Sidogiri Media OnlineSidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Search
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: MENGENANG JASA TOKOH-TOKOH MUSLIM JEPANG DI INDONESIA
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Font ResizerAa
  • Account
  • Berlangganan
  • My Bookmarks
  • Ngaji Jurnalistik
Search
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Jeda » Kilas Balik » MENGENANG JASA TOKOH-TOKOH MUSLIM JEPANG DI INDONESIA
Kilas Balik

MENGENANG JASA TOKOH-TOKOH MUSLIM JEPANG DI INDONESIA

Redaksi
Last updated: 20 November 2022 10:54 pm
Redaksi
Share
4 Min Read
MENGENANG JASA TOKOH-TOKOH MUSLIM JEPANG DI INDONESIA
MENGENANG JASA TOKOH-TOKOH MUSLIM JEPANG DI INDONESIA
SHARE

Foto di atas diambil tepat 74 tahun silam. Tanggal 24 April 1943. Foto tersebut merekam momen peringatan Maulid Nabi Muhammad r di Masjid Kwitang Jakarta.

Tampak pada foto seorang berpakaian khas Timur Tengah sedang menyampaikan pidato di hadapan umat Muslim pribumi. Sosok pria berserban itu bukanlah ulama atau syekh dari Kerajaan Arab Saudi, tapi ia adalah salah seorang perwira militer Jepang bernama Abdul Mun’im Inada.

Disebutkan bahwa Abdul Mun’im Inada adalah perwira yang melantik para alumni pusat latihan militer pemuda pribumi menjadi anggota PETA.

***

Selain Abdul Mun’im Inada, terdapat pula nama Muhammad Taufik Suzuki, Yusuf Saze, Prof Kanaya, serta Abdul Hamid Nobuharu Ono.

Prof Kanaya adalah seorang ilmuwan yang concern mengkaji tentang Islam dan umat Islam. Ia adalah tokoh penting di balik acara pameran dan kongres Islam yang digelar di Tokyo dan Osaka pada November 1939 yang juga dihadiri delegasi perwakilan ulama Indonesia. Usai kongres itu, Prof Kanaya berangkat ke Indonesia demi memperkuat ikatan antara umat Muslim kedua negara.

Sedangkan Abdul Hamid Ono adalah seorang perwira Jepang beragama Islam dan ditugaskan di Jakarta sejak Perang Dunia II.

Abdul Hamid Ono terlibat aktif dalam upaya diplomasi yang dilakukan oleh KH Wahid Hasyim untuk membebaskan Rois Akbar NU, KH Hasyim Asy’ari dari tahanan militer Jepang. Kiai Hasyim pernah ditahan pada tahun 1942 oleh penguasa militer Jepang tepat pada masa-masa awal penjajahan Negeri Matahari Terbit itu di Hindia Belanda.

Peran Abdul Hamid Ono sebagai pembuka jalur diplomasi dan komunikasi antara pihak Tebuireng dan militer Jepang dikupas dengan jelas dalam buku Seri Tempo: Wahid Hasyim (Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan). Dalam buku ini dijelaskan bahwa Abdul Hamid Ono adalah pejabat dinas rahasia Jepang yang dekat dengan keluarga Kiai Asy’ari. Beliau bertugas di Gresik, Jawa Timur, dan sering berkunjung ke Pondok Pesantren Tebuireng (hlm 72, 2011).

LIHAT JUGA VIDEO TENTANG MENGENANG JASA TOKOH-TOKOH MUSLIM JEPANG DI INDONESIA

https://www.youtube.com/watch?v=32_o4e5gy94

Sementara itu, Aboebakar Atjeh dalam buku Sedjarah Hidup Wahid Hasjim, juga menegaskan adanya peran dari Abdul Hamid Ono dalam membuka pintu diplomasi agar Kiai Wahid bersama KH Wahab Hasbullah dapat menemui pembesar Jepang di Jakarta. Hasil dari diplomasi oleh kedua tokoh itu membuahkan hasil positif: Kiai Hasyim dikeluarkan dari terali besi pada 18 Agustus 1942, setelah 4 bulan berada dalam ruang tahanan.

Upaya diplomasi yang dilakukan oleh Kiai Wahid dan Kiai Wahab yang dibantu oleh Abdul Hamid Ono, secara tidak langsung mengubah cara pandang pihak Jepang terhadap kalangan pesantren khususnya, dan umat Islam pada umumnya. Umat Islam tidak lagi dianggap sebagai ancaman yang berpotensi mengganggu kekuasaan Jepang di Hindia Belanda.

Sejak saat itu, terjadi kolaborasi politik yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Hal itu ditandai dengan didirikannya sejumlah organisasi seperti Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), Kantor Urusan Agama (Shumubu), serta dibentuknya pasukan PETA (Pembela Tanah Air) yang dilatih secara khusus oleh militer Jepang.

Bahkan pasukan paramiliter khusus untuk umat Islam seperti Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah juga dibentuk oleh Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), organisasi pengganti MIAI, atas izin dari pemerintah Jepang.

PETA adalah cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Bersama dengan Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah, ketiganya adalah pahlawan yang menjaga kedaulatan NKRI, baik dari serangan pasukan sekutu pada akhir 1945, hingga agresi milter ke-2 Belanda pada tahun 1949.

Kolaborasi tersebut juga melahirkan langkah-langkah strategis lain, seperti diterbitkannya majalah Soeara MIAI, didirikannya Universitas Islam Indonesia dengan Abdul Kahhar Muzakkir sebagai ketua, ditetapkannya libur setengah hari pada hari Jumat di kantor-kantor pemerintah sejak 1 Mei 1945, serta dicetaknya mushaf al-Quran untuk kali pertama di tanah air pada 8 Juli 1945.

Moh. Yasir/sidogiri

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

You Might Also Like

1983-1985 PETRUS: ANCAMAN BAGI PENJAHAT KELAS TERI

WAFATNYA HARUN AR-RASYID DAN AWAL MULA KONFLIK ANTARA AL-AMIN DAN AL-MAKMUN

PERANG TABUK, RAJAB 9 H. PERANG YANG TAK PERNAH TERJADI

6 RABIUL AKHIR 541 HIJRIYAH GUGURNYA SANG PIONER PEMBEBASAN AL-AQSHA

MENERKA PELOPOR PERINGATAN MAULID NABI

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.

By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Share
Previous Article Peristiwa Penculikan seokarno-hatta Ke Rengasdengklok PERISTIWA PENCULIKAN SOEKARNO-HATTA KE RENGASDENGKLOK
Next Article Mereka Riya atau Buruk Sangka? MEREKA RIYA ATAU KITA BURUK SANGKA?
Leave a Comment Leave a Comment

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Stay Connected

235.3kFollowersLike
69.1kFollowersFollow
11.6kFollowersPin
56.4kFollowersFollow
136kSubscribersSubscribe
4.4kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Latest News

Milad Sidogiri 288: Meluncurkan Website Resmi untuk Souvenir dan Pernak-Pernik
Liputan 28 Januari 2025
DAKWAH DENGAN MUSIK
Kajian 25 November 2024
NYANYIAN DAN TARIAN SUFI
Kajian 24 November 2024
SEKULARISME & HEDONISME
Kajian 6 November 2024
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.

Login
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

%d