Sidogiri Media OnlineSidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Search
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: Ada Sayang di Balik Garang
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Font ResizerAa
  • Account
  • Berlangganan
  • My Bookmarks
  • Ngaji Jurnalistik
Search
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Utama » Topik Utama » Ada Sayang di Balik Garang
Topik Utama

Ada Sayang di Balik Garang

Redaksi
Last updated: 9 Oktober 2022 8:54 pm
Redaksi
Share
8 Min Read
ada sayang di balik garang
ada sayang di balik garang
SHARE

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Dan tidaklah Aku mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS al-Anbiya’ [21]: 107)

Kalau misalnya ada orang bertanya: bagaimana bisa pengutusan Rasulullah Muhammad SAW menjadi rahmat, padahal salah satu isi syariat beliau adalah perintah berperang dan penghalalan ghanimah? Imam ar-Razi membeberkan beberapa jawaban, di antaranya:

Pertama, Rasulullah SAW menggunakan pedang untuk para penentang yang angkuh. Perbandingannya adalah: Allah Maha Pengasih, tapi suatu ketika Allah Maha Penyiksa terhadap orang-orang yang durhaka. Kedua, umat-umat terdahulu ketika durhaka turunlah azab. Tapi, umat yang mendustakan Rasulullah SAW, azabnya tidak diturunkan di dunia, tapi baru diberikan setelah mereka mati. Ketiga, Rasulullah SAW lebih mengedepankan cara-cara lembut. Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah SAW pernah diminta oleh shahabat untuk berdoa agar diturunkan azab kepada orang-orang musyrik. Maka, Rasulullah bersabda, “Aku diutus sebagai rahmat, bukan sebagai azab.”

Imam at-Taftazani menyatakan bahwa Rasulullah SAW menjadi rahmat bagi orang mukmin maupun kafir, dalam arti beliau datang denganmembawa jalan yang benar dan petunjuk keselamatan bagi mereka. Hanya saja, orang kafir tidak mau mengikuti petunjuk itu.

Asy-Syekh al-Akbar Ibnu Arabi, pemuka sufi yang dikenal dengan gagasan kasih sayang, menyatakan:

إِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ قَدْ أَبْطَنَ مَوَاضِعَ رَحْمَتِهِ فِيْ عَذَابِهِ وَنِقْمَتِهِ كَالمَرِيْضِ الَّذِيْ جَعَلَ فِيْ عَذَابِهِ بِالمَرَضِ رَحْمَتَهُ بِهِ فِيْمَا يُكَفَّرُ عَنْهُ مِنَ الذُّنُوْبِ فَهَذِهِ رَحْمَةٌ فِيْ نِقْمَةٍ

“Sesungguhnya Allah menyembunyikan rahmat di balik siksa. Misalnya, orang sakit, Allah meletakkan kasih sayang di balik siksa sakit tersebut, berupa penghapusan dosa-dosa. Ini adalah rahmat dalam siksa.”

Beliau melanjutkan, orang yang mendapatkan hukuman dari agama seperti dihukum mati atau dihukum cambuk, maka yang sedang terjadi adalah siksa, tapi yang tersembunyi adalah rahmat. Karena dengan hukuman tersebut, dia akan terbebas dari tuntutan hukuman di akhirat kelak.

Islam yang Santun

Bahwa Rasulullah SAW berdakwah dengan santun dan ramah, hal itu merupakan fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Namun, juga merupakan fakta sejarah yang tidak bisa dibantah, bahwa beliau juga mengangkat pedang melawan orangorang kafir; menetapkan hukuman potong tangan untuk pencuri dan hukuman rajam untuk pezina. Sikapsikap keras itu harus dilakukan karena posisi Rasulullah SAW bukan hanya sebagai tuntunan spiritual umat Islam, tapi juga sebagai pemimpin pemerintahan dan pemimpin di segala bidang kehidupan. Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah, tapi juga urusan sosial, politik, ekonomi dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, sikap-sikap keras kadangkala harus dilakukan, bukan sebagai cara menanam benih, tapi sebagai solusi membasmi hama. Dengan catatan, bahwa sikap keras itu dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kewenangan seperti pemerintah, bukan oleh sembarang orang. Hal itu agar tidak menimbulkan konflik sosial yang berkepanjangan.

Dalam menyikapi sikap lembut dan sikap keras, di dalam tubuh umat Islam muncul dua kubu yang sama-sama ekstrem. Masing-masing dari kedua kubu itu hanya mau memegang ayat atau dalil yang sesuai dengan seleranya. Mereka tidak mau tahu dengan ayat atau dalil lain yang tidak sesuai dengan selera. Itulah yang sesungguhnya menjadi sebab runcingnya perbedaan pandangan di antara kedua kubu. Perbedaan sikap yang aslinya hanyalah ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan jenis pilihan) berubah menjadi ikhtilaf at-tadhâdh (perbedaan kontrodiktif); perbedaan sikap yang awalnya hanyalah berbeda konteks berubah menjadi berbeda esensi.

Dalam al-Quran ada banyak ayat yang mengindikasikan sikap lembut dalam menyebarkan agama Islam. Dalam al-Quran juga ada banyak ayat yang mengindikasikan sikap keras dalam menyikapi penyimpangan dan pelanggaran. Semua itu jangan sampai diposisikan sebagai sesuatu yang kontradiktif, tapi sebagai sesuatu yang berbeda konteks.

