Sidogiri Media OnlineSidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Search
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: ZIKIR ALPAMU TIDAK SIA-SIA
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Font ResizerAa
  • Account
  • Berlangganan
  • My Bookmarks
  • Ngaji Jurnalistik
Search
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Kajian » ZIKIR ALPAMU TIDAK SIA-SIA
KajianNgaji Hikam

ZIKIR ALPAMU TIDAK SIA-SIA

Khoiril Umam
Last updated: 20 Maret 2022 9:39 pm
Khoiril Umam
Share
6 Min Read
Zikir Alpamu Tidak Sia-Sia
Zikir Alpamu Tidak Sia-Sia
SHARE

لَا تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَمِ حُضورِكَ مَعَ اللهِ فيهِ. لِأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجودِ ذِكْرِهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلتِكَ في وُجودِ ذِكْرِهِ. فَعَسى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجودِ غَفْلةٍ إلى ذِكْرٍ مَعَ وُجودِ يَقَظَةٍ. وَمِنْ ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ يَقَظَةٍ إلى ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ حُضورٍ. وَمِنْ ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ حُضورٍ إلى ذِكِرٍ مَعَ وُجودِ غَيْبَةٍ عَمّا سِوَى المَذْكورِ. (وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيز)

“Jangan engkau tinggalkan berzikir kepada Allah sebab jiwamu belum bisa hadir bersama-Nya. Karena kealpaamu yang tidak disertai zikir, jauh lebih parah dari pada kealpaan yang disertai zikir. Boleh jadi, Allah akan mengangkat derajatmu dari zikir dengan kealpaan (ghaflah), menuju zikir dengan kesadaran (yaqazhah). Dari zikir dengan kesadaran, menuju zikir dengan hadirnya jiwa (hudhur). Lalu menuju zikir yang tiada hadir selain Dzat al-Madzkur (Allah).”

Yang dimaksud oleh Syekh Ibnu Athaillah dengan kara ‘zikir’ di dalam kalam hikmahnya di atas, adalah sebagaimana kata ‘zikir’ yang banyak disebutkan di dalam al-Quran, di mana kita sangat dianjurkan untuk mendawami-nya. Yaitu aktifitas ruhaniyah yang menjadikan seseorang tidak alpa kepada Allah. Hatinya selalu berinteraksi dengan Dzat Yang Mahagaib. Allah berfirman di dalam al-Quran:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِيْنَ.

‘’Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang alpa.” (QS. Al-A’raf [7]: 205)

Namun demikian, zikir hati (ingat kepada Allah) sulit terealisasi tanpa melalui zikir lisan (membaca zikir) terlebih dahulu. Meski tidak semua orang yang lisannya berzikir, hatinya juga ingat kepada Sang Khalik. Karena dengan beragam situasi dan kondisi, banyak ditemukan seorang hamba yang lisannya lincah menyebut nama Allah, tapi hatinya terlena dengan keindahan fana. Lisannya berzikir di dalam satu dimensi. Tapi hatinya terbuai di dalam dimensi lain.

Apabila kita mengalami kondisi seperti ini, maka apa yang harus kita lakukan? Di sinilah Syekh Ibnu Athaillah memberikan pengarahan. “Jangan engkau tinggalkan berzikir kepada Allah karena jiwamu belum bisa hadir bersama-Nya. Karena kealpaamu yang tidak disertai zikir, jauh lebih parah dari pada kealpaan yang disertai zikir.”

Mengapa tetap berzikir dengan kealpaan lebih baik dari pada meninggalkannya? Setidaknya ada tiga alasan yang disampaikan oleh Syekh Ahmad Zaruk, sebagaimana dikutip oleh Syekh Ramadan al-Buthi dalam kitabnya, al-Hikam al-Athaiyah Syarhun wa Tahlilun.

Pertama, dengan berzikir lisan, setidaknya seorang hamba masih terkoneksi kepada Allah, meski tidak seutuhnya. Berbeda ketika seorang hamba lalai dalam keadaan tidak berzikir lisan, maka kealpaannya adalah total.

Kedua, dengan berzikir lisan, seorang hamba telah menghiasi raganya dengan perhiasan ibadah, meski ibadah tersebut belum tenggelam ke dalam jiwa.

