ULAMA PRODUKTIF DAN MULTITALENTA
Imam Abdullah bin Umar al-Baidhawi adalah salah satu ulama Ahlusunah wal Jamaah, menguasai Fikih sekaligus Ushul Fikih mazhab Syafi’i, seorang mutakallim, ahli Hadis, ahli Tafsir, juga ahli ilmu Nahwu. Nama lengkapnya adalah Nasiruddin Abu Sa’id atau Abul-Khair Abdullah bin Abil-Qasim Umar bin Muhammad bin Abil-Hasan Ali al-Baidhawi asy-Syairazi asy- Syafi’i. Beliau lahir ahir di kota putih Baidha’ dekat Syairaz, pada tahun 651 H. Ayahnya adalah pembesar qadhi pada era al-Atabik Abu Bakar bin Sa’ad al-Atabik.
Imam al-Baidhawi menimba ilmu dari banyak guru, di antaranya adalah ayahnya sendiri, yakni Imam Abul-Qasim Umar bin Muhammad bin Ali al-Baidhawi yang wafat pada tahun 675 H. Dari ayahnya inilah beliau belajar fikih mazhab Syafi’i. Dalam beberapa kitabnya, Imam al-Baidhawi banyak menyebutkan pendapat-pendapat ayahnya. Setelah belajar dengan ayahnya, Imam al-Baidhawi melanjutkan rihlah ilmiah kepada Syekh Muhammad bin Muhammad al-Kahta’i ash-Shufi. Imam al-Baidhawi banyak meneladani gurunya ini dalam bidang ibadah dan kezuhudan. Guru selanjutnya adalah Syekh Syarafuddin Umar al-Busykani az-Zaki (w. 680 H). Beliau termasuk ulama besar yang menguasai berbagai macam fan ilmu. Beliau adalah guru yang sangat berkesan bagi Imam al-Baidhawi, sehingga ketika gurunya wafat, Imam al-Baidhawi membuat kasidah panjang yang kemudian ditulis di makamnya.
Kepribadian Sang Imam
Imam al-Baidhawi adalah seorang imam besar yang memiliki banyak karya. Kepribadiannya saleh dan ahli ibadah. Dari luasnya berbagai macam bidang keilmuan yang dikuasai, beliau disebut sebagai farîdu ‘ashrihi wa wahîdu dahrihi, ulama tunggal di masanya. Seakan-akan tidak ada ulama lain yang mampu menandingi beliau di masa itu. Kealimannya tersohor hingga daerah Azarbaijan dan sekitarnya. Beliau memiliki rutinitas mengajar dan berfatwa selama bertahun-tahun.
Kedalamannya dalam ilmu fikih dan ushul menjadikan para ulama yang membaca kitab-kitab beliau mengakui keteguhannya. Akhirnya pada tahun 685 H. Imam al-Baidhawi menjabat sebagai qadhi di Syairaz. Ketika menjadi qadhi, Imam al-Baidhawi memutuskan hukum dengan penuh penghormatan kehati-hatian.
Imam as-Subki dalam Thabaqât-nya menyebutkan, ketika Imam al-Baidawi berhenti menjadi qadhi di Syiraz beliau pergi ke Tabriz. Ketika memasuki daerah Tabriz, kebetulan di sana sedang ada majlis ilmu, kemudian Imam al-Baidhawi pun mengikutinya dan duduk di barisan terakhir, sehingga tidak ada yang mengenali. Tak lama setelah itu, pengajar di majlis tersebut memberikan anekdot sekiranya para hadirin tidak bisa menjawab. Lalu pengajar tersebut meminta orang-orang untuk menjelaskan dan menjawabnya, jika tidak ada yang mampu, para hadirin diminta mengulangi anekdot tadi. Imam al-Baidhawi pun berkata, “Saya tidak mendengar sampai saya tahu bahwa Anda mengerti.” Lalu Imam al-Baidhawi memberikan pilihan, apakah beliau akan mengulanginya dengan lafalnya, atau secara maknanya saja. Ternyata pengajar tadi bingung, lalu dia berkata, “Ulangilah dengan lafalnya.” Imam al-Baidhawi pun mengulangi anekdot tadi sembari menjelaskan bahwa pengajar tadi dalam menyusun anekdot tersebut ada kesalahan. Imam al-Baidhawi kemudian menjawab anekdot tadi dan membalas memberikan anekdot kepada pengajar tersebut lalu memintanya untuk menjawab, ternyata pengajar tadi tidak bisa. Kebetulan di sana ada salah seorang wazir yang hadir. Imam al-Baidhawi kemudian diminta untuk mendekat dan ditanya tentang siapa dirinya. Pada hari itu, wazir tersebut bermaksud memuliakan Imam al-Baidhawi dengan menjadikannya sebagai qadhi, tetapi beliau menolaknya.
