Pada dasarnya, tak ada kaitan antara sepak bola, sebagai sekadar permainan, dengan agama Islam. Akan tetapi pernak-pernik yang gemuruh di sekitar sepak bola itu, tentu sedikit banyak akan bersentuhan dengan nilai-nilai, budaya, dan bahkan pandangan politik, yang terkadang berhadap-hadapan dengan Islam.
Maka, sejatinya Islam tak perlu hadir dalam sepak bola, terkecuali jika sepak bola sudah direcoki dengan kampanye terhadap nilai-nilai yang berseberangan dengan Islam. Jadi kita tidak perlu mengislamkan sepak bola, melainkan kita perlu membersihkan sepak bola dari sampah-sampah yang mengotori Islam.
SEPAK BOLA DARI PERANG NILAI HINGA PERANG POLITIK
Pada editorial edisi 186 yang lalu, penulis mengangkat tulisan bertajuk “Perang Ideologi di Piala Dunia ” di majalah ini. Di situ, penulis menyoroti aroma perang ideologi yang tampaknya bakal terjadi di pagelaran Piala Dunia 2022 di Qatar, antara ideologi Barat via a vis ideologi Islam, dalam hal ini pandangan hidup Barat yang memuja kebebasan perilaku seksual, melawan nilai-nilai Islam yang memberikan aturan ketat dalam hal itu.
Bagaimanapun, perang ideologi itu memang terbukti terjadi, bahkan lebih seru daripada yang diduga sebelumnya. Kendati otoritas Qatar dan FIFA telah melarang penggunaan atribut apapun yang mengesankan dukungan terhadap LGBT, ternyata masih banyak suporter dari negara-negara Barat yang melakukannya; mengibarkan bendera pelangi dan memakai kaos pelangi, dan semacamnya, yang pada gilirannya mereka harus berurusan dengan penjaga ketertiban negeri setempat.
Bahkan lebih dari itu, sejumlah Tim Nasional dari negeri Barat tidak ragu untuk memberikan dukungan kepada LGBT sekaligus protes terhadap FIFA dan otoritas Qatar. Mereka berniat menggunakan ban kapten One Love sebagai bentuk dukungan terhadap LGBT. Mereka adalah Timnas Jerman, Wales, Belgia, Denmark, Inggris, Belanda, dan Swiss, kendati pada akhirnya mereka tunduk terhadap FIFA yang melarang pemakaian ban kapten One Love di Qatar.
Namun sejumlah Tim Nasional tetap saja berulah, semisal Timnas Jerman yang melakukan protes dengan berpose gaya tutup mulut sebelum memulai pertandingan melawan Jepang. Bahkan Jerman, Inggris, dan Denmark kemudian berkoar mengancam hengkang dari FIFA karena tidak diperkenankan mengkampanyekan LGBT di dalam kompetisi sepak bola akbar empat tahunan itu.
Semua itu menunjukkan betapa orang-orang Barat benar-benar gigih tak kenal lelah dalam memperjuangkan nilai-nilai mereka. Dengan berbagai cara dan upaya, mereka bersikeras untuk menerjang apapun yang menghalangi segala apa yang menyumbat keran kebebasan yang menjadi visi hidup mereka, kendati dengan harus mencederai keyakinan dan ajaran luhur pihak lain.
Sekarang pertanyaannya adalah, kenapa Barat begitu all-out memaksakan nilai-nilai mereka, yakni nilai-nilai liberalisme Barat, melalui berbagai caradan media, termasuk melalui media olahraga, terutama sepak bola? Tak ada lain jawabannya adalah karena untuk “hegemoni”. Mereka menyadari bahwa cara terbaik untuk menghegemoni sebuah bangsa adalah dengan cara menundukkan bangsa itu terhadap nilai-nilai mereka, sehingga bangsa itu bisa menerima nilai-nilai mereka, atau bahkan membanggakan dan menjadikannya sebagai suatu model bagi kemajuan dan peradaban.
| BACA JUGA: INSPIRASI AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR
Bagaimanapun, AS dan Barat punya ilusi untuk menyebarluaskan nilai-nilai liberalisme ke seluruh dunia. Itulah sebabnya kenapa AS (Barat) selalu berambisi melakukan ‘demokratisasi’ dengan cara menggulingkan rezim-rezim yang mereka klaim ‘tidak demokratis’, karena bagaimanapun demokrasi adalah salah satu nilai penting Barat, dan jika nilai itu sudah terinstal pada benak suatu bangsa, maka nilai-nilai Barat yang lain juga akan mudah diinstal juga, seperti feminisme, sekularisme, penerimaan bahkan dukungan terhadap LGBT, dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya kita melihat seperti apa narasi yang dikembangkan oleh Barat dalam perang Ukraina; Barat sering berkoar bahwa “Ukraina sedang berperang mempertahankan nilai-nilai Eropa”. Nilai-nilai itu tak lain adalah liberalisme. Namun sebagaimana kita ketahui, Rusia, sebagai negara dan bangsa yang tidak mau tunduk begitu saja terhadap propaganda nilai-nilai Barat, merespon dengan sangat tepat; bahwa dalam perang ini “Rusia sedang mempertahankan nilai-nilai tradisional nilai-nilai keluarga, dan lain-lain.
Bahkan, baru-baru ini Rusia mengesahkan UU yang melarang propaganda LGBT dan demonstrasi atas perilaku LGBT; tindakan atau informasi apapun yang dianggap mempromosikan LGBT, baik di depan umum, online, dalamfilm, buku, iklan dan apapun. Semuanya dianggap pelanggaran serius dan akan dikenakan denda yang besar.
Nah, itulah perang nilai, dan di Piala Dunia 2022 Qatar ini, kita melihat dengan sangat jelas bahwa perang nilai ituterjadi secara vulgar. Di sini kita melihat betapa banyak bangsa-bangsa dunia yang menolak tunduk terhadap nilai-nilai yang dipromosikan oleh Barat. Karena bagaimanapun mereka telah memiliki nilai mereka sendiri, dan mereka bangga dengan itu.
Bahkan, perang nilai di sepak bola telah menyulut perang politik. Karena bagaimanapun, nilai dan pandangan politik pada dasarnya adalah dua sisi dari mata koin yang sama. Memang aturan FIFA dan UEFA menegaskan larangan untuk berpolitik di dalam sepak bola. Itulah mengapa pada tahun 2016 yang lalu tim Celtic didenda £ 8.616 oleh UEFA gara-gara ada fansnya mengibarkan bendera Palestina.
Namun ternyata, setelah perang Ukraina meletus, aturan “tidak boleh berpolitik dalam sepak bola” ini dilanggar sendiri oleh tim-tim Eropa. Banyak dari mereka yang terang-terangan memakaikaus pro-Ukraina atau ban kapten pro-Ukraina sebagai dukungan terhadap Ukraina dalam berperang melawan Rusia. Bahkan kemudian FIFA mencoret Rusia dari keikutsertaan dalam Piala Dunia Qatar karena FIFA memihak pada Ukraina.
Nah, kemunafikan FIFA dan UEFA itu ditangkap oleh Qatar, mengingat posisi Qatar yang secara politik memihak kepada Palestina. Kini Qatar secara terang-terangan menunjukkan sikap politik mereka di dalam pagelaran Piala Dunia 2022; pernak-pernik Piala Dunia seperti gelang, syal, dan semacamnya diperbolehkan secara bebas. Bahkan ketika berhasil menyingkirkan Spanyol, Tim Maroko mengibarkan bendera Palestina dalam selebrasi mereka alih-alih mengibarkan bendera negara mereka sendiri.



