Najran adalah nama provinsi di bagian selatan negara Arab Saudi, berbatasan dengan Yaman. Antara Najran dan Makkah terbentang jarak sejauh 800 km. Sejarah Najran bisa dilacak semenjak tahun 4.000 SM, ketika kota ini kali pertama dibabat oleh seseorang yang disebut bernama Najran bin Zaidan bin Saba’.
Kerajaan Himyar dalam peta politik Jazirah Arab pada tahun 330 M.
Setelah dikuasai oleh kerajaan-kerajaan lokal kawasan selatan Semenanjung Arabia, tahun 24 SM, Imperium Romawi Timur menaklukkan Najran, sebagai upaya perluasan wilayah setelah keberhasilan merebut Mesir. Sekitar 3 abad kemudian, Najran dikuasai oleh kerajaan Himyar dari Yaman.
Kawasan Ukhdud, reruntuhan dinding kuno di bagian selatan Najran.
Sekitar setengah abad sebelum kelahiran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (awal abad ke-6 M), Dzu Nuwas Yusuf bin Syarahbil, raja Himyar beragama Yahudi membantai Nasrani Najran yang teguh memegang agamanya. Beberapa mufassir dan sejarawan menyebut bahwa korban pembantaian Dzu Nuwas itulah yang dimaksud sebagai Ashhabul Ukhdud dalam QS al-Buruj: 4-10. Pembantaian Nasrani Najran dilakukan dengan cara membakar mereka di dalam parit (ukhdud), sesuai dengan narasi al-Quran.
Akan tetapi teori ini belakangan mulai diragukan. Dalam buku The Martyrs of Najran; New Document karya Irfan Shahid dari Georgetown University tahun 1971, dijelaskan bahwa ahli kitab di Najran (rata-rata imigran Ethiopia) dibantai karena mempertahankan akidah trinitas mereka, padahal konteks Ashabul Ukhdud dalam Islam adalah sebaliknya (mempertahankan ajaran tauhid). Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, ada pendapat yang menyatakan bahwa Ashabul Ukhdud adalah kaum Yahudi di Babilonia di era Nabi Daniel atau sekitar abad ke-6 SM, pasca penghancuran Jerusalem oleh Nebukadnezar (Bukhtanashar).
Sisa-sisa Kakbah tandingan yang dibangun Abrahah di Shanaa (Foto daritahun 1942).
Peristiwa pembantaian ini melatarbelakangi peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah agama-agama samawi di kawasan Jazirah Arab. Salah satu pemeluk Nasrani Najran yang selamat lantas meminta bantuan Kaisar Justinius I. Sang kaisar pun meminta kepada sekutunya, Najasyi Kaleb, penguasa Kerajaan Aksyum di Etiopia agar melakukan serangan ke Himyar. Sempat dipukul mundur dalam serangan pertama, pasukan Nasrani Aksyum berhasil dalam serangan kedua ketika dipimpin oleh Abrahah. Setelah berkuasa di Yaman, Abrahah membangun banyak gereja di berbagai daerah. Di juga terobsesi menandingi popularitas Kakbah yang disucikan seluruh bangsa Arab.
Ukiran kuno pada batu di kawasan Tihamah
merekam peristiwa penyerangan Kakbah oleh Abrahah pada Tahun Gajah.








