(BAGIAN 1)
Nama: (Alm.) KH. A. Nawawi Abd. Djalil
Lahir: Sidogiri, 9 Rajab 1364 H | 19 Juni 1945 M (berdasarkan catatan KH. Abdul Djalil)
Ayah: KH. Abdul Djalil bin Fadhil
Ibu: Nyai Hanifah binti KH. Nawawie bin Noerhasan
Istri: Nyai Miftahur Rahmah
Putra-putri: Ning Nadhifah As’adiyah dan Ning Istifadah (dari zaujah pertama) Mas Muhammad Kholil, Mas Abdul Djalil Kamil, Mas Uwais al-Qarani, Ning Layla al-Muzayyanah, Ning Royhanah, Mas Sa’duddin (dari zaujah kedua)
Pendidikan: Pondok Pesantren Sidogiri
Aktivitas: Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri
Bulan Dzul Qadah, bumi Nusantara kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Kiai khâsh yang dekat dengan semua kalangan berpulang meninggalkan puluhan ribu santri dan para pecintanya.
Kiai Nawawi kecil ditinggal wafat ayahandanya semenjak usia 2 tahun. Semenjak itu, beliau diasuh oleh pamandanya Kiai Cholil Nawawie. Kiai Cholil memberikan perhatian lebih kepada keponakannya yang satu ini. Beliau melihat di dalam diri Kiai Nawawi terdapat keistimewaan yang tidak didapati di keponakannya yang lain. Dari didikan beliaulah Kiai Nawawi kemudian tumbuh dewasa dengan berbagai keistimewaannya.
Kiai Nawawi tidak pernah mengenyam pendidikan di luar Sidogiri. Semenjak kecil beliau hanya belajar kepada paman-pamannya di Sidogiri. Kiai Cholil pengasuh Sidogiri saat itu memberikan tarbiyah secara khusus kepada Kiai Nawawi.
Pada masa kecilnya Kiai Nawawi pernah dibawa oleh Kiai Cholil ke Darul Hadis Malang untuk nyantri ke Habib Abdul Qadir Bilfaqih. Sesampainya di sana, Kiai Cholil memasrahkan keponaknannya, “Bib, saya mau mondokkan keponakan saya ini ke panjenengan, Bib.”
“Siapa namanya, Kiai?” tanya Habib Abdul Qadir. “Ahmad Nawawi bin Abdul Jalil,” jawab Kiai Cholil.
Tidak seperti biasa, Habib Abdul Qadir tiba-tiba melepas kacamatanya dan memandang langsung wajah Kiai Nawawi kecil. Lalu Habib Abdul Qadir berkata, “Keponakan sampeyan ini, Kiai, mondok gak mondok sama saja.” Karena masih kecil dan lugu, setelah mendengar ucapan Habib Abdul Qadir Kiai Nawawi lebih memilih untuk pulang dan tidak jadi mondok. Setelah dipasrahkan, Kiai Cholil pulang ke Sidogiri. Begitu Kiai Cholil sampai di Sidogiri, ternyata Kiai Nawawi telah sampai terlebih dahulu di Sidogiri.
Konon Habib Abdul Qadir Bilfaqih Malang adalah seorang wali yang berpangkat Syaikhun-Nazhar. Karena itu beliau selalu memakai kacamata. Sebab, jika beliau memandang orang lain, orang yang dipandang (dalam keadaan tidak suka) bisa langsung buta. Beda halnya jika beliau memandang dengan keridaan, orang yang dipandang bisa dianugerahi futuh oleh Allah. Salah seorang narasumber pernah mendengar Kiai Nawawi bercerita bahwa beliau mendapatkan futuh berkat dipandang oleh Habib Abdul Qadir Bilfaqih saat hendak nyantri di Darul Hadis.
KEISTIMEWAAN KIAI NAWAWI
Ketika masih muda, Kiai Hasbullah Mun’im yang sekaligus keponakan tertua Kiai Nawawi pernah berkata kepada Kiai Nawawi, “Mak Awi, Mak Jalil iku wes ngawang nang langit pertama (Kiai Nawawi, Kiai Jalil itu sudah terbang sampai ke langit pertama).” Secara reflek beliau menjawab, “Nek aku wes nang Baitul Makmur, jamaah karo Malaikat Jibril (kalau saya sudah sampai ke Baitul Makmur, shalat berjamaah bersama Malaikat Jibril).” Setelah mengucapkan itu wajah beliau mendadak pucat pasi. Beliau menyesal karena keceplosan membuka sebuah rahasia. Kulit beliau sangat pucat hingga digambarkan, seandainya kulit beliau diiris, maka tidak akan berdarah. Beliau mengucapkan itu ketika hanya berdua dengan Kiai Hasbullah Mun’im.
