Sidogiri Media OnlineSidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Search
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: “TERPAKSA…”
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Font ResizerAa
  • Account
  • Berlangganan
  • My Bookmarks
  • Ngaji Jurnalistik
Search
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Esai Majelis Keluarga » “TERPAKSA…”
Esai Majelis Keluarga

“TERPAKSA…”

Khoiril Umam
Last updated: 25 Oktober 2021 10:41 am
Khoiril Umam
Share
4 Min Read
Esai MAS DWY NAWAWI
Esai MAS DWY NAWAWI
SHARE

Bahkan, untuk sebuah pemainan sekalipun, masih harus ada hakim garis. Masih ada offiside, kartu kuning dan kartu merahnya. Apa lagi hal-hal yang sangat serius. Hanya orang gila yang tidak pernah memikirkan tentang ketentuan dan batasan-batasan.

Kita adalah makhluk yang ‘maha terbatas’. Antonim “Yang Maha Bebas dan Maha Tak Terbatas’’.

Kita Bebas bergerak di dalam batas, di dalam batasan, dan di dalam keterbatasan. Jadi, bebas itu sebenarnya batas. Tak ada kebebasan yang tanpa adanya batasan, dan tak ada batasan tanpa adanya kebebasan. Batasan dibuat Ketika kebebasan hendak diberikan. Kebebasan diberikan karena di situ sudah ada batasan.

Maka, Kebebasan itu sebenarnya tidak ada. Kalaupun ada, hanyalah eufemisme dari kata batasan. Karena itulah kita tidak hanya sepakat mengenai adanya kebebasan. Yang lebih mendasar lagi, kita sepakat mengenai adanya batasan. Kalupun terjadi ketidaksepakatan, itu hanyalah soal ketentuan dan kriteria, bukan soal ada dan tiada. Sudah maklum, setiap otoritas, juga setiap komunitas, memiliki pandangannnya sendiri-sendiri soal kriteria.

Keterbatsan membuat belajar-bahkan terpaksa-menerima kenyataan. Batasan membuat kita belajar atau terpaksa menerima ketentuan.

Barangkali, peradaban manusia ini tidak akan bisa terbangun tanpa ada keterpaksaan ini. Terpaksa untuk mencukupi diri. Terpaksa untuk melindungi diri. Terpaksa untuk menahan diri. Terpaksa untuk memperbaiki diri. Maka, bersyukurlah bila kita termasuk di dalam jajaran orang-orang yang terpaksa seperti ini.

Kehebatan itu dimulai dari keterpaksaan untuk melatih diri sebagaimana kesalehan, juga dimulai dari keterpaksaan untuk membiasakan hal-hal yang baik. Dari terpaksa menjadi terbiasa. Dari terbiasa menjadi jiwa.

Karena itulah, merupakan suatu keberuntungan yang besar, jika ada orang, barang, atau keadaan yang membuat kita terpaksa untuk berkembang. Kita perlu menyadari, bahwa sebagian yang sangat besar dari manusia, belum maqam-nya untuk menjadi baik dan benar atas dasar kesadaran sendiri. Maqam kita mula-mula harus dipaksa atau terpaksa menjadi baik.

Saya punya seorang teman. Dia punya analisis yang unik. Katanya:orang-orang munafik itu tentu saja sangat buruk. Nerakanya di lapis paling bawah. Di bagian kerak. Pun demikian, jika kita berkenan melihatnya dari sudut pandang yang lain, maka boleh jadi, munculnya orang -orang munafik itu justru merupakan pertanda bagi sekelilingnya.

Mengapa? Alur ceritanya begini. Orang munafik itu pura-pura beriman karena terpaksa. Mereka takut atau malu untuk terang-terangan kafir. Hal itu menunjukkan bahwa keimanan masyarakat sekitarnya sedang kuat. Menjadi mayoritas yang militan. Sehingga, muncullah orang segelintir orang berijiwa buruk yang takut, tidak percaya diri atau malu untuk menunjukkan keburukannya.

Baca juga: “Khayalan…”

Zaman terbaik di dunia ini adalah geng keburukan memilih tiarap kerena malu atau takut. Maka, tentu saja, zaman ini menjadi buruk ketika keburukan sudah menjadi kebanggaan, mendapat aplaus dan menjadi pertunjukan kolosal yang di elu-elukan. Sedangkan yang baik harus bersembunyi karena takut atau tidak percaya diri.

Karena itulah parade putih hijau itu penting. Berjejal-jejal di sepanjang jalan. Bening dan sejuk. Ternyata, sehelai sarung hijau yang sederhana itu bisa menjadi syiar. Mengangkat kepercayaan diri akan identitas kaum santri untuk tampil. Bukan di panggung pertunjukan dan tampilan, tapi di panggung perjuangan dalam mengibarkan bendera-bendara kebaikan.

MAS DWY SADOELLAH

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

You Might Also Like

NGANTUK

“KHAYALAN…”

TAGGED:Esai MAjelis keluargaTerpaksa

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.

By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Share
Previous Article Panduan praktis zakat fitrah PANDUAN PRAKTIS ZAKAT FITRAH
Next Article kemuliaan allah di atas segalagalanya KEMULIAAN ALLAH DI ATAS SEGALA-GALANYA
Leave a Comment Leave a Comment

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Stay Connected

235.3kFollowersLike
69.1kFollowersFollow
11.6kFollowersPin
56.4kFollowersFollow
136kSubscribersSubscribe
4.4kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Latest News

Milad Sidogiri 288: Meluncurkan Website Resmi untuk Souvenir dan Pernak-Pernik
Liputan 28 Januari 2025
DAKWAH DENGAN MUSIK
Kajian 25 November 2024
NYANYIAN DAN TARIAN SUFI
Kajian 24 November 2024
SEKULARISME & HEDONISME
Kajian 6 November 2024
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.

Login
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

%d