Sidogiri Media OnlineSidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Search
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Reading: Ilkiya Al-Harrasi [450-504 H / 1058-1110 M] Mufassir Agung, Murid Kebanggaan Imam Haramain
Share
Sign In
Notification Show More
Font ResizerAa
Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Font ResizerAa
  • Account
  • Berlangganan
  • My Bookmarks
  • Ngaji Jurnalistik
Search
  • Aktual
  • Utama
    • Topik Utama
    • Wawancara
    • Editorial
    • Tabayun
  • Artikel
    • Kolom Akidah
    • Kolom Fuqaha
    • Kajian Resensi
    • Ngaji Hikam
    • SidoNesia
  • Dunia Islam
    • Hadharah
    • Rihlah
    • Rijaluddin
  • Jeda
    • Kilas Balik
    • Sakinah
    • Muslimah
    • Tips Pesantren
    • Klinik Pesantren
  • Liputan
    • Jelajah
    • Ngaji IASS
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Home » Dunia Islam » Rijaluddin » Ilkiya Al-Harrasi [450-504 H / 1058-1110 M] Mufassir Agung, Murid Kebanggaan Imam Haramain
Rijaluddin

Ilkiya Al-Harrasi [450-504 H / 1058-1110 M] Mufassir Agung, Murid Kebanggaan Imam Haramain

Redaksi
Last updated: 9 Oktober 2022 9:21 pm
Redaksi
Share
7 Min Read
Ilkiya al-Harrasi
SHARE

“Seseorang yang mempunyai wajah yang rupawan, suara yang lantang, karakter yang kuat serta ahlak yang baik.” ~Adz-Dzahabi, Sejarawan Muslim

Beliau bernama lengkap Abul-Hasan Imaduddin Syaikhu asy-Syafi’iyah Ali bin Muhammad bin Ali ath-Thabari atau yang sering dipanggil dengan sebutan Ilkiya al-Harrasi (bisa juga dibaca Alkiya atau Lkiya, merupakan gelar berbahasa Persia yang berarti tokoh atau orang yang berpengaruh dari Harras)

Beliau dilahirkan pada tanggal 5 Dzul Qadah 450 hijriyah atau 24 Desember 1058 di Amol, Thabaristan, Iran. Beliau menghabiskan masa kecil di tempat kelahirannya dan belajar dasardasar agama di sana, sampai pada usia 18 beliau pergi mencari ilmu ke Nisapur, dan belajar di Madrasah Sarhang pada Imam Haramain dan menjadi asisten beliau mengajar di sana. Setelah Imam Haramain wafat, beliau melanjutkan studinya ke Baihaq (Sekarang adalah Sabzevar, Razavi Khorasan, Iran) pada Syaikh Zaid bin Shaleh al-Amuli dan beliau juga mengajar disana.

Setelah menyelesaikan masa belajarnya di Baihaq beliau pergi ke Baghdad dan menetap di sana dan menjadi penasehat Abul-Muzhaffar Barkiyaruq bin Malik Syah, Sultan Dinasti Saljuk, sebelum akhirnya beliau diangkat menjadi Qadhi di Baghdad.

Seorang Pelajar yang Ulet

Beliau mempunyai kelebihan dalam hal karakter dan fisik, hal ini digambarkan oleh Imam adz- Dzahabi “Dia mempunyai wajah yang rupawan, suara yang lantang, karakter yang kuat serta ahlak yang baik”. Namun, yang paling nampak dari karakternya adalah Kegigihannya dalam mencari ilmu, beliau bercerita tentang pangalamannya ketika masih menjadi pelajar, “Di Madrasah Sarhang ada ruangan dengan 70 tangga, aku menghafalkan pelajaranku di ruangan tersebut dan mengulanginya lagi di setiap turun satu tangga, begitu pula aku mengulangi lagi pelajaranku di setiap naik satu tangga”.

Beliau juga merupakan salah satu dari tiga murid yang sering dibanggakan oleh al-Imam Haramain disamping Imam al-Ghazali dan Imam al-Khawafi. Imam Haramain sering memuji mereka bertiga secara khusus. Dalam sebuah momen Imam Haramain mengatakan: “Ketelitian ada pada al-Khawafi, kelancaran ada pada al-Ghazali, dan kejelasan ada pada Ilkiya”, dalam momen lain beliau berkata: “Al-Ghazali adalah laut yang menenggelamkan, Ilkiya adalah singa yang tangkas dan al-Khawafi adalah api yang membakar”

Menjadi Rektor di Madrasah Nizhamiyah

Pasca Imam al-Ghazali mengundurkan diri dari Rektor Madrasah Nizhamiyah dikarenakan naik haji dan melakukan Uzlah pada tahun 488 H. kursi rektor Madrasah Nidzamiyah untuk sementara waktu dipegang oleh saudara al-Ghazali yaitu Syekh Ahmad bin Muhammad at-Thusi, tak lami kemudian beliau digantikan oleh Syekh al-Husain bin Muhammad ath-Thabari selama tiga tahun dan setelah itu digantikan oleh Ilkiya sampai beliau wafat. Hal ini yang menyebabkan pembesar-pembesar ulama zaman itu, khususnya dari kalangan mazhab Syafii Asy’ari banyak yang menjadi murid beliau.