Salah seorang kiai di Sidoarjo yang masyhur sebagai wali pernah bertamu ke Sidogiri. Saat itu beliau berkata ke Kiai Nawawi, “Yai, aku mbesok gereten nang suwargo! Nek sampeyan suwargone dukur, nek aku ndek emper-empere (Kiai, besok saya tolong ditarik ke surga. Kalau kamu surganya tinggi, kalau saya hanya di emperannya saja)”. Padahal beliau yang mengatakan itu terkenal wali.
Sosok Kiai Nawawi disenangi oleh banyak kalangan. Orang-orang besar, para habaib, dan wali-wali yang jadzab banyak yang senang dengan Kiai Nawawi, seperti Kiai Hamid, Habib Jakfar al-Kaf, Ra Lilur, Syekh Sa’duddin Jeddah, Habib Abdullah bin Ahmad, dan lainnya.
Kiai Nawawi setiap ke Pasuruan pasti bertemu dengan Kiai Hamid. Pernah suatu ketika Kiai Nawawi ikut shalat berjamaah di Masjid Jamik Pasuruan. Setelah usai, Kiai Nawawi menunggu Kiai Hamid yang masih membaca wirid. Dalam hati beliau berkata, “Cek suwene Kiai Hamid sing wirid iki (lama sekali wiridnya Kiai Hamid ini).” Tiba-tiba Kiai Hamid keluar dari mihrab dan langsung mengusap dada Kiai Nawawi seraya mengucapkan, “Ya Fattah, ya Fattah, ya Fattah.”
| BACA JUGA : TIPS ISTIKAMAH BERIBADAH
Di lain waktu, Kiai Hamid juga pernah memberikan surban kepada Kiai Nawawi untuk dipakai mengajar. Menurut narasumber hingga saat ini surban pemberian itu masih ada di meja tempat Kiai Nawawi mengaji. Selain Kiai Hamid, Ra Lilur juga pernah memberi al-Quran kecil yang ditulis dengan tinta emas kepada beliau.
Saat haji, Kiai Nawawi pernah bertamu ke Syekh Sa’duddin. Di sana Kiai Nawawi diberi ijazah tarekat Syadziliyah dan kemudian diangkat menjadi mursyid.
Kiai Nawawi sendiri pernah menalkin dan membaiat sekitar 1.000 alumni serta masyarakat di Madura. Hanya saja kemursyidan dan ketinggian pangkat Kiai Nawawi tertutupi oleh keilmuannya.
KECINTAAN KIAI NAWAWI TERHADAP AKIDAH
Semenjak kecil Kiai Nawawi sangat menggemari ilmu Tauhid. Bahkan bisa dikatakan ilmu Tauhid adalah moodbooster (penghibur, red) beliau. Ketika sedang gundah, kegundahan beliau bisa hilang seketika tatkala diajak membahas Tauhid. Kecintaan itu terus mendalam hingga beliau berpulang.
Kecintaan dan perhatian Kiai Nawawi terhadap Akidah juga beliau tunjukkan dengan perintah mendirikan Annajah Center Sidogiri, sebuah instansi di Sidogiri yang fokus menanamkan akidah Ahlussunah wal Jamaah. Selain itu, beliau juga berpesan agar di setiap acara bahtsul masail di Sidogiri menyertakan pertanyaan terkait Akidah.
Dalam ilmu Akidah, keahlian Kiai Nawawi tidak bisa diragukan. Seorang narasumber pernah menyampaikan, “Seumpama bangun tidur beliau ditanya (masalah Akidah), beliau langsung tahu (jawabannya) tanpa perlu berfikir, dan tanpa ragu. Kalau (ditanya) masalah Fikih masih berfikir dahulu.”
Keilmuan Kiai Nawawi di bidang Akidah juga sempat dituangkan dalam buah tangannya, al-Ma’man minad–Dhalalah. Beliau sendiri sempat mengkaji dan mengijazahkan kitab ini kepada para santri di Pondok Pesantren Sidogiri.
Terdapat sebuah kisah yang konon menjadi awal mula mengakarnya ketauhidan dalam diri Kiai Nawawi. Ketika muda Kiai Nawawi pernah mengalami sakit yang tidak biasa. Selama tiga hari tiga malam beliau tidak tidur dan hanya bisa terbaring dengan jari mengisyarahkan keesaan Allah. Saat itu beliau terus menerus mengucapkan, “Ahad, ahad, ahad”. Saat kejadian itu Pancawarga masih lengkap; Kiai Cholil, Kiai Noerhasan, Kiai Sirodjul Millah, Kiai Hasanie, dan Kiai Sadoellah, beliau semua menangis melihat penyakit yang menimpa Kiai Nawawi. Penyakit yang beliau alami tidak biasa, lebih mirip penyakit yang menimpa wali-wali besar. Penyakit yang menimpa beliau dijuluki penyakit Ahad.
Menjelang wafat, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Kiai Nawawi sempat melafalkan surah al-Ikhlas, Qul Huwa Allahu Ahad. Beliau berpulang dengan ketauhidan yang sudah mendarah daging.
Bersambung.




