23 JULI 1852 M
Mesir terkenal dengan kebudayaanya yang maju semenjak milenium kedua sebelum masehi. Kebudayaan mesir dibangun dengan sistem kerajaan atau monarki. Namun, akhirnya sistem monarki ini harus berakhir pada tahun 1952-1953 M di tangan Gamal Abdul Nasser
Pada tahun 1948 Mesir bersama negara-negara Liga Arab terlibat perang melawan Israel yang berakhir dengan kemenangan Israel. Tentu ini mengakibatkan kerugian besar bagi negara-negara Arab, khususnya Mesir yang telah menyumbangkan tantara terbanyak dalam peperangan ini.
Setelah terjadinya perang, mesir mengalami krisis ekonomi yang memprihatinkan. Di sisi lain, pemimpin Mesir saat itu, Pangeran Farouk tidak peka terhadap kesusahan rakyatnya. Dia masih suka berfoya-foya di saat negara sedang tekor pasca perang.
Raja Farouk merupakan raja Mesir terakhir yang memerintah Mesir secara de facto (walaupun secara de jure masih ada raja Fuad II setelahnya). Dia mewarisi tampuk pemerintahan dari ayahnya Raja Fuad I, pada tahun 1936. Setelah dilantik, ia memberikan pidato di radio sehingga dia menjadi raja Mesir pertama yang berbicara secara langsung kepada rakyatnya. Perlu diketahui saat dilantik ia masih berusia 16 tahun.
Semenjak kecil Raja Farouk terkenal suka bermalas-malasan dan berfoya-foya. Hal ini berdampak pada cara menjalankan pemerintahan Mesir saat dia dewasa. Tentu saja banyak pihak yang gerah dengan gaya kepemimpinan sang Raja. Puncaknya, pada masa Perang Dunia II, Raja Farouk sangat tampak kebobrokannya. Sang Raja memerintahkan untuk tetap menyalakan semua lampu istananya di Alexandria di saat seluruh lampu miilik rakyat di kota mati, saat terjadi pengeboman yang dilakukan tentara Italia.
Tabiat buruk lain adalah kebiasaannya yang sering mengambil barang secara sembunyi-sembunyi. Saat melakukan kunjungan resmi ke Iran, Sang Raja tepergok mencuri pedang adat Shah Iran. Juga dia pernah ketahuan mengambil jam kantong berharga milik Winston Churchill.
| BACA JUGA : YANG TERSISA DARI BAITUL HIKMAH
Akhirnya Gamal Abdul Nasser maju dan merencanakan kudeta. Gamal Abdul Nasser merupakan mantan perwira tinggi Mesir yang membentuk gerakan Free Officers (Gerakan Perwira Bebas) setelah perang melawan Israel. Kelompok ini berisi perwira-perwira angkatan darat yang dinonaktifkan, yang ingin menghapuskan sistem monarki yang bersekutu dengan Kerajaan Inggris.
MEMULAI KUDETA
Sekembalinya ke Mesir, Nasser diam-diam mulai menyusun gerakan kudeta. Dia mengumpulkan para mantan perwira, kemudian mengedarkan beberapa brosur yang menyerukan reformasi tentara. Mereka memasok senjata dan melakukan pelatihan yang sesuai.
Pada 26 Januari 1952, unjuk rasa mulai berlangsung di Kairo sebagai tanggapan atas pembantaian petugas polisi oleh pasukan Inggris yang terjadi di Ismailia. Ada sebanyak 46 petugas tewas dan 72 luka-luka. Kericuhan terjadi, tetapi pihak berwenang tidak melakukan tindakan apa pun kecuali pada malam hari setelah kebakaran menghancurkan 400 bangunan. Hal ini menyebabkan 12 ribu orang kehilangan tempat tinggal. Kegaduhan ini dianggap peluang emas oleh Nasser, kerena yakin banyak pihak yang akan mendukungnya.
Lalu ia pun merencakan kudeta dengan matang. Puncaknya pada malam 23 Juli 1952 Nasser mulai bergerak dan menduduki gedung Komando Tinggi di Kubri Alkuba, dan akhirnya kudeta berjalan dengan mulus.
Gamal Abdul Nasser memaksa Farouk untuk turun takhta dan mengasingkannya ke Monako. Setelah Farouk disingkirkan, anaknya yang masih bayi dinyatakan sebagai Raja Fuad II secara de jure, tetapi secara de facto pemerintah monarki sebenarnya telah dihapus pasca makzulnya Raja Farouk. Satu tahun kemudian, pemerintahan monarki dihapus secara resmi dan Mesir menjadi sebuah negara republik yang berdaulat.
Sementara itu, Raja Farouk di pengasingan masih kecanduan dengan gaya hidup mewah. Kesukaannya menyantap makanan lezat menyebabkan Raja Farouk menjadi gemuk dan over lemak, tercatat berat badan Raja Faruok mencapai 140 kg. Pada 18 Maret 1965, setelah pesta makan malam Raja Farouk rebahan di atas meja makan dan tak lama kemudian ia meninggal.




