Sidogiri Media OnlineSidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Search
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: MENUNGGANGI UNTA POLITIK
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Font ResizerAa
  • Account
  • Berlangganan
  • My Bookmarks
  • Ngaji Jurnalistik
Search
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Utama » Topik Utama » MENUNGGANGI UNTA POLITIK
Topik Utama

MENUNGGANGI UNTA POLITIK

Khoiril Umam
Last updated: 8 Juli 2021 11:31 pm
Khoiril Umam
Share
8 Min Read
Menunggangi Unta Politik
Menunggangi Unta Politik
SHARE

Apapun itu, kalau sudah menyangkut urusan publik maka dukungan kekuatan politik sangatlah dibutuhkan. Urusan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lebihlebih agama yang sedari awal memang datang untuk mengatur umat manusia dengan tuntunan akidah yang benar, perilaku yang baik serta budi pekerti yang mulia.

Untuk ajaran-ajaran agama yang menyangkut hal-hal sangat pribadi, mungkin masih masuk akal jika dinyatakan tidak memerlukan kekuatan politik. Namun, ketika ajaran itu sudah menyangkut tatanan masyarakat, maka kekuatan politik adalah hal yang niscaya. Dalam konteks ini, barangkali hanya orang- orang yang menomorduakan agama yang beranggapan bahwa agama merupakan suatu yang ‘tabu’ dalam politik.

Pernyataan bahwa agama harus dipisahkan dari negara dan politik jelas merupakan pernyataan sekularistik yang memasung peran agama agar menjadi nilai yang terasing dari berbagai sisi nyata kehidupan manusia. Pernyataan ini bernada hendak mengurung agama, mempersempit serta membatasi ruang geraknya di pojokpojok masjid dan musalla.

Sedangkan pernyataan semacam kalimat “Agama jangan dibawabawa ke dalam politik” merupakan pernyataan yang masih sangat ambigu. Jika maksudnya, jangan memperalat agama untuk nafsu kekuasaan, maka pernyataan tersebut adalah benar. Tapi, jika maksudnya adalah hindarkanlah politik dari kepentingan agama, atau jangan menerapkan tuntunan agama dalam urusan politik, maka pernyataan tersebut merupakan suatu yang sangat batil.

Pernyataan-pernyataan ambigu dan multitafsir semacam ini, khususnya terkait hubungan antara agama dan politik atau negara, boleh jadi merupakan propaganda untuk menyesatkan opini publik. Propaganda itu bisa dengan mudah diterima oleh logika publik karena oknum yang menggunakan agama untuk kepentingan politik menggunakan tampilan, simbol dan aksesoris yang mirip dengan orang yang benar-benar tulus menggunakan politik sebagai alat untuk kemaslahatan agama. Dari segi tujuan, keduanya memang sangat kontradiktif, namun dari segi tampilan dan kemasan boleh jadi keduanya sangatlah mirip.

Oleh karena itu, cara pandang publik dalam menilai fenomena tersebut lebih ditentukan secara subyektif oleh selera masing-masing orang. Kalangan yang kontra cenderung menggeneralisasi gerakan keislaman di dunia politik dengan vonis “politisasi agama”. Sedangkan kalangan yang pro langsung menyatakan gerakan tersebut sebagai “dakwah struktural”.

Apakah si fulan memperalat agama untuk kepentingan politik ataukah menjadikan politik sebagai kendaraan agama, hal itu pada hakikatnya kembali kepada niat, motivasi dan komitmen masing-masing. Kalau misalnya ada satu tanda yang bisa kita jadikan acuan lahiriah, maka hal itu adalah konsistensi dia dalam memperjuangkan nilai-nilai keagamaan.

Ketika ada sebuah partai politik berbasis keislaman ternyata tidak konsisten dengan perjuangan keagamaan, atau bahkan mengorbankan ajaran dan tuntunan agama untuk kepentingan kekuasaan, maka sudah bisa ditebak bahwa simbol dan basis keislaman itu hanya dia jadikan alat untuk nafsu politiknya. Dan hal ini, sepertinya, sudah seringkali terjadi di negeri kita akhir-akhir ini.

Kekuatan Politik dalam Perkembangan Islam

Selama satu dekade setelah hijrah, tidak bisa dipungkiri oleh sejarah manapun bahwa Rasulullah  membangun kekuatan politik untuk melancarkan dakwahnya. Bahkan, kekuatan politik itu seringkali beliau upayakan melalui perjuanganperjuangan militer yang sangat melelahkan. Sebab, pada saat itu, kekuatan politik nyaris ‘hanya’ bisa didapat melalui aksi militer. Bagaimana tidak, dakwah beliau dikepung oleh tiga kekuatan adikuasa yang waktu itu memiliki agama resmi. Persia dengan Majusinya, Romawi dengan Nasraninya, juga Abbesinia -Mesir dengan Kristen Koptiknya.

Hal yang hampir sama terjadi selama masa Khulafaur Rasyidin dan Dinasti Umayyah, dengan lawan yang semakin beragam, seperti bangsa Barbar, Turki, Eropa, hingga China dan India, dengan beragam agama dan kepercayaan mereka.