Difitnah Menjadi Anggota Sekte Bathiniyah

Pada tanggal 6 Muharam tahun 495 H, dua tahun setelah beliau diangkat jadi Rektor Madrasah Nizhamiyah, beliau difitnah oleh sebagian kalangan sebagai penggerak sekte Bathiniyah dari Syi’ah Ismailiyah, kemudian ditangkap atas perintah Sultan Muhammad bin Malik Syah dari Dinasti Saljuk dan beliau nyaris dieksekusi, namun Khalifah Abbasiyah ketika itu, al- Mustazhhir billah dan beberapa ulama Baghdad membela beliau sehingga beliau dilepaskan kembali. Kejadian ini disebabkan karena keserupaan nama (gelar) dengan pemimpin Bathiniyah saat itu yaitu Ilkiya Hasan bin Shabbah al-Marwazi penguasa daerah Alamut.

Wafat

Beliau wafat pada hari kamis di waktu ashar di permulaan bulan Muharam tahun 504 Hijriyah dan dimakamkan di pemakaman Bab Abzar, Kota Baghdad, di dekat persemayaman salah satu pembesar ulama Baghdad,Syekh Abi Bakar asy-Syirazi.

Karangan-Karangan Beliau

Beliau merupakan ulama produktif dan mempunyai banyak karangan di antaranya: 1) Ahkâmul-Qurân, tentang tafsir ahkam yang mengkolaborasikan antara Tafsîr bil-Ma’tsûr dan Tafsîr bir- Ra’yi. Kitab ini merupakan karangan beliau yang paling terkenal. 2) At-Ta’lîq fî Ushûlil-Fiqh. 3) Talwîhu Madârikil- Ahkâm. 4) Syifaul-Mustarsyidîn fî Mabâhitsil-Mujtahidîn menjelaskan tentang khilafiyah para mujtahid. Kitab ini salah satu karya terbaik beliau. Imam as-Subuki berkata, ”(Kitab ini) merupakan salah satu kitab terbaik yang menjelaskan tentang khilafiyah”. 5) Lawâmi’ ad-Dalail fi Zawayal- Masâil. 6) Naqdu Mufradâtil-Imami Ahmad, kitab yang menjelaskan tentang pendapat Imam Ahmad yang tidak sejalan dengan pendapat Imam Mazhab yang tiga.

Guru-Guru dan Murid-Murid Beliau

Beliau berguru pada pembesarpembesar Madzhab Syafii, di antaranya: 1) Al-Imam Haramain Abul Ma’ali ‘Abdul Malik bin ‘Abdillah bin Yusuf bin Muhammad bin ‘Abdillah bin Hayyuwiyah Al-Juwaini An-Naisaburi. 2) Abul-Fadl, Zaid bin Shaleh al-Amuli. 3) Abu Ali al-Hasan Muhammad ash-Shaffar.

Beliau juga mempunyai banyak murid yang terkenal, di antaranya: 1) Abu Fatah al-Baghdadi Ahmad bin Ali bin Muhammad al-Wakil atau yang sering dikenal dengan sebutan Ibnu Burhan. 2) Said bin Muhammad bin Ahmad Abu Mansur ar-Razi. 3) Abdullah bin Muhammad bin Ghalib Abu Muhammad al-Jayli. 4) Said al- Khair bin Muhammad al-Anshari. 4) Muhammad bin Tumart ash-Shanhaji. 5) Abu Thahir Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim as-Salfi. 6) Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Qadir bin Hisyam al-Khatib ath-Thusi. 7) Abu al-Abbas Khadr bin Nash bin Aqil al-Irbili. 8) Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Ikrimah al-Bazri. 9) Abdul Wahid bin al-Hasan bin Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim al-Irbily. 10) Abu Ali Muhammad bin Abdullah bin Muhammad al-Bisthami yang terkenal dengan Julukan Imamu Baghdad.

Komentar Ulama tentang Beliau

Banyak sekali komentar ulama tentang beliau, di antaranya Imam al- Asnawi mengatakan, ”Beliau adalah seorang Imam yang punya pandangan yang luas”, Imam Ibnu Katsir berkata, ”Salah satu pembesar mazhab Syafii, tuan dari para pakar fikih.” Imam as- Subuki juga memberi komentar, ”Salah satu ulama terpandang, pemimpin para Imam dalam bidang Fikih, Ushul dan debat ilmiyah.” Ibnu Khlalikan berkomentar, ”Punya wajah yang rupawan, suara yang lantang, serta bahasa yang fasih.”

Baca juga: Syekh ihsan Jampes

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

You Might Also Like

MUFTI HADRAMAUT SERTA MAESTRO SASTRA YANG TIADA DUANYA

ASY-SYIFA BINTI ABDILLAH AL-ADAWIYAH (20 H), USTADZAