Di antara elemen pokok agama yang tiga, tasawuf adalah elemen yang paling rentan disalah-gunakan oleh oknum-oknum yang berkepentingan untuk menyesatkan umat awam. Hal demikian karena urusan akidah pedomannya sangat kokoh, sedangkan urusan halal-haram landasannya sangat jelas. Sementara tasawuf, jalan kesufian, atau tarekat, dalam praktiknya lebih melibatkan aspek batin ketimbang lahir; lebih didominasi perasaan ketimbang akal, sehingga para guru tarekat palsu menemukan celah yang cukup lebar untuk menjebak umat awam ke dalam kubangan kesesatan. Terlebih, di ranah ini mereka bisa mempertontonkan daya magis yang jelas digandrungi oleh masyarakat awam. Karena itu, di sini kita perlu memberikan rambu-rambu yang jelas agar umat Islam awam tidak mudah terjerat siasat tarekat sesat.
TAREKAT SESAT DAN WALI GADUNGAN
Sebenarnya, koordinator para wali di seluruh dunia, atau yang memproklamirkan diri sebagai Imam Mahdi. Nah, wali gadungan ataupun Imam Mahdi gadungan yang muncul belakangan hanya merupakan penyakit serupa dan kembali kambuh setelah sekian lama sembuh.
Tentu saja, kelas yang paling terdampak oleh fenomena tarekat sesat dan wali gadungan semacam ini adalah kelas bawah atau masyarakat awam, yang modal ilmu keagamaan mereka sangat minim atau bahkan nihil. Terlebih jika yang berperan sebagai wali gadungan dan pengelola tarekat sesat itu adalah orang yang sudah menjadi tokoh masyarakat dengan banyak pengikut atau public figure yang memiliki banyak penggemar, tentu kesesatannya akan berdampak sangat signifikan terhadap para pengikutnya, terlebih jika si pengikut sudah fanatik tingkat dewa.
Karena memang wali-wali palsu pada umumnya menyasar kalangan awam yang minim pengetahuan, maka rerata mereka menggunakan pendekatan magi hitam dalam usaha menjaring pengikut. Akan tetapi tetap perlu diingat, bahwa terkadang wali palsu itu juga menggunakan jalur yang lebih elegan dalam usaha membangun sektenya, yaitu dengan memperalat orang alim, seorang tokoh, atau public figure, dengan pendekatan yang lebih canggih dan relevan, seperti mendaku sebagai wali Malamatiyah, atau menunjukkan kekasyafan, tentu dengan bantuan magi hitam itu tadi. Jika tarekat sesat itu kemudian dipromosikan oleh si alim atau public figure tadi, maka tidak diragukan lagi kesesatan akan segera menyeruak secara massal.
Karena itu, para ulama sejak awal telah mewanti-wanti umat, terutama mereka yang awam, untuk tidak menjadikan hal-hal magis sebagai standar kewalian seseorang. Hal demikian karena hal-hal magis ataupun kesaktian itu juga bisa dilakukan oleh dukun, tukang sihir, bahkan orang kafir dan iblis. Sebaliknya, patokan utama yang mesti kita pegang dalam hal menandai siapa tokoh agama yang layak atau yang tidak layak kita ikuti, adalah patokan syariat semata, atau kecocokan pemikiran dan perilaku mereka dengan al-Quran dan Hadis. jika ada orang yang memiliki kesaktian super namun kita melihat pemikiran dan perilakunya bertentangan dengan syariat, maka jelas dia bukan wali dan tidak boleh kita ikuti.
| BACA JUGA : SAAT RAJA MONGOL MASUK ISLAM
Ada terlalu banyak pernyataan tegas para ulama yang bisa kita kutip dalam hal ini. Misalnya, Syekh Zarruq dalam Qawa‘id-nya (hlm. 332) mengatakan, “Seorang syekh yang tidak menjalankan sunah tidak boleh diikuti, karena belum tampak kesejatian dari keadaannya, meskipun tampak darinya sejuta kekeramatan atau kesaktian”. Sedangkan al-Imam asy-Syafi‘i, sebagaimana dikutip Ibnu Abi Hatim dalam Adabusy-Syafi‘i wa Manaqibuh (hlm. 184) mengatakan, “Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air dan terbang di udara, maka janganlah terpedaya olehnya hingga kalian menimbang perkaranya di atas al-Quran dan as-Sunnah”.
Di samping mengukur kesejatian seseorang yang disebut “wali” itu dengan standar syariat, wali sejati juga tidak akan pernah mempromosikan kewaliannya, atau mendemontrasikan kekeramatannya, apalagi dengan begitu pede mengangkat si A sebagai wali dengan predikat ini dan si B sebagai wali dengan predikat itu. Bahkan, sebagaimana dikatakan oleh Syekh ar Rifa‘i dalam al-Burhan al-Mu’ayyad (hlm. 104), bahwa para wali itu selalu berusaha sekuat tenaga untuk membukakan jalan petunjuk kepada umat, dan mereka selalu berusaha menutup-nutupi kekeramatan yang muncul dari diri mereka, seperti halnya wanita yang senantiasa menutup-nutupi status haidnya.
Bahkan para guru sufi memperingatkan seseorang yang bisa kasyaf hingga bisa tahu apa yang dilakukan orang di rumah mereka, agar dia segera bertobat atas cobaan kasyaf semacam itu, karena itu adalah kasyaf yang bersumber dari Setan, sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam Abdul-Wahhab asy-Sya‘rani dalam al-Minahus-Saniyyah (hlm. 18). Bahkan beliau menegaskan, bahwa orang yang sempurna dan layak mendapatkan pangkat kewalian itu tidak kasyaf sama sekali, karena ia disibukkan dengan menunaikan perintah-perintah Allah dalam setiap hembusan nafasnya, sehingga perintah-perintah yang dihadapinya itu tidak menyisakan kesempatan sedikitpun untuk hal-hal yang lain.
Lebih dari itu, para sufi yang menganut aliran Malamatiyah sekalipun memiliki pedoman-pedoman yang secara prinsip tidak ada perbedaan dengan para sufi yang lain, sebagaimana dicatat dengan lengkap oleh al-Imam Abu Abdirrahman as-Sulami dalam ar-Risalah al-Malamatiyyah-nya, di antaranya bahwa mereka senantiasa menghindari berbicara tentang ilmu, membanggakannya, dan menunjukkan rahasia Ilahi yang didapatkannya kepada kalangan yang tidak layak. Di samping itu, mereka juga selalu menyembunyikan karamah yang muncul dari diri mereka, bahkan mereka teramat khawatir terhadap karamah yang mereka dapatkan. Bukannya malah senang dengan kekeramatan dan memproklamirkannya.
Karena itu, jika ada orang yang mendaku sebagai wali namun menyukai kemasyhuran, senang pada harta, mendaku kasyaf dan mempertonronkan kekeramatannya, maka bisa dipastikan bahwa dia adalah wali palsu atau wali gadungan. Dia bukan wali Malamatiyah atau wali apapun. Bahkan dia adalah walinya Setan.




