Sidogiri Media OnlineSidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Search
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: MULAI DARI DOA YA QAWIYYU HINGGA TRADISI KUE APEM
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Font ResizerAa
  • Account
  • Berlangganan
  • My Bookmarks
  • Ngaji Jurnalistik
Search
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Liputan » Jelajah » MULAI DARI DOA YA QAWIYYU HINGGA TRADISI KUE APEM
Jelajah

MULAI DARI DOA YA QAWIYYU HINGGA TRADISI KUE APEM

Redaksi
Last updated: 23 Agustus 2022 3:20 pm
Redaksi
Share
7 Min Read
MULAI DARI DOA YA QAWIYYU HINGGA TRADISI KUE APEM
MULAI DARI DOA YA QAWIYYU HINGGA TRADISI KUE APEM
SHARE

Asal keturunan kiai-kiai Jawa memilki akar yang sama, yakni para wali sunan pembawa Islam ke tanah Jawa dari jalur Arab, mereka memiliki padepokan pesantren dengan asimilasi kuat budaya setempat. Nama terkenal di era kini adalah Wali Songo terutama Sunan Malik Ibrahim yang berpengaruh besar melahirkan Kerajaan Demak Bintara.

Di masa peletakan dasar Mataram Islam ini terdapat nama Ki Ageng Gribig (KAG) yang dikenal sebagai “Syekh Wasibagno”, kata wâsi berakar dari akar kata wasiat yakni bahwa beliau pemegang wasiat dakwah Islam wilayah tengah tanah Jawa di Jatinom, Klaten.

Setelah Silsilahnya menurut Indarjo seorang Wedana Jatinom dalam rapat panitia Yaqawiyyu pada tanggal 11 Safar 1884 atau berketapatan 30 Oktober 1952, mengarah langsung kepada Raja Brawijaya Majapahit. Silsilah itu termaktub dalam buku Riwayat Kyai Ageng Gribig Jatinom, Klaten.

Ki Ageng Gribig adalah cucu Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, putra dari R.M. Guntur atau Prabu Wasi Jolodoro. Ki Ageng Gribig merupakan salah satu ulama pada zaman Mataram yang menyebarkan agama Islam khususnya di Jatinom. Dia semasa hidupnya sempat naik haji ke Makkah, dan sepulang dari Makkah membawa oleh-oleh berupa kue dari Arab Saudi yang kemudian dibagikan kepada muridmuridnya. Karena banyaknya jumlah murid, kue tersebut tidak mencukupi, maka Ki Ageng Gribig meminta istrinya, Nyi Ageng Gribig untuk membuatkan kue Apem supaya kekurangan itu tercukupi. Kue inilah yang kemudian disebut dengan nama Apem Ya Qawiyu, berasal dari doa Kyai Ageng Gribig sebagai penutup pengajian yang berbunyi: “Yâ Qawiyyu yâ Azîz qawwina wal muslimîn, Yâ Qawiyyu warzuqnâ wal muslimîn”, yang artinya Ya Tuhan berikanlah kekuatan kepada kami segenap kaum Muslimin. Bahkan kami melihat nama “Ya Qawiyyu” terpampang jelas di gapura kompleks pemukiman masyarakat setempat. Menunjukkan akan kerekatan masyarakat desa “Ya Qawiyyu” terhadap peninggalan dakwah luhur Ki Ageng Gribik. Apem Ya Qawiyyu tersebut sampai sekarang diperingati menjadi upacara adat di Jatinom yang diselenggarakan setiap tahun pada hari Jumat, sekitar tanggal 15 bulan Safar dalam penanggalan Jawa, berlokasi di dekat makam Ki Ageng Gribig dengan diikuti ratusan orang.

Baca Juga: Menjaga Tradisi Salaf Dan Menjauhi Dunia Popularitas

MULAI DARI DOA YA QAWIYYU HINGGA TRADISI KUE APEM
Pusara Ki Ageng Gribig

Satu tujuan dakwah, namun dengan beragam metode dakwah. Inilah merupakan interpretasi dari keindahan dakwah para Wali Songo ketika babat alas menyebarkan Islam di tanah Jawa. Begitu pula metode dakwah yang emban oleh Ki Ageng Gribig. Beliau lebih diidentikkan dengan tradisi rutin tahunan di Jatinom, yaitu acara sebaran kue Apem. Konon kata Apem merupakan kata serapan bahasa Arab “Affan”, yang bermakna Ampunan. Tujuan diadakannya acara sebaran kue apem itu agar masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Khalik.

Ketika memasuki area makam, terlihat menggantung di atas cungkup beberapa baris tulisan dalam huruf Jawa di sebelah kiri, dan dalam aksara Latin di sebelah kanan. Bunyi kalimat itu adalah, Hambabar ubaling karso, hadedasar pancasila, hangudi luhuring bongso, hangayati kanti waspodo, handayani sentoso karto-raharjo. Arti terjemahan bebasnya, “Terurai keinginan diri, berdasar pada Pancasila, bercita-cita menjadi bangsa yang luhur, menghayati hidup dengan waspada, mendorong kemakmuran.”

