Sidogiri Media OnlineSidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Search
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: MEMBUNGKAM WAHABI DENGAN AL-IKHLAS
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Font ResizerAa
  • Account
  • Berlangganan
  • My Bookmarks
  • Ngaji Jurnalistik
Search
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Kajian » Kolom Akidah » MEMBUNGKAM WAHABI DENGAN AL-IKHLAS
KajianKolom Akidah

MEMBUNGKAM WAHABI DENGAN AL-IKHLAS

Redaksi
Last updated: 29 Juli 2022 1:13 pm
Redaksi
Share
8 Min Read
MEMBUNGKAM WAHABI DENGAN AL-IKHLAS
MEMBUNGKAM WAHABI DENGAN AL-IKHLAS
SHARE

Pada abad ke-4 hijriah lahir sebuah komunitas yang “mengaku” mengikuti ideologi Imam Ahmad bin Hambal yang mengukur segala hal melalui cara pandang al-Quran dan as-Sunnah. Dan tanpa memberi ruang sedikit pun kepada akal untuk berbicara. Sebab menurut mereka akal dapat mengantarkan kepada kesesatan. Pada akhirnya golongan ini sering kali terjebak dalam “menerjemahkan” ayat dan hadis mutasyabihat.

Semisal mereka mengartikan “yadullâh fauqa aydîhim” (QS. Al-Fath [48]: 10) dengan “Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka”. Interpretasi seperti ini sangat berdampak fatal. Dan dapat menjadikan mereka terjebak ke dalam paham tasybîh dan tajsîm (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) yang bisa menjadikan mereka keluar dari Islam.

Ibnu Taimiyah misalnya mengungkapkan dalam kitabnya, al-Majmû’ah al-Kubrâ fî Majmuatir-Rasâil al-Kubrâ, begini, “Para salaf bersepakat bahwa Allah mempunyai sifaf turun, di atas dan di bawah, dan mengenai hal itu tidak boleh dipertanyakan bagaimana dan seperti apa. Tidak kita temukan dalam teks al-Quran maupun hadis serta penjelasan sahabat, tabiin dan ulama-ulama selanjutnya yang mengatakan bahwa Allah tidak di langit, tidak di ‘ars, dan tidak di semua tempat”

Atas dasar ini, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa ideologi salaf yang sebenarnya, adalah menetapkan (itsbât) segala hal yang ditetapakan oleh al-Quran dan hadis, baik berupan sifat turun, bersemayam di atas ‘ars , memiliki tangan, wajah, rasa cinta, amarah tanpa harus ditakwil atau diarahkan pada makna yang lain.

Baca Juga: Akidah Ahlusunah Terhadap Shahabat Rasulullah I

Tak pelak, pernyataan kontroversi ini menuai banyak komentar dari para ulama di masanya. Statemen semacam ini menurut para ulama bagaimanapun juga tidak dapat menghindarkannya dari menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Bagaimana tidak, jika penisbatan sebuah panca indra dijadikan sebuah keniscayaan dengan sekadar mengacu pada teks zahir al-Quran berarti juga meniscyakan adanya keserupaan.

Di antara ulama yang membantah keras setatemen Ibnu Taimiyah di atas adalah al-Khatib bin Jauzi al-Hambali, dalam kitabnya, Daf’ut-Tasybîh, ia menyatakan: “Saya melihat ada sebuah golongan yang berbicara prihal perkara fundamental dalam urusan agama dengan hal yang tidak sepatutnya ia sampaikan. Ia juga mengarahkan sifat-sifat Allah kepada sifat-sifat makhluk-Nya. Lantas mereka mengatakan bahwa Allah memiliki wajah, mulut, dua tangan, dua kaki, dan anggota tubuh yang lain. Padahal sedikit pun mereka tidak memiliki dalil akan hal itu, baik melalui jalur nash ataupun secara rasio. Pun, mereka enggan untuk menggunakan perangkat bahasa guna mengarahkan sebuah sifat-sifat Allah kepada hal yang semestinya dimiliki oleh-Nya. Bahkan segalnya diukur berdasarkan teks zahir al-Quran dan hadis”

Dalam kitab tersebut, Ibnu Jauzi membantah bahwa mereka adalah golongan salaf. Begitu pula, menurutnya, statemen tersebut bukanlah pernyataan Imam Ahmad bin Hambal. Sebab pada dasarnya Imam Ahmad bin Hambal juga menolak atas cara pandang kaum pelaku tashbîh tersebut di dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat.

Baca Juga: Akidah Ahlusunah Terhadap Shahabat Rasulullah II

Dalam kitab Syarhu Mullâ Alî al-Qârî li Kitâbil-Fiqh al-Akbar, Abul Fadal at-Tamimi mengutip pernyataan Imam Ahmad bin Hambal atas penolakannya terhadap kaum Mujassimah begini, “Esensi dari sebuah nama hakikatnya diambil dari syariat atau bahasa. Menurut ahli bahasa kata “jisîm” dikatakan pada setiap sesuatu yang memiliki ukuran panjang, lebar, dan terdiri dari beberapa komponen anggota. Sedangkan Allah mustahil akan semua hal itu”.

