Sidogiri Media OnlineSidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Search
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: HAL PENTING DALAM MEMBACA AL-QURAN (1)
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Font ResizerAa
  • Account
  • Berlangganan
  • My Bookmarks
  • Ngaji Jurnalistik
Search
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Jeda » Tips Pesantren » HAL PENTING DALAM MEMBACA AL-QURAN (1)
Tips Pesantren

HAL PENTING DALAM MEMBACA AL-QURAN (1)

Redaksi
Last updated: 9 Oktober 2022 9:10 pm
Redaksi
Share
5 Min Read
hal penting dalam membaca al-quran
hal penting dalam membaca al-quran
SHARE

Berikut hal-hal penting yang perlu diperhatikan ketika membaca Al-Quran yang telah disarikan dari kitab Ihya ‘Ulumiddîn karya Imam al-Gazali dan berbagai referensi lainnya. Semoga bermanfaat. Amin.

Contents
Kondisi PembacaKadar BacaanPerasaan Pembaca
Kondisi Pembaca

Seseorang yang akan membaca Al-Quran hendaknya mengupayakan hal-hal berikut: 1) dalam kondisi suci; bersih dari hadas dan najis 2) dalam keadaan santun dan tenang, baik dalam kondisi duduk atau berdiri 3) menghadap kiblat 4) menundukkan kepala 5) tidak duduk dengan cara melipatkan kedua tapak kaki di bawah paha (mutarabi’), tidak duduk secara bertekan (muttaki’) dan tidak duduk secara sombong 5) duduk seperti ketika duduk di hadapan guru (sopan).

Adapun kondisi yang paling baik dalam membaca Al-Quran adalah pada saat berdiri dalam keadaan shalat di masjid. Allah berfirman:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allah SWT dalam ayat di atas memuji beberapa kondisi, akan tetapi lebih mendahulukan berdiri dalam zikir kepada Allah, kemudian duduk, kemudian sambil berbaring.

Kadar Bacaan

Bagi qurra’ (pembaca AlQuran) terdapat berbagai macam kebiasaan dalam memperbanyak atau menyingkatkan bacaan. Sebagian mereka, ada yang mengkhatamkan Al-Quran sehari semalam satu kali, ada pula yang dua kali. Ada pula yang khatam satu bulan satu kali, satu tahun satu kali, dan sebagainya. Ada pula yang tidak khatam-khatam. Dalam hal ini perlu kiranya mengacu pada riwayat berikut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ لَمْ يَفْقَهْهُ .مسند أحمد) 11/ 91 (

“Barang siapa membaca Al-Quran kurang dari tiga hari, niscaya ia tiada memahami akan Al-Quran itu.”

Sebab, jika menghatamkan Al-Quran kurang dari tiga hari, maka rentan mencegah bagusnya tilawah (tartil) dan tadabbur akan maknannya.

Tentang pengkhataman, ulama membuat empat model sebagai acuan: 1) khatam dalam sehari semalam, model ini dihukumi makruh oleh segolongan ulama 2) khatam pada tiap bulan (sehari satu juz), model ini terlihat terlalu lamban sebagaimana model pertama yang terlalu cepat. 3) khatam seminggu sekali 4) khatam dua s/d tingga minggu sekali. Dua model terakhir ini, dianggap sebagai model yang sederhana dan baik untuk diterapkan.

Dalam hal ini al-Ghazali menyatakan: “Uraian (klasifikasi) mengenai kadar bacaan adalah jikalau pembaca dari golongan orang-orang yang kuat beribadah dan menempuh amalan raga, maka tidaklah wajar kurang dari dua khataman dalam seminggu. Jika pembaca dari golongan yang menempuh amalan hati dan berbagai macam pemikiran atau dari orang-orang yang menghabiskan waktu dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, maka tidak masalah ia menyingkatkan khataman dalam seminggu sekali. Dan kalau ia tergolong orang yang paham maksud dan makna Al-Quran, maka cukup baginya khatam dalam sebulan sekali, karena tingginya intensitas hajat dalam mengulangi dan meneliti (isi dan kandungan Al-Quran).”

Perasaan Pembaca

Ketika membaca Al-Quran disunahkan menangis. Menangis merupakan sifat orang-orang arif dan syiar hamba-hamba Allah I yang shaleh.

Allah berfirman:

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al Isra’: 109)

Rasulullah bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَابْكُوا ، فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا . مسند البزار – (1 / 217(

“Bacalah Al Quran dan menangislah. Jika kamu tidak menangis, maka usahakanlah supaya menangis.”

Shalih al-Marri meriwayatkan: “Aku bermimpi membaca Al-Quran di hadapan Nabi r. Lalu beliau bersabda: “Bagiku hai Shalih bacaan ini, tetapi mana tangisnya?”

Imam al-Ghazali menyatakan: “Bahwa jalan untuk mengupayakan tangisan adalah dengan mendatangkan kegundahan hati. Dari kegundahan hati itu, timbulah tangis. Sedangkan untuk mendatangkan kegundahan hati, ialah memperhatikan akan apa yang ada dalam Al-Quran; tentang berita menakutkan, janji azab karena durhaka (wa’id), dan segala macam janji yang ditetapkan. Kemudian memperhatikan keteledoran tentang segala perintah dan larangan-Nya. Maka dengan itu akan memungkinkan hati gundah dan menangis. Jikalau tidak datang kegundahan hati dan tangisan, sebagaimana datangnya pada orangorang yang berhati suci-bersih, maka hendaklah menangis karena ketiadaan kegundahan hati dan tangisan tersebut. Dan yang demikian itu, adalah bahaya yang paling besar.”

(Lihat: Ihya ‘Ulumiddîn, 1/347, atTibyãn fi Adâbi Hamalatil-Qurân, 88)

M Romzi Khalik/sidogiri

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

You Might Also Like

MENU MAKAN RASULULLAH DAN SHAHABAT (2)

INSPIRASI AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR

Tips Menghadiri Undangan Pernikahan

KIAT-KIAT MENAMBAH IMAN

MERAIH BERKAH DENGAN SALAM (III)

TAGGED:al-quranmembaca al-quranqiraahqiraatul-qurantartil

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.

By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Share
Previous Article meningkatkan kualitas tafakur MENINGKATKAN KUALITAS TAFAKKUR
Next Article gua akbar Gua Akbar Dari Markas Berandal, Menjadi Markas Ulama
1 Comment 1 Comment
  • Anonim berkata:
    30 Juli 2021 pukul 10:03 pm

    5

    Balas

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Stay Connected

235.3kFollowersLike
69.1kFollowersFollow
11.6kFollowersPin
56.4kFollowersFollow
136kSubscribersSubscribe
4.4kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Latest News

Milad Sidogiri 288: Meluncurkan Website Resmi untuk Souvenir dan Pernak-Pernik
Liputan 28 Januari 2025
DAKWAH DENGAN MUSIK
Kajian 25 November 2024
NYANYIAN DAN TARIAN SUFI
Kajian 24 November 2024
SEKULARISME & HEDONISME
Kajian 6 November 2024
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.

Login
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

%d