sangat relevan. Fakta historis membeberkan fakta bahwa efektifitas dakwah Nabi, shahabat, dan para ulama, utamanya di Nusantara tidak terlepas dari metode yang dipakai. Mengirim surat dan utusan ke raja-raja negara tetangga, mengenalkan dan mengajak mereka masuk Islam adalah salah satu strategi dakwah Rasulullah. Di Nusantara bisa kita lihat, betapa kental akulturasi budaya lokal dengan Islam yang tidak terpisahkah sebagai implikasi dari metode dakwah para penyebar Islam tempo dulu.
Dewasa ini semakin ramai bermunculan majelis-majelis shalawat. Menjadi semacam tren baru di kalangan millenial muslim di banyak daerah. Tampil sebagai alternatif penyeimbang bentuk-bentuk hiburan lain seperti orkes dangdut, konser, DJ, dan lain sebagainya.Tentu hal ini bernilai positif, paling tidak jika dibandingkan dengan panggung- panggung maksiat. Dalam tren ini juga terdapat peluang potensial menjadi sarana dakwah.
Memang dalam tataran implementasi dan imposisinya sebagai sarana dakwah tidak semuanya setuju. Ada yang pro dan ada yang kontra. Terdapat perbedaan paradigma dan perbedaan pertimbangan mashlahah dan mafsadah. Hal ini sudah biasa di setiap kemunculan sesuatu yang dianggap ‘baru’ dalam hal apapun, termasuk dalam usaha kolaborasi dan kombinasi kegiatan yang bernuansa agama dengan hiburan, apalagi jika dalam praktiknya masih banyak hal yang kurang sreg dan dianggap bisa mencoreng, bahkan melecehkan keagungan shalawat.
Fakta di lapangan beberapa majelis shalawat memang dinilai ‘overdosis’ dan mengalami rem blong; manggung diiringi musik koplo atau lantunan alat-alat musik yang kurang pantas. Berjoget-joget ria dengan gerakan-gerakan kurang etis. Campur-baur laki-laki dan perempuan, dan lain sebagainya, sehingga ada kekhawatiran pergeseran orientasi, dari wasilah dakwah menjadi hiburan murni, apalagi dijadikan sarana mencari keuntungan duniawi, meraup materi, wal’iyadzu billah.
| BACA JUGA: Ada Sayang di Balik Garang
Ini adalah bahan introspeksi bersama. Kita perlu reminder betapa agungnya shalawat kepada Rasulullah. Allah dan para malaikat bahkan turut membaca shalawat kepada Rasulullah. Ada adab dan etika yang harus dijaga ketika membacanya.
Shalawat kepada baginda Nabi adalah doa sekaligus bentuk penghormatan kepada beliau. Tentunya bernilai pahala yang begitu besar bagi pembacanya. Shahabat Abu Hurairah meriwayatkan,Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)
Dalam konteks adab bershalawat, KH Hasyim Asy’ari menjelaskan secara sangat jelas dalam kitabnya, Nurul–Mubin, “Termasuk salah satu ciri-ciri cinta kepada Nabi, yaitu memuliakan dan mengagungkannya ketika disebutkan nama Nabi padanya disertai adab penuh ketenangan, khusyuk, dan tawaduk di saat menyebut namanya.”
Karena itu, mari kita hindari hal-hal yang merusak inti sari dan esensi dari membaca shalawat Nabi. Tidak mencampur aduk shawalat dengan apapun yang memiliki potensi su’ul adab. Menjaga akhlak dan etika ketika membacanya. Jika kita di hadapan presiden dan pejabat negara harus menjaga etika, tidak berani joget-joget, lalu di mana nurani kita sehingga di hadapan Nabi dalam majelis shalawat justru berani sedemikian?
Cinta Shalawat sudah merupakan modal yang sangat bagus. Tinggal bagaimana membenahi cara menghaturkan untaian shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad. Berbagai kekurangan yang ada di majelis shalawat adalah bagian dari tahapan proses dakwah yang belum selesai. Dakwah bertahap yang berusaha dilakukan berbagai pihak perlu kita apresiasi. Kekurangannya bersama kita benahi. Dikritisi boleh, dengan niat tulus, sekalian carikan formulasi dan solusi yang baik. Tidak gebyah uyah mencaci-maki.