Sebab pengaruh pemikaran kaum Mujassimah ini dipandang sangat membahayakan bagi akidah umat Islam, banyak dari kalangan ahli kalam membantahnya dengan dalil-dalil yang argumentatif, baik melalui orasi di majelis-majelis ilmu maupun melalui sebuah karya tulis yang secara khusus berbicara prihal penolakan mereka atas cara pandang kaum Mujassimah dalam memahami teks-teks ketuhanan.

Imam Fakhruddin ar-Razi, melalui kitabnya yang berjudul Asâsut-Taqdîs menolak keras pemikiran kaum Mujassimah yang secara masif disebarkan kepada khalayak ramai. Dalam bukunya tersebut ar-Razi menyampaikan beberapa hujjah yang diyakini sebagai bantahan yang belum terjawab oleh pelaku tashbih di zamannya.

Di antara argumentasi ar-Razi yang dibahas secara mendetail adalah diskursus tentang surah al-Ikhlas. Sudah lumrah diketahui bahwa konteks diturunkannya ayat dalam surah al-Ikhlas adalah timbul dari sebuah pertanyaan seorang shahabat kepada Nabi tentang hakikat Allah dan sifat-sifat-Nya. Lantas turunlah ayat ini (artinya);

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” (Qs. Al-Ikhlas [112]: 1-4 )

Surah Al-Ikhlas adalah ayat muhkamât bukan ayat mutasyabihât, karena ayat-ayat tersebut diturunkan guna menjadi jawaban atas sebuah pertayaan. Oleh sebab itu jika ditemukan seorang yang mengingkari esensi ayat tersebut dapat dipastikan bahwa ia termasuk dari golongan yang batil.

Baca Juga: Akidah Ahlusunah Terhadap Shahabat Rasulullah III

Ayat pertama, kata “Ahad (Yang Maha Esa)” secara otomatis menafikan sifat jisîm (beranggota tubuh atau bersifat benda), tempat dan arah bagi Allah. Sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa sebuah benda paling sedikitnya terdiri dari dua partikel terkecil atom yang tidak bisa dipecah lagi menjadi bagian yang lain. Begitupun setiap benda pasti memiliki sisi yang berlawanan. Logikanya seperti ini, adanya sisi sebelah kiri dikarenakan adanya sisi sebelah kanan, adanya arah depan dikarenakan adanya arah belakang, dan begitu seterusnya. Sedangkan Allah Mahatunggal serta Mahasuci dari semua itu.

Ayat kedua, Allah menjelaskan bahwa hanya Dialah dzat yang dibutuhkan oleh segala sesuatu. Dari ayat ini, ada dua hal yang menyatakan bahwa Allah Mahasuci dari segala tuduhan bahwa dzat-Nya adalah jisîm.

Pertama, sebagaimana maklum di muka bahwa jisîm pasti terdiri dari beberapa bagian dan tentu setiap satu dari bagian-bagian tersebut membutuhkan kepada bagian yang lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa setiap sesuatu yang membutuhkan kepada hal lain memastikan bahwa hal tersebut adalah perkara yang lemah.

Kedua, jika Allah terbentuk dari anggota tubuh, tentu Allah membutuhkan terhadap tangan untuk menyentuh, mata untuk melihat, dan kaki untuk berjalan. Dan semua hal itu mustahil bagi Allah.

Berkaitan dengan teks ayat kedua dari surah al-Ikhlas ini berupa lafal “as-shamad”, Hasan al-Bashri menafisirinya demikian; “Dia tetap tidak berubah-ubah, Dia tidak mungkin tidak ada, Dia ada sebelum adanya tempat, ‘arsy dan kursi, Dia bukan dari golongan manusia maupun jin, dan Dia sekarang sebagaimana sebelum diciptakannya tempat”

Hanya saja, Ahlussunnah wal Jamaah ketika menemukan pelaku tajsîm, tidak semerta-merta mengafirkan pelakunya. Imam ad-Dasuki, membagi sikap kepada pelaku tajsîm dengan dua katagori. Pertama, menjadi kafir bila meyakini Allah berbentuk seperti makhluknya. Kedua, berdosa bila meyakini Allah berbentuk namun tidak sama dengan makhluk-Nya. Kendati keduanya sama-sama argumen yang menyimpang.

Sanusi Baisuni/sidogiri

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

You Might Also Like

MASIH BINGUNG, NIKAH SAJA!

MEREVISI MODEL DEMONSTRASI MAINSTREAM

URGENSITAS TASAWUF DI ERA FITNAH

MERANGKUL LGBT?

APA YANG TAMPAK TAK MEWAKILI APA YANG TERSEMBUNYI

TAGGED:Salafi WahabiSidogiri MediaSidogirimedia.comWahabi

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.

By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Share
Previous Article AL-QURAN BUKAN KITAB SUCI? AL-QURAN BUKAN KITAB SUCI?
Next Article DEBAT ITU TIDAK BAIK DEBAT ITU TIDAK BAIK
Leave a Comment Leave a Comment

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Stay Connected

235.3kFollowersLike
69.1kFollowersFollow
11.6kFollowersPin
56.4kFollowersFollow
136kSubscribersSubscribe
4.4kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Latest News

Milad Sidogiri 288: Meluncurkan Website Resmi untuk Souvenir dan Pernak-Pernik
Liputan 28 Januari 2025
DAKWAH DENGAN MUSIK
Kajian 25 November 2024
NYANYIAN DAN TARIAN SUFI
Kajian 24 November 2024
SEKULARISME & HEDONISME
Kajian 6 November 2024
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.

Login
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

%d