Kalau bertanya manfaat yang akan diraih umat Islam ketika saling menjaga silaturahim, maka hanya ada satu jawabannya. Banyak. Selain kebaikan dan rahmat dari Allah, silaturahim juga akan mempererat hubungan antar manusia.

Silaturahim atau menjalin hubungan baik dengan orang lain merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Dalam dunia manajemen modern saat ini, silaturahim dikenal dengan istilah jaringan (networking). Dikatakan, salah satu kunci sukses seseorang adalah kekuatan jaringan (networking)-nya.

Sementara itu, jika kita mengorek arti silaturahim secara istilah yang disesuaikan dengan konteks masyarakat kita sekarang, kita bisa mengartikan bahwa silaturahim adalah upaya menyambung tali persaudaraan dengan saling mengunjungi antara yang satu dan yang lainnya agar terjalin rasa kasih sayang dan solidaritas antar sesama.

Dalam konteks tersebut, silaturahim dilakukan dengan bertamu, saling melihat keadaan dengan kunjungan, dan saling menyapa dengan komunikasi yang baik.

Paling tidak, ada dua hal yang perlu kita ketahui dari silaturahim berkaitan dengan pengertiannya secara istilah. Pertama, menyambung tali persaudaraan yang sebelumnya belum tersambung, artinya berkenalan dengan orang lain kemudian menjalin persaudaraan. Kedua, mempererat persaudaraan atau kekerabatan sehingga jalinan tersebut semakin baik dari waktu ke waktu dan tidak terputus.

Ajaran tentang silaturahim ini sungguh digaungkan oleh agama Islam untuk persatuan umat. Islam tidak menghendaki permusuhan, tetapi menghendaki persaudaraan. Hal itu sesuai dengan fitrah kemanusiaan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan antara yang satu dan yang lainnya.

Anjuran silaturahim ini sangat Rasulullah tekankan kepada umat Islam. Ketika Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau pun melekatkan hubungan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang sebelumnya kedua kaum tersebut belum saling kenal. Karena Rasulullah memerintahkan silaturahim, hubungan kedua kaum tersebut sungguh sangat harmonis. Mereka terikat dalam sebuah tali persaudaraan yang sangat kuat.

Selain menambah jaringan dan saudara, silaturahim juga mempunyai manfaat lain. Rasulullah menjelaskan, “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya (kebaikannya), maka bersilaturahimlah.” (HR Bukhari).

Sementara itu, Islam tidak menyukai orang-orang yang memutuskan tali persaudaraan. Islam mengancam dan mengecam secara tegas orang-orang yang memutuskan tali persaudaraan. Dalam hal ini, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus (silaturahim).” (HR BukhariMuslim).

Islam begitu tegas terhadap hubungan baik sesama manusia. Oleh karena itu, orang yang tidak mau berbuat baik dan justru memutus persaudaraan, Islam pun memberikan ancaman yang keras, yakni tidak akan masuk surga sebagai balasannya. Sungguh mengerikan. Na’udzu billah.

Manifestasi baiknya hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya dibuktikan dengan harmonisnya hubungan sesama manusia. Artinya, memutus hubungan silaturrahim sesama manusia bisa mengakibatkan putusnya hubungan dengan Allah. Sabda Nabi, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi.” (HR Bukhari Muslim).

Bulan Syawal merupakan bulan yang sudah lumrah sebagai momentum pas untuk silaturahim bagi masyarakat Muslim Indonesia. Hal ini karena pada hari Lebaran tersebut diisi dengan saling bermaafan, saling berkunjung, dan saling menyapa antara yang satu dan lainnya. Selain memeriahkan Lebaran dan memang sudah menjadi tradisi, masyarakat pun mudik hanya untuk bersilaturahim.

Dengan menyonsong datangnya Lebaran Idul Fitri di tahun ini, mari kita sambut dengan baik dan menggunakan kesempatan ini untuk bersilaturahim ke sanak famili. Karena kalau bukan hari Lebaran, kapan lagi kita mau bersilaturahim? Toh, di hari Lebaran merupakan hari libur dari berbagai kegiatan kerja.

Faiz Jawami’ Amzad/sidogiri