Lagi-lagi soal cinta yang selalu menjadi tema paling menarik dari masa ke lain masa. Tidak terlalu heran sebenarnya mengapa tema ini selalu memiliki tempat tersendiri di dalam lubuk hati kita. Alasan sederhananya adalah karena cinta selalu hadir memberi sinyal bahagia, lalu tumbuh bersemi di dalam jiwa, dan mengejewantah berupa sikap positif yang indah mengalahkan segalanya.
Seperti halnya cinta kiai kepada para santrinya, cinta yang memberi semangat dan bahagia, cinta tulus yang lahir dari ulu hati, cinta kiai yang luas tidak bertepi. Sungguh betapa beruntung santri yang dipantau, diperhatikan, dan didoakan oleh kiai. Dan sungguh betapa lebih beruntung lagi santri yang disebut, dibanggakan, dan dicintai oleh kiai.
Entahlah bagaimana cara mengungkapkannya yang pas. Yang jelas saya, Anda, dan semua yang ditakdir bisa nyantri di pesantren ini merasa bahagia sekali karena dicintai oleh kiai. Bayangkanlah betapa berharganya diri kita di mata kiai. Tidak hanya hal-hal besar yang kiai perhatikan untuk kita, hal-hal kecil pun demikian.
Beberapa malam yang lalu, telinga kita sama-sama mendengar beberapa butir tata tertib santri yang kembali disahkan oleh kiai. Dari yang besar sampai yang sederhana, semua kiai atur demi kebaikan masa depan santri-santrinya. Peraturan lama tetap dipertahankan. Peraturan baru langsung dibuatkan. Larangan berutang tanpa seizin pengurus adalah salah satu tata tertib baku baru yang resmi diberlakukan.
Terdengar lucu dan menggelikan di telinga. Sampai urusan utang pun dibuatkan aturan, larangan, dan sangsinya. Utang yang lazimnya dilakukan secara diam-diam agar tidak ada yang mengetahuinya itu pun kini sudah ada aturan dan teknisnya. Dulu berutang merasa nyaman dan aman karena bisa bersembunyi dari orang yang mengetahui, kini justru harus izin kepada pengurus agar transaksi utangnya bisa diketahui dan diizini.
| BACA JUGA : UNIVERSALITAS MAKNA KHILAFAH
Bagi sebagian orang jelas tampak aneh, lucu, dan geli, tetapi santri sadar diri, ini peraturan yang disahkan oleh kiai. Peraturan yang selalu dipikir matang-matang dengan cinta dan dengan mantap juga diresmikan dengan cinta.
Santri yang baik tidak akan isykal dan bertanya, mengapa peraturan ini harus ada, karena ia yakin ini adalah bagian cinta dari kiai untuk santrinya. Ia juga tidak akan pusing-pusing memikirkan apa maksud dan hikmah yang ada di balik aturan ini, sebab cinta kiai lebih dari cukup sebagai deskripsi bahwa apa yang ditetapkan oleh kiai senantiasa berangkat dari kasih-sayang yang tinggi untuk santri-santrinya.
Ini adalah perkara yang sederhana, tetapi kiai sudah mengatur dan memperhatikannya, lantas bagaimana dengan yang lain, seperti syafakat dan doa-doanya? Maka tentu tidak perlu ditanya, kiai pasti menyebut nama kita agar tumbuh menjadi insan yang baik lagi bijaksana. Berharap menjadi santri yang berpegang teguh pada jiwa kesantriannya, menjadi santri yang ibadillahis-shalihin, kapan pun, di mana pun, dan bagaimanapun juga.
Maka sungguh betapa banyak sejujurnya kita berutang cinta kepada kiai yang tulus penuh kasih, yang baik tanpa pamrih. Berbanding terbalik dengan kita yang tak jarang berulah hingga membikin kiai menjadi risau dan resah, hingga membuat hati kiai gundah juga gelisah.
Maka mau menunggu apalagi, sudah waktunya di tahun ajaran yang baru ini, di momen yang bolehlah kita katakan yang fitri ini, mari patrikan dalam hati untuk sama-sama belajar mencintai dengan baik sebagaimana cinta kiai kepada kita. Dimulai dari mencintai apa yang ditetapkan olehnya, berusaha mengikuti aturannya, dan menghindari apa yang menjadi larangannya. Jika ternyata kita tidak mampu membuat hati kiai berbahagia, minimal mudah-mudahan kita tidak pernah mempunyai niatan buruk melakukan sesuatu yang justru membuat kiai terluka dan kecewa.
Teruslah berusaha mencintai kiai, mencintai apa-apa yang diberlakukan oleh kiai, hingga pada akhirnya cinta itu sebagaimana cinta kiai yang luas tidak bertepi.
Semoga bisa!