Islam bersikap sangat lembut dalam kondisi normal, namun bisa juga bersikap keras dalam kondisi ada gangguan dan penyimpangan. Kedua sikap ini tidak bisa dihindarkan dalam menghadapi realitas kehidupan. Lembut saja memang sesuatu yang sangat indah, namun tidak realistis dalam membangun kehidupan yang kondusif. Keras saja jelas merupakan suatu yang buruk karena bertentangan fitrah manusia. Maka, yang ideal adalah selalu bersikap lembut kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu yang diperlukan sikap keras. Inilah tuntunan yang diteladankan oleh Rasulullah SAW sepanjang sejarah dakwahnya.

Kesalahan dalam memposisikan dalil mengakibatkan semakin runcingnya kesalahpahaman antar satu gerakan dengan gerakan lain di tubuh umat Islam; juga kesalahpahaman antar satu ormas Islam dengan ormas Islam yang lainnya.

Tidak jarang, ayat-ayat yang lembut dijadikan sebagai kedok oleh orangorang yang tidak memiliki kepedulian apapun terhadap agama, sehingga dijadikan dalil liberalisme, pluralisme dan semacamnya. Mereka lembut pada saat seharusnya bersikap keras, tentu bukan karena menjadikan kelembutan itu sebagai strategi, tapi karena tidak peduli atau karena khawatir ada kepentingan pragmatisnya yang terganggu.

Tidak jarang pula, ayat-ayat yang ‘keras’ dijadikan sebagai kedok oleh orang-orang ekstrem, sehingga dijadikan dalil terorisme, anarkisme dan semacamnya. Mereka memilih jalan hidup yang mirip dengan kelompok Khawarij di masa Sayidina Ali dan Dinasti Umayyah. Mereka hidup secara eksklusif, enggan mendialogkan nilainilai keislaman dengan realitas. Mereka menganggap semua orang di luar kelompoknya sebagai bid’ah, kafir dan syirik. Mereka pasti gagal membangun peradaban karena belum apa-apa sudah terdepak dari medan.

Maka, ayat yang lembut dan ayat yang keras harus diletakkan secara proporsional. Di satu sisi, isi dari rahmat itu adalah tujuan hati, dan di sisi lain adalah cara. Tujuan kasih sayang itu bersifat mutlak, yaitu tercapainya kebaikan. Sedangkan cara dari kasih sayang bersifat kondisional dan memiliki banyak tahapan. Idealnya, kebaikan itu dilakukan karena kesadaran. Namun, jika kondisi ideal ini tidak bisa tercapai, maka kebaikan yang dipaksakan jelas lebih baik daripada keburukan yang dibiarkan. Meninggalkan keburukan karena rasa takut jauh lebih baik daripada melakukan keburukan dengan rasa bangga.

Jika kita belum bisa membawa masyarakat untuk melakukan kewajiban dan meninggalkan larangan karena kesadaran, maka opsi berikutnya adalah membuat mereka melakukan kewajiban dan meninggalkan larangan karena takut, malu dan semacamnya. Orang yang melakukan kebaikan karena terpaksa atau meninggalkan keburukan karena takut, memiliki peluang yang lebih besar untuk insyaf dibandingkan orang yang meninggalkan kebaikan dan melakukan keburukan dengan leluasa, apalagi dengan rasa bangga. Karena itulah, kadangkala cara keras (sesuai wewenangnya) merupakan salah satu tahap yang harus dilakukan sebagai pengejawantahan dari rasa kasih sayang, seperti seorang ayah yang kadangkala bersikap keras kepada anaknya untuk membuat dia tekun belajar.

Jadi, Islam Rahmatan lil Alamin jangan sampai diartikan pembiaran terhadap kebatilan. Rahmatan lil Alamin adalah upaya menyebarkan kebenaran dengan cara yang benar, sesuai tahapannya.

Ahmad Dairobi/sidogiri

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

You Might Also Like

BENANG KUSUT POLEMIK CADAR

MEMILIH IDOLA DALAM MEDIA

ISLAM, ARAB DAN ABUJAHALISME

CAP SARA YANG SARU

KITA WAJIB BERJUANG BUKAN MENANG!

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.

By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Share
Previous Article KI agung supo KI AGENG SUPO, SUNAN BUNGKUL; BERSAMA SUNAN AMPEL, SUKSESKAN ISLAMISASI SURABAYA
Next Article KH. Malik Madani Jangan Gadaikan Akidah dengan Dalih Rahmatan Lil Âlamîn
1 Comment 1 Comment
  • Anonim berkata:
    26 Maret 2021 pukul 1:38 pm

    4.5

    Balas

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Stay Connected

235.3kFollowersLike
69.1kFollowersFollow
11.6kFollowersPin
56.4kFollowersFollow
136kSubscribersSubscribe
4.4kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Latest News

Milad Sidogiri 288: Meluncurkan Website Resmi untuk Souvenir dan Pernak-Pernik
Liputan 28 Januari 2025
DAKWAH DENGAN MUSIK
Kajian 25 November 2024
NYANYIAN DAN TARIAN SUFI
Kajian 24 November 2024
SEKULARISME & HEDONISME
Kajian 6 November 2024
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.

Login
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

%d