Nama Pesantren: Pondok Pesantren Sabilun Najah
Alamat: Jl. Masjid Al-Abror Lebaksari Selatan 02/01 Desa Lebaksari Kec. Wonorejo Kab. Pasuruan
Tahun Berdiri: 1965 M
Pendiri: KH. Anshori bin H. Abd Rosyad
Jumlah Santri: 160-an
Pendidikan: SD, SMP, SMA, Madrasah Diniyah
Pasuruan merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang memproduksi banyak sekali para ulama. Tentu hal ini tidak lepas dari tangan pengasuh-pengasuh pesantren yang berada di kawasan tersebut. Pesantren di kabupaten ini merupakan ikon tersendiri di kalangan masyarakat sekitar, bahkan di luar Kota Pasuruan pada umumnya. Maka tak heran jika kota yang satu ini diberi gelar dengan ‘kota santri’. Di antara pesantren yang masih eksis sampaisekarang adalah Pondok Pesantren Sabilun Najah yang berada di daerah Lebaksari, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan.
SEJARAH SINGKAT
Bermula dari salah satu ulama di daerah Lebaksari. Beliau memiliki nama KH. Anshori bin KH. Abd Rosyad. Seorang figur yang memiliki ghirah yang tinggi untuk meningkatkan pendidikan Islam. Seorang dai yang menginfakkan dirinya di jalan Allah hanya untuk menegakkan agama-Nya. Beliau berdakwah dari masjid ke masjid, musalla ke musalla, kampung satu ke kampung yang lainnya. Hingga suatu hari, pada tahun 1961 M, ketika KH. Kholili Hasbullah (menantu KH. Abd Djalil bin Fadhil Sidogiri) mengisi pengajian di Lebaksari, beliau kemudian dawuh, “Mulai sekarang saya resmikan lembaga di tempat ini”. Ketika mendengar dawuh gurunya itu, Kiai Anshori sempat kaget karena sang guru belum pernah mengabarkan hal tersebut kepadanya. Karena titah gurunya itulah, Kiai Anshori kemudian mendirikan sebuah bangunan madrasah yang diberi nama Sabilun Najah. Konon titah tersebut bermula dari.
hasil istikharah Ny Hj. Marhumah binti KH. Abd Djalil (istri KH. Kholili Hasbullah). Dalam istikharahnya, beliau melihat rebung atau bambu muda yang tumbuh begitu banyak di area pesantren saat ini, yang mengisaratkan rebung itu akan terus tumbuh sebagaimana pendidikan Islam di lembaga tersebut.
| BACA JUGA : AGAMA DAN KEMAJUAN
RANTING PERTAMA SIDOGIRI
Pada tahun 1963, Kiai Anshori dipanggil ke Sidogiri oleh Almaghfurlah K. A. Sa’doellah bin Nawawi. Setelah bertemu Kiai Sa’doellah, Kiai Anshori mendapat mandat dari beliau untuk mendaftarkan Madrasah Sabilun Najah menjadi ranting Sidogiri yang menjadikan lembaga ini menjadi ranting pertama Sidogiri. Konon, Kiai Sa’doellah mendengar cerita tentang madrasah ini langsung dari Kiai Kholili. Setelah diresmikan, akhirnya nama Sabilun Najah diganti dengan Miftahul Ulum, disamakan dengan madrasah induk di Sidogiri.
BERDIRINYA PESANTREN
Kabar tentang diresmikannya Madrasah Sabilun Najah menjadi ranting Sidogiri kemudian tersebar luas di kalangan masyarakat. Tidak sedikit kemudian wali murid menyekolahkan anaknya ke lembaga ini. Bahkan ada dari mereka yang menitipkan anaknya kepada Kiai Anshori untuk nyantri kepada beliau. Lambat laun, para santri mulai berdatangan dari berbagai kota di luar Pasuruan. Mereka berbondong-bongong untuk dapat menimba ilmu agma di lembaga ini. Akhirnya, didirikanlah beberapa bangunan untuk pemukiman santri yang kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Pondok Pesantren Sabilun Najah.
KEGIATAN PESANTREN
Kegiatan di Pondok Pesantren Sabilun Najah bisa dibilang cukup padat. Kegiatan harian dimulai dengan shalat tahajud santri pada pukul 04.00 WIB yang dilanjutkan dengan shalat Subuh berjamaah. Setelah shalat Subuh, semua santri diwajibkan untuk mengikuti pengajian kepada pengasuh. Pagi harinya, tepat pukul 06.00 WIB, para santri mengikuti shalat Duha berjamaah.
Disusul kemudian dengan KBM (kegiatan belajar-mengajar) yang diikuti oleh santri yang masih berada di tingkat SD, SMP, atau SMA. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 12.30 WIB. Setelah KBM, semua santri diwajibkan untuk mengikut shalat Zuhur berjamaah di masjid. Para santri kemudian dipersilakan untuk istirahat sebelum menghadapi kegiatan madrasiyah di sore hari.
Pukul 01.15 WIB, semua santri wajib mengikuti kegiatan madrasiyah. Jenjang pendidikan di madrasiyah meliputi; Shifir, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Untuk di jenjang Aliyah, pada tahun ini kelas 2 masih menjadi kelas tertinggi, mengingat jenjang Aliyah di lembaga ini masih berumur 2 tahun. Hal ini disampaikan langsung oleh KH. Abdulloh selaku pengasuh sekaligus Ketua Yayasan. Setelah kegiatan KBM di madrasah berakhir, pengurus memberikan waktu senggang bagi santri yang ingin berolahraga. Kegiatan ini berlokasikan di lapangan pesantren.
Malam harinya, para santri diwajibkan untuk mengikuti shalat Magrib berjamaah di masjid. Setelah shalat Magrib, semua santri dan murid yang berada di jenjang Tsanawiyah diwajibkan untuk mengikuti kegiatan berupa baca kitab dan al-Quran. Masing-masing tingkatan memiliki jadwal yang berbeda. Jika kelas 1 semisal memiliki jadwal pembinaan baca kitab, maka tingkat selebihnya mengikuti pembekalan al-Quran. Begitupun sebaliknya.
Terdapat juga kegiatan lain seperti musyawarah pada pukul 19.30-20.30 WIB dengan siklus seminggu dua kali (malam Senin dan Kamis). Kegiatan musyawarah ini ditujukan untuk mengembangkan baca kitab santri dan murid setelah pembinaan.
PROGRAM UNGGULAN
Ada dua kegiatan yang menjadi program unggulan di lembaga ini. Yaitu baca kitab dan al-Quran. Keduanya berada di bawah kegiatan madrasiyah. Program unggulan ini bisa dilihat dengan keseriusan dan kesungguhan pengasuh beserta pengurus untuk menjaga, dan bahkan selalu meningkatkan dua kegiatan tersebut. Seperti mengangkat mualim-mualim yang sudah mendapat syahadah (legalitas) untuk mengajar al-Quran dari Pondok Pesantren Sidogiri. Dan kegiatan baca kitab yang langsung dibina oleh pengasuh bagi murid tingkat Tsanawiyah.
Selain itu, ada juga beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang langsung ditangani oleh pengurus pondok, seperti jam’iyah muballighin, dufuf, qiraah bit-taghanni, dan yang lainnya.






