MURSYID TAREKAT NAQSYABANDIYAH PENDIRI KAMPUNG BESILAM
Syekh Abdul Wahab Rokan adalah putra dari pasangan Syekh Abdul Manaf bin Muhammad Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tambusai dengan ibu bernama Arbaiyah binti Datuk Dagi bin Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim yang memiliki pertalian darah dengan Sultan Langkat. Ayahanda beliau adalah seorang ulama besar pada zamannya, begitu juga dengan moyangnya, Maulana Tuanku Haji Abdullah Tembusai, juga masih keturunan keluarga Kerajaan Islam Siak Seri Inderapura.
Syekh Abdul Wahab Rokan lahir di Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Riau, pada tanggal 19 Rabiul Awal 1230 H/ 28 September 1830 M, dengan nama Abu Qasim dan wafat di Babussalam, Langkat, pada hari Jumaat, 21 Jumadil awal 1345 H/ 26 Desember 1926 M, dalam usia 115 tahun.
Sejak dini Abu Qasim sudah terlihat ketertarikannya terhadap ilmu-ilmu keagamaan. Selama di kamung halamannya, Abu Qasim mengaji kepada sejumlah ulama besar pada saat itu, di antaranya Syekh H.M Sholeh, Maulana Syekh Abdullah Halim dan Syekh Muhammad Sholeh Tambusai.
Beberapa tahun berikutnya, Abu Qasim melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Semenanjung Melayu. Di sana ia menuntut ilmu kepada Syekh Muhammad Yusuf yang lebih akrab dengan panggilan Tuk Ongku, selama kurang lebih dua tahun. Barulah setelah itu, Abu Qasim mengaji kepada beberapa ulama Timur Tengah, tepatnya di Kota Suci Makkah selama kurang lebih enam tahun. Di kota suci itulah, setelah menunaikan ibadah haji, Abu Qasim mendapat nama Abdul Wahab, sedangkan kata Rokan dinisbatkan pada kampung halamannya.
Di antara guru-gurunya di negeri lahirnya Islam itu adalah Syekh Saidi Syarif Dahlan (mufti mazhab Syafi’i). Syekh Hasbullah (ulama Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram). Syekh Muhammad Yunus Abdurrahman Batu Bara (ulama Indonesia asal tanah Batak) dan Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Abu Qubais.
Guru yang disebut terakhir inilah yang kemudian memberi ijazah (pengesahan) dan membaiat Syekh Abdul Wahab Rokan untuk menyiarkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di tanah kelahirannya, dan daerah-daerah sekitar meliputi Riau, Tapanuli Selatan, Sumatera Timur bahkan sampai ke Semenanjung Melayu.
Sepulangnya dari Makkah, Syekh Abdul Wahab Rokan kembali ke kampung halamannya dan membangun sebuah perkampungan di Kubu (sekarang masuk daerah Kabupaten Rokan Hilir), yang bernama Kampung Masjid. Kampung ini menjadi basis penyebaran agama Islam. Dari hasil dakwahnya ini, beberapa raja Melayu di pesisir Pantai Timur Sumatera Utara seperti Panai, Kualuh, Bilah, Asahan, Kota Pinang, Deli, dan Langkat selalu mengundang Syekh Abdul Wahab Rokan untuk berceramah di lingkungan kesultanan.
| BACA JUGA : SOAL PROPAGANDA RADIKALISME
Tidak berselang lama di daerah itu, Syekh Abdul Wahab Rokan kemudian pindah ke daerah Kualuh, Labuhan Batu atas permintaan Sultan Ishak sebagai penguasa kesultanan Kualuh. Hal ini karena jiwa Syekh Abdul Wahab Rokan terancam, sebab selalu diintai oleh pihak Belanda kala itu. Di daerah baru ini, Syekh Abdul Wahab Rokan membangun perkampungan lagi dan dinamakan seperti kampung yang awal dirintis olehnya.
Kemudian pada tahun-tahun berikutnya, Sultan Musa Mu’azzamsyah yang termasuk salah satu murid tarekat Syekh Abdul Wahab Rokan, memberikan tawaran kepadanya untuk menetap di Langkat. Tawaran ini diterima oleh Syekh Abdul Wahab Rokan. Sultan Musa kemudian memberikan daerah di hulu Sei Batang Serangan untuk dijadikan tempat menetap Syekh Abdul Wahab beserta para santrinya.
Berawal dari inilah sebuah perkampungan yang diberi nama “Babussalam”, yang oleh masyarakat sekitar disebut Besilam, didirikan. Sebab ini pula, Syekh Abdul Wahab Rokan juga akrab dipanggil dengan Tuan Guru Besilam. Kampung Babussalam ini dibangun pada 12 Syawal 1300 H (1883 M).
Pada perkembangan selanjutnya, kampung ini kemudian dijadikan sebagai pusat pengajaran dan penyebaran tarekat Naqsabandiyah di Sumatera Utara yang terkenal hingga ke negeri Jiran.
Syekh Abdul Wahab Rokan beserta santrinya kemudian membuka dan mengembangkan kampung ini dengan semangat dan ghirah yang membara. Melalui pengajaran tarekat yang diberikan, kampung ini disulap menjadi kampung yang sarat dengan nilai-nilai keislaman, bahkan hingga saat ini. Kampung ini dijadikan sebagai daerah otonomi tersendiri, yakni daerah istimewa, layaknya Yogyakarta di Pulau Jawa.
Predikat kampung istimewa itu bukan tidak beralasan, ada banyak hal di kampung ini yang tidak ada di kampung lain saat itu. Di antaranya adalah kampung ini tidak dikenakan beban pajak oleh kesultanan Langkat pada waktu itu, dan sampai saat ini. Selain itu, kampung ini juga pernah menjadi kampung teladan yang berhasil mengembangkan pertanian pada masa Tuan Guru Besilam.
Hingga saat ini, kampung Besilam menjadi kampung yang ramai dikunjungi oleh para peziarah ke makam Syekh Abdul Wahab Rokan, ataupun mereka yang ingin belajar tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah. Babussalam merupakan prototype kampung religi yang kental dengan nuansa tasawufnya, karena berkah pendirinya. Sampai detik ini, kampung itu tetap berseri, lestari dengan segenap adat istiadat, nilai dan aturan yang diwasiatkan oleh Tuan Guru Besilam, Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsabandi. Beliau adalah ulama, guru bangsa dan bangsawan yang telah mendedikasikan hidupnya sepenuhnya untuk perjuangan Islam. Sampai saat ini, makamnya banyak diziarahi orang yang datang dari segala penjuru di Nusantara ini.