Tentu tidak bisa kita katakan bahwa Islam di masa Abad Pertengahan diperjuangkan dengan pedang. Sama sekali tidak. Akan tetapi, jika dikatakan bahwa Islam menjadikan kekuatan politik sebagai salah satu alat untuk menjalankan misinya, maka hal itu benar. Mengenai adanya jihad militer yang dilakukan pada masa tersebut, hal itu bukan karena Islam menyukai perang, tapi karena aksi militer nyaris merupakan satu-satunya cara yang paling memungkinkan untuk mendapatkan kekuatan politik pada masa itu. Tentu hal itu, jauh berbeda dengan ‘situasi’ dunia di saat ini, di mana kekuatan politik sudah biasa didapatkan dengan cara-cara di luar militerisme.

Jika ada orang Islam yang berpandangan hendak menerapkan jihad militer pada masa seperti saat ini, maka bisa kita katakan bahwa dia terlambat lahir, karena setting perpolitikan di dunia sudah tidak seperti Abad Pertengahan lagi. Sebaliknya, jika ada orang yang sangat antipati dengan jihad militer yang ada dalam sejarah Abad Pertengahan, maka dia adalah orang dungu, karena dia hendak menyamakan cara meletakkan telur dengan cara melemparkan batu.

Bagaimanapun teknisnya, yang jelas dakwah Islam tentu akan mengalami banyak sekali hambatan jika tidak disokong dengan otoritas politik di belakangnya. Oleh karena itu, dalam banyak hadis, Rasulullah  sangat menekankan persatuan politik umat Islam.

Sinisme terhadap Politik Islam

Ada banyak orang-orang kita yang sinis dengan gerakan politik Islam dengan menostalgiakan dakwah Walisongo di Nusantara. Misalnya dengan menyatakan bahwa Walisongo mengislamkan Nusantara dengan caracara pendekatan budaya yang sangat persuasif dan jauh dari politik.

Pernyataan semacam ini bisa benar bisa salah, tergantung apa maksudnya. Jika maksudnya, bahwa perkembangan Islam di luar Nusantara dicapai melalui cara-cara yang tidak simpatik, maka hal itu salah besar. Para juru dakwah Islam di belahan dunia manapun (tidak hanya Walisongo) menggunakan caracara persuasif untuk menyadarkan orang mengenai kebenaran Islam, karena keyakinan memang tidak bisa diciptakan secara instan dengan kekuatan, tapi bisa ditumbuhkan melalui perenungan dan penanaman yang terus menerus. Mengenai adanya jihad militer di masa lalu, hal itu bukanlah cara untuk menyadarkan orang, tapi cara untuk membangun kekuatan politik yang memang sangat diperlukan dalam menjaga suasana yang kondusif bagi dakwah.

Pernyataan bahwa Walisongo tidak menggunakan jalur politik jelas tidak benar dan tidak sesuai dengan fakta sejarah. Sejarah mencatat bahwa Walisongo merupakan pemrakarsa berdirinya kerajaan Islam Demak, bahkan ada beberapa yang terlibat langsung dalam pengendalian militer Demak dalam meruntuhkan dominasi kerajaan Hindu. Sunan Kudus selain merupakan imam Masjid Demak, beliau juga tercatat panglima perang Demak, khususnya dalam proses penaklukan Majapahit. Hal itu terjadi sebelum beliau pindah ke Kudus. Sunan Giri mendirikan pemerintahan di Gresik. Begitu pula Sunan Gunung Jati memiliki pemerintahan di Cirebon yang kemudian diwarisi oleh putranya, Sultan Hasanuddin.

Oleh karena itu, pernyataanpernyataan yang sinis terhadap gerakan politik umat Islam sangat perlu ‘dilirik’ dengan mata curiga. Jangan-jangan hal itu merupakan propaganda agar umat Islam yang memiliki ghirah keagamaan tinggi menjauhi dunia politik, sehingga kendali-kendali penting kekuasaan dipegang oleh orang-orang non Muslim, atau minimal dipegang oleh orang Islam yang tidak peduli terhadap agamanya. Kalau hal itu terjadi, sangat mungkin identitas keislaman akan termarjinalkan, atau bahkan hilang hingga dari kolom KTP sekalipun.

Ahmad Dairobi/sidogiri

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

You Might Also Like

MENDENGKUR DI RIUH UIGHUR…

DARI PAKUAN PAJAJARAN, KERAJAAN CAMPA HINGGA KETURUNAN RASULULLAH

9 MEI 1655 TAJ MAHAL SELESAI DIBANGUN

GEN MULIA

MOTIF MENDUKUNG PALESTINA

TAGGED:Menunggangi Unta PolitikSidogirimedia.com

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.

By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Share
Previous Article RASA SYUKUR ISTRI DALAM KELUARGA SAKINAH RASA SYUKUR ISTRI DALAM KELUARGA SAKINAH
Next Article Agama Dan Politik AGAMA DAN POLITIK TIDAK TERPISAHKAN
2 Comments 2 Comments
  • Khoiril Umam berkata:
    2 November 2020 pukul 3:56 am

    5

    Balas
  • Anonim berkata:
    17 Juni 2021 pukul 3:37 pm

    5

    Balas

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Stay Connected

235.3kFollowersLike
69.1kFollowersFollow
11.6kFollowersPin
56.4kFollowersFollow
136kSubscribersSubscribe
4.4kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Latest News

Milad Sidogiri 288: Meluncurkan Website Resmi untuk Souvenir dan Pernak-Pernik
Liputan 28 Januari 2025
DAKWAH DENGAN MUSIK
Kajian 25 November 2024
NYANYIAN DAN TARIAN SUFI
Kajian 24 November 2024
SEKULARISME & HEDONISME
Kajian 6 November 2024
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.

Login
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

%d