Sidogiri Media OnlineSidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Search
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: 4 OKTOBER 1934 M. LANGKAH REVOLUSIONER KETURUNAN ARAB DI INDONESIA
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Font ResizerAa
  • Account
  • Berlangganan
  • My Bookmarks
  • Ngaji Jurnalistik
Search
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Jeda » Kilas Balik » 4 OKTOBER 1934 M. LANGKAH REVOLUSIONER KETURUNAN ARAB DI INDONESIA
JedaKilas Balik

4 OKTOBER 1934 M. LANGKAH REVOLUSIONER KETURUNAN ARAB DI INDONESIA

Redaksi
Last updated: 14 Agustus 2022 7:50 pm
Redaksi
Share
4 Min Read
4 OKTOBER 1934 M. LANGKAH REVOLUSIONER KETURUNAN ARAB DI INDONESIA
4 OKTOBER 1934 M. LANGKAH REVOLUSIONER KETURUNAN ARAB DI INDONESIA
SHARE

Beberapa tahun setelah Sumpah Pemuda yang tersohor itu digaungkan, sejumlah kaum muda keturunan Arab yang tinggal di Indonesia melakukan langkah cukup mengejutkan. Mereka dengan lantang mendukung gagasan tanah air Indonesia sebagai tumpah darah. Dipelopori oleh pemuda idealis keturunan Arab, Abdurrahman (AR) Baswedan, yang ketika itu berusia 27 tahun. Keturunan Arab—terutama yang paling banyak dari Hadramaut, Yaman— tersebut berkumpul melakukan kongres di Semarang.

Perlu diketahui bahwa di masa kolonial, keturunan etnik Arab mendapatkan perlakuan hukum warga kelas dua (kelas Timur Asing). Hal ini mengakibatkan mereka terpisah dan jarang bergaul dengan kaum pribumi. Meskipun mereka terlibat dalam berbagai aktivitas keagamaan dan pendidikan, tetapi mereka tidak terlibat dalam gerakan kebangsaan.

Kongres Semarang akhirnya melahirkan organisasi Persatoean Arab Indonesia (PAI). Ada tiga tiga butir pernyataan PAI yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda ‘versi keturunan Arab’: 1) Tanah air peranakan Arab adalah Indonesia. 2) Peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri). 3) Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

“Dan, peranakan Arab saat itu—melalui isi Sumpah Pemuda 1934—”menurunkan” dirinya. Ini agak aneh untuk ukuran saat itu. Nah, Baswedan tidak melihat itu (warga klas dua) sebagai keistimewaan. Tapi dia mengatakan dengan menjadikan dia pribumi, maka persoalan keturunan Arab di Indonesia itu selesai,” kata Hasan Bahanan, staf pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Baca Juga: 10 November, Peran Ulama Dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Menurut Hamid Algadri, penulis buku Mengarungi Indonesia: Memoar Perintis Kemerdekaan (1999), dalam bukunya, “Nama PAI sejak berdirinya adalah Persatoean Arab Indonesia. Memang pada waktu itu belum tampak PAI akan menjadi partai politik.”

Usaha PAI yang paling utama adalah “menyatukan kembali keturunan Arab yang pecah-belah”. Masih menurut Hamid, para keturunan Arab sebelumnya terpecah belah karena suatu pertentangan dalam dua golongan Arab dan keturunan Arab, yakni golongan Al Irsyad dan Ar Rabithah.

Sebagai sebuah langkah pergerakan, AR Baswedan tentu punya banyak tantangan. Di masa kolonial, tak semua orang Arab antusian dan mau bergabung dengan PAI. Ancaman yang diterima oleh AR Baswedan dijelaskan oleh Husein Haikal dalam disertasinya, Indonesia-Arab dalam Pergerakan Kemerdekaan Indonesia (1986). Husein menjelaskan betapa AR Baswedan diancam karena perjuangannya, termasuk ancaman fisik.

Pada tahun 1940, PAI mengubah namanya dari Persatuan menjadi Partai. Pantas jika kemudian PAI punya wakil di Volksraad (Dewan Rakyat), yakni A.S. Alatas yang, menurut Hamid Algadri, adalah Penasehat Pengurus Besar PAI. Alatas yang kemudian mewakili PAI mendukung Petisi Soetardjo dalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Petisi tersebut berisi tuntutan adanya persamaan di parlemen antara Indonesia dan Belanda, dan adanya pemerintahan yang otonom dalam lingkungan kerajaan Belanda.

Baca Juga: Madiun Affairs: Konflik Yang Dimanfaatkan Belanda

Ketika militer Jepang masuk ke Indonesia dan berkuasa sejak 8 Maret 1942, semua partai politik dibubarkan oleh Jepang, tak terkecuali PAI. Anggota PAI kemudian menyebar, ada yang dijadikan anggota Cuo Sangi In (Dewan Pertimbangan Pusat), ada pula yang bergabung dengan gerakan Anti Fasis Jepang yang dipimping Amir Sjarifoeddin lalu Sutan Sjahrir. PAI terus mati hingga Jepang kalah dan angkat kaki dari Indonesia.

Banyak pakar menilai bahwa PAI merupakan perkumpulan penting dalam upaya peleburan dan pengakuan akan tanah air Indonesia. Kesadaran keturunan Arab akan pentingnya nasionalisme dan memenuhi kewajiban sebagai anak bangsa patut diapresiasi.

“Kesadaran bangsa Indonesia keturunan Arab pada 4 Oktober 1934 [….] menurut kami memang suatu peristiwa yang sangat penting, yang sudah sepatutnya mendapat perhatian secukupnya. Peristiwa tersebut tidak saja penting bagi saudara bangsa kita yang berketurunan Arab, namun amat penting pula untuk kita semua,” kata Ki Hajar Dewantara dalam peringatan 20 tahun Persatoean Arab Indonesia.

N. Shalihin Damiri/sidogiri

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

You Might Also Like

Obat Herbal Rekomendasi Rasulullah (1)

SEMBELIH HEWAN KURBAN DI MASJID

OBAT HERBAL REKOMENDASI RASULULLAH (3)

KEUNTUNGAN ASI BAGI IBU MENYUSUI (2/HABIS)

WATHAN

TAGGED:majalah santriMedia SidogiriSidogirimedia.com

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.

By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Share
Previous Article PARA ULAMA DAN TIRANI PENGUASA PARA ULAMA DAN TIRANI PENGUASA
Next Article SPIRIT ISLAM YANG MEMERDEKAKAN SPIRIT ISLAM YANG MEMERDEKAKAN
Leave a Comment Leave a Comment

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Stay Connected

235.3kFollowersLike
69.1kFollowersFollow
11.6kFollowersPin
56.4kFollowersFollow
136kSubscribersSubscribe
4.4kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Latest News

Milad Sidogiri 288: Meluncurkan Website Resmi untuk Souvenir dan Pernak-Pernik
Liputan 28 Januari 2025
DAKWAH DENGAN MUSIK
Kajian 25 November 2024
NYANYIAN DAN TARIAN SUFI
Kajian 24 November 2024
SEKULARISME & HEDONISME
Kajian 6 November 2024
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.

Login
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

%d