| BACA JUGA : MANUSIA DAN PERKARA GAIB
Karya dan Murid Imam al-Baidhawi
Sebagaimana ulama-ulama besar yang lain, Imam al-Baidhawi juga memiliki banyak karya di berbagai bidang keilmuan. Di antaranya adalah kitab tafsir yang berjudul Anwârut-Tanzîl wa Asrârut-Ta’wîl yang kemudian hari lebih dikenal dengan Tafsir al-Baidhawi. Kitab tafsir ini mencakup beberapa fan ilmu juga berbagai macam kaidah dengan metode yang berbeda-beda. Kitab ini diterima dengan baik oleh mayoritas pembesar ulama, sehingga banyak yang mengkajinya dan menambahkan catatan-catatan kaki.
Karya yang lain adalah Minhâjul–Wushûl ila Ilmil-Ushûl , yakni kitab ushul fikih yang mencakup muqaddimah dan tujuh pembahasan. Imam al-Baidhawi dalam mengarang kitab ini mengambil referensi dari kitab al-Hâshil karya Imam al-Armawi. Banyak ulama yang mengarang kitab syarh untuk Minhâjul–Wushûl, di antaranya adalah Syarh al–Jarbardi yang dikarang oleh murid Imam al-Baidhawi sendiri. Ada juga Taudhîhul–Mubham wal-Majhûl fî Syarhi Minhâjil–Ushûl karya Syekh Sirajuddin al-Qurasyi al-Makhzumi. Imam Tajuddin as-Subki juga ikut memberikan syarh dengan judul al-Ibhâj Syarhul-Minhâj.
Thawâli’ul-Anwâr fî Ushûliddîn adalah salah satu karya Imam al-Baidhawi yang oleh Imam as-Subki disebut sebagai mukhtashar (kitab ringkasan) teragung yang pernah dikarang dalam pembahasan ilmu kalam. Dalam periode yang lama, kitab ini pernah menjadi materi pokok pelajaran ilmu kalam di universitas al-Azhar. Salah satu kitab syarh yang terkenal adalah Mathâli’ul–Anzhâr Syarh Mathâli’ul-Anwâr karya Syekh Syamsuddin Abits-Tsana’ Mahmud bin Abdurrahman al-Ashfihani.
Ada juga kitab al-Ghâyah al-Qushwâ yang membahas fatwa-fatwa dalam mazhab Syafi’i, Syarhul-Mahshûl fî Ushûlil-FIqhi, al-Idhâh fî Ushûlid-Din, Syarh at-Tanbîh, Syarh al-Muntakhab, dan masih banyak lagi kitab-kitab yang lain.
Murid-murid Imam al-Baidhawi sangat banyak. Di antara yang terkenal adalah Imam Fakhruddin Abul-Makarim Ahmad bin al-Hasan al-Jarbardi (w. 746 H), Syekh Kamaluddin Abul-Qasim Umar bin Ilyas bin Yunus al-Maraghi atau yang dikenal dengan Abul-Qasim ash-Shufi. Beliau mengaji langsung kitab al-Minhâj, al-Ghâyah al-Qushwâ, dan ath-Thawâli’ kepada Imam al-Baidhawi. Syekh Jamaluddin Muhammad bin Abu Bakar bin Muhammad al-Muqri’, Syekh Ruhuddin bin Syekh Jalauddin ath-Thayyar, dan al-Qadhi Ruhuddin Abul-Ma’ali adalah deretan nama-nama murid Imam al-Baidhawi yang terkenal luas dan menjadi ulama besar.
Wafatnya Sang Imam
Imam al-Baidhawi wafat di daerah TIbriz pada tahun 685 H. Ada yang mengatakan tahun 691 H. Jenazahnya dimakamkan di daerah Kharandab, sebelah daerah Syairaz. Demikianlah biografi singkat Imam al-Baidhawi, seorang ulama besar yang ilmunya terus bermanfaat hingga hari ini. Semoga berkah beliau senantiasa mengalir kepada kita semua. Amin.