Ketiga, dengan berzikir lisan, setidaknya dapat menstimulus jiwa agar ikut berzikir kepada Allah. Lisan yang mengucapkan, telinga yang mendengarkan, lalu merangsang dan menjalar kepada anggota lain.

Hal ini juga pernah ditegaskan oleh Rasulullah kepada salah satu shahabatnya. Suatu hari, salah seorang shahabat datang menyampaikan perihal agama kepada Rasulullah. “Wahai Rasulullah, sungguh syariat agama ini sudah sangat banyak. Maka kabarkanlah kepadaku sesuatu yang bisa menguatkan aku,” pinta shahabat tadi. Maka Rasulullah pun menjawab. “Selalu basahilah bibirmu dengan zikir kepada Allah.”

Pada tahapan selanjutnya, dengan tetap sabar berzikir dengan lisan, meski hati belum bisa hadir seutuhnya, maka sangat besar harapan, kerasnya kealpaan jiwa akan hancur akibat keistikamahan zikir lisan.

Ketika seorang hamba telah istikamah dengan zikir lisan dalam kealpaan (ghaflah), lalu dia mendapatkan anugerah dari Allah dengan zikir lisan dalam keadaan sadar (yaqazhah), maka akan sangat besar kemungkinan Allah akan terus menaikkan derajatnya, dengan maunah-Nya, menjadi orang yang bisa berzikir serta menghadirkan jiwa raganya bersama Allah (hudhur).

Dari sini, terkadang kita masih mendengar seorang hamba mengeluhkan apa yang dia rasakan. “Saya sudah bisa berkonsentrasi dalam zikir. Lisan mantap melafalkan. Hati pun mengerti dan paham terhadap makna yang diucapkan. Akan tetapi, sampai saat ini saya belum bisa merasakan nikmatnya zikir.”

Apabila kita menemukan fenomena sedemikian, maka bisa dipastikan hamba tadi masih dalam tingkatan yaqadhah, belum pada tingkatan hudhur. Maka bertahan dan terus meningkatkan konsentrasi serta kesabaran, akan memudahkannya untuk menghadirkan segenap jiwa raga keharibaan Allah dalam berzikir.

Dan ketika lisan tidak hanya berucap. Hati tidak hanya mengeja makna kata per kata. Melainkan zikir yang diucapkan telah menumbuhkan rasa cinta, takut, segan, pengagungan serta beragam rasa yang sulit diungkapkan. Berzikir serasa membawa kita ke dunia fantasi dengan Allah sebagai fokus utama. Tak ada lagi yang ada selain Allah Yang Mahaada. Maka saat itulah puncak zikir seorang hamba kepada tuhannya. Menghadirkan seluruh milik kepada Dzat Yang Satu.

Itulah yang bisa kita pahami dari akhir kalam hikmah Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, “Boleh jadi, Allah akan mengangkat derajatmu dari zikir dengan kealpaan, menuju zikir dengan kesadaran. Dari zikir dengan kesadaran, menuju zikir dengan hadirnya jiwa. Lalu menuju zikir yang tiada hadir selain Dzat al-Madhkur (Allah).” Semoga bermanfaat.

Baca juga: Polemik Bendera HTI

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

You Might Also Like

BARAT PUN MENGAKUI KEAGUNGANNYA

MEMAHAMI SUNAH DAN BIDAH SECARA KAFFAH

MEREVISI MODEL DEMONSTRASI MAINSTREAM

PESANTREN DAN URGENSITAS BAHASA INGGRIS

BELI BARANG, KREDIT ATAU KONTAN

TAGGED:Sidogiri MediaSidogirimedia.com

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.

By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Share
Previous Article Ijtihad Versi As-suyuthi IJTIHAD VERSI AS-SUYUTHI
Next Article digitalisasi penyakit hati DIGITALASASI PENYAKIT HATI
Leave a Comment Leave a Comment

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Stay Connected

235.3kFollowersLike
69.1kFollowersFollow
11.6kFollowersPin
56.4kFollowersFollow
136kSubscribersSubscribe
4.4kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Latest News

Milad Sidogiri 288: Meluncurkan Website Resmi untuk Souvenir dan Pernak-Pernik
Liputan 28 Januari 2025
DAKWAH DENGAN MUSIK
Kajian 25 November 2024
NYANYIAN DAN TARIAN SUFI
Kajian 24 November 2024
SEKULARISME & HEDONISME
Kajian 6 November 2024
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.

Login
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

%d