Sidogiri Media OnlineSidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Search
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: SYAFII-ASYARI; SOLUSI CERDAS KEGADUHAN UMAT
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Font ResizerAa
  • Account
  • Berlangganan
  • My Bookmarks
  • Ngaji Jurnalistik
Search
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Kajian » SidoNesia » SYAFII-ASYARI; SOLUSI CERDAS KEGADUHAN UMAT
SidoNesia

SYAFII-ASYARI; SOLUSI CERDAS KEGADUHAN UMAT

Khoiril Umam
Last updated: 4 Juli 2021 1:28 pm
Khoiril Umam
Share
5 Min Read
Solusi Cerdas Kegaduhan Umat
Solusi Cerdas Kegaduhan Umat
SHARE

“Seandainya negeri ini menjadikan mazhab Syafii dan Asyari menjadi mazhab resmi yang diakui oleh negara, insya Allah tidak akan ada lagi kegaduhan-kegaduhan semacam ini. Sayangnya reformasi di negeri ini bukannya menumbuhkan benih-benih keteraturan yang sejuk, justru membuka kran kebebasan yang liar dan sulit dikendalikan.”

Ini adalah salah satu petikan tausiah Mas d. Nawawy Sadoellah di malam perayaan Hari Santri Nasional 2017 kemarin. Di sini saya tertarik mendiskusikannya.

Pertama, setidaknya kita harus menyadari, beberapa dekade terakhir bangsa Indonesia kerap kali tersandung isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), khususnya isu agama. Kegaduhan demi kegaduhan pecah di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang mejemuk.

Bahwa isu agama yang kerap dijadikan kail konflik, tidak akan pernah lepas dengan umat Islam sebagai pihak mayoritas. Dalam hal ini, saya tidak akan terlampau jauh membahas konflik lintas agama. Karena diagnosa kronis ini sudah bisa terobati dengan jimat sakti Pancasila.

Umat Islam adalah mayoritas. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Maka di sinilah pemerintah harus bijak dalam mengambil kebijakan.

Dalam sejarah, dikatakan bahwa Islam Indonesia dibawa oleh pedagang Gujarat. Jika ditarik garis ke atas, ternyata para ulama asal Gaujarat yang dimaksudkan adalah keturunan bangsa Arab di Hadramaut, Yaman. Umat Islam di daerah Hadramaut ini mayoritas bermazhab Syafii-Asyari.

Bukti riil yang tidak bisa dipungkiri, adalah mayoritas Muslim Indonesia masih setia dengan mazhab pendahulunya, ulama-ulama penebar rahmat dari Yaman; Syafii-Asyari. Pun, masih banyak penduduk Indonesia hingga saat ini yang beretnis Arab, namun lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia. Mereka pun masih memiliki datuk-datuk yang berada di Hadramaut.

Dua mazhab inilah yang kemudian disebarkan secara aktif oleh para ulama jauh sebelum Indonesia merdeka. Dan mazhab inilah pula yang menjadikan Muslim Indonesia bersatu padu melawan penjajah, menyadarkan mereka pentingnya pendidikan, pentingnya cinta tanah air, serta menjadikan mereka bisa berbaur dengan etnis, bangsa dan agama yang lain. Damai.

Namun, karena pengaruh penjajah Belanda yang sengaja berusaha memecah belah umat Islam, mulailah bermunculan beberapa perbedaan pendapat di antara tokoh-tokoh Islam.

Bahkan perbedaan tersebut berpengaruh pula di kalangan awam umat Islam. Lebih parah lagi, di saat penjajah Belanda telah pulang ke negara asalnya, mereka menyisakan warisan perpecahan di kalangan umat Islam, dengan bermunculannya aliran demi aliran yang menyebar di kalangan umat Islam di luar kontek Syafii-Asyari.

Terlebih, setelah adanya reformasi pada pertengahan 1998, tepatnya saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, digantikan wakil presiden BJ Habibie. Reformasi itu hanya menyisakan luka. “Reformasi di negeri ini bukannya menumbuhkan benihbenih keteraturan yang sejuk, justeru membuka kran kebebasan yang liar dan sulit dikendalikan.”

Ajaran wahabi yang sudah muncul pada tahun 1803, dibawa oleh Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang, tiga jamaah haji asal Sumatra Barat, yang awalnya tidak berani tampil di panggung Indonesia, sudah mulai menampakkan diri. Membawa ajaran khasnya. Takfiri sana takfiri sini. Muslim Indonesia gaduh. Tak lagi teduh.

Baca juga; Suguhan Novel Budaya Pesantren

Ajaran liberal yang benih pemikirannya datang pada tahun 1970. Dibawa oleh Nurkholis Majid, Harun Nasution, Mukti Ali, dan kawan- kawannya. Pasca reformasi semakin mengokohkan diri di bawah naungan JIL. Pluralisme, relatifisme, sekularisme semakin masif dijajakan. Muslim Indonesia semakin gaduh. Semakin tidak teduh.

Ajaran syiah, yang sudah diimpor pasca meletusnya revolusi Iran pada tahun 1979 M, semakin tidak terkendali pasca reformasi dengan kebebasannya. Celaan-celaan khas Syiah kepada Shahabat Nabi, telah melukai banyak hati. Taqiyah mereka telah menipu banyak umat. Muslim Indonesia semakin dan semakin gaduh. Semakin dan semakin tidak teduh.

Maka solusi paling tepat guna meredam kegaduhan ini, adalah dengan mengembalikan Muslim Indonesia pada jalan awal para ulama pembawanya; Syafii-Asyari.

“Seandainya negeri ini menjadikan mazhab Syafii dan Asyari menjadi mazhab resmi yang diakui oleh negara, insya Allah tidak akan ada lagi kegaduhan-kegaduhan semacam ini.

M. Muhsin Bahri/sidogiri

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

You Might Also Like

DIGITALASASI PENYAKIT HATI

MAZHAB POLITIK ULAMA KITA

LIHATLAH ALMAMATERKU!

POLEMIK BENDERA HTI

NGAPUNTEN KIAI*

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.

By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Share
Previous Article Antara Baik Dan Keji JIWA MANUSIA DIUJI, ANTARA BAIK DAN KEJI
Next Article Priode Khilafah Umar PERIODE KHILAFAH UMAR, ESTAFET MANDAT UNTUK KHALIFAH KEDUA
1 Comment 1 Comment
  • Redaksi berkata:
    4 Juli 2021 pukul 7:49 am

    5

    Balas

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Stay Connected

235.3kFollowersLike
69.1kFollowersFollow
11.6kFollowersPin
56.4kFollowersFollow
136kSubscribersSubscribe
4.4kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Latest News

Milad Sidogiri 288: Meluncurkan Website Resmi untuk Souvenir dan Pernak-Pernik
Liputan 28 Januari 2025
DAKWAH DENGAN MUSIK
Kajian 25 November 2024
NYANYIAN DAN TARIAN SUFI
Kajian 24 November 2024
SEKULARISME & HEDONISME
Kajian 6 November 2024
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.

Login
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

%d