Di samping area makam Ki Ageng Gribig terdapat beberapa tempat, di antaranya Masjid Agung Jatinom dan Sendang Palampeyan, Sendang Suran dan Guwo Belan, Masjid Tiban dan Oro-Oro Tarwiyah yaitu tempat di mana ki Ageng menanam tanah yang dibawanya dari Arafah, Makkah. Ki Ageng ketika mengumpulkan air untuk bekal wukuf di Arafah pada tanggal 8 bulan Dzul Hijjah menyebut tanah itu Yaumut-Tarwiyah yang artinya bahwa pada waktu itu para jamaah haji mengumpulkan air sebanyak-banyaknya untuk bekal wukuf di Arafah.

Banyak peninggalan-peninggalan beliau yang menjadi bukti sejarah bahwa Ki Ageng Gribig adalah ulama besar yang berhasil dalam dakwahnya. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Besar Jatinom yang dulu dijadikan pusat belajar mengajar, serta tongkat beliau yang sampai sekarang dijadikan sebagai tongkat Khatib ketika shalat Jumat, serta kolam wudhu yang konon adalah tempat wudhu Ki Ageng Gribig beserta santrinya yang berjarak 50 meter dari masjid yang bernama Sendang Plampeyan, Gua Suran dan juga Gua Belan.

Baca Juga: Kesederhanaan Bersahaja Dengan Suasana Keilmuan

MULAI DARI DOA YA QAWIYYU HINGGA TRADISI KUE APEM
Lokasi upacara pembagian kue Apem Ya
Qawiyyu

Gua Suran letaknya tak jauh dari Mesjid Besar Jatinom. Gua ini, dulunya, adalah tempat bersemedi Ki Ageng Gribig. Konon, ular dan macan menjadi penjaganya, saat ia bersemedi. Meski berbentuk terowongan, Gua Suran ini tidak terlalu dalam, bahkan lebarnya hanya selebar tubuh manusia. Tingginya, memaksa orang yang masuk ke dalam untuk merunduk, agar tak terantuk atap gua.

Tak jauh dari Gua Suran ini, Ki Ageng Gribig sempat memanfaatkan sebuah bangunan kecil sebagai tempat ibadah, saat ia pertama kali datang ke Jatinom. Sementara Gua Belan, yang letaknya di sebelah timur Gua Suran, juga merupakan tempat bersemedi Ki Ageng Gribig, yang terkadang dijadikan tempat bertemu dengan Sultan Agung. Disebut-sebut, ia mampu melakukan perjalanan dari tempat tinggalnya di Jatinom, ke Makkah al-Mukarramah, dalam waktu singkat, bak orang melempar batu.

Gerbang makam Ki Ageng Gribig selalu dikunci di bawah kontrol pengurus makam. Hal itu sebenarnya bukan bertujuan menghalangi para peziarah. Namun, demi menjaga ketertiban dan kenyamanan para peziarah lain oleh sebab lorong menuju makam yang tidak terlalu lebar. So, tujuan ziarah tiada lain demi mendapat berkah dan sebagai langkah mengingat keluhuran dakwah leluhur para ulama Nusantara.

Ada butiran hikmah dalam setiap dakwah. Hal itu juga dituangkan oleh Ki Gribig dengan tradisi Apem Ya Qowiyyu-nya. Tradisi yang unik, namun sarat akan ibadah. Hingga sekarang, tradisi tersebut dirayakan oleh masyarakat sekitar dengan ratusan orang yang khidmat mengharap berkah.

M. Baihaqi/sidogiri

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

You Might Also Like

MUSLIMAH GENERASI QURANI

PANGERAN KATANDUR DI SUMENEP

GELIAT INTELEKTUAL ANDALUSIA

BERHITUNG UNTUNG-RUGI PESANTREN PLAT MERAH

IBNU HISYAM AL-ANSHARI, PAKAR BAHASA SEKELAS IMAM SIBAWAIH

TAGGED:Majalah PesantrenSidogiriMediaSidogirimedia.com

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.

By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Share
Previous Article PINANG BUAH SEPAT KAYA MANFAAT PINANG BUAH SEPAT KAYA MANFAAT
Next Article KIAI TUAN RUMAHNYA, HABAIB TAMUNYA KIAI TUAN RUMAHNYA, HABAIB TAMUNYA
Leave a Comment Leave a Comment

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Stay Connected

235.3kFollowersLike
69.1kFollowersFollow
11.6kFollowersPin
56.4kFollowersFollow
136kSubscribersSubscribe
4.4kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Latest News

Milad Sidogiri 288: Meluncurkan Website Resmi untuk Souvenir dan Pernak-Pernik
Liputan 28 Januari 2025
DAKWAH DENGAN MUSIK
Kajian 25 November 2024
NYANYIAN DAN TARIAN SUFI
Kajian 24 November 2024
SEKULARISME & HEDONISME
Kajian 6 November 2024
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.

Login
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

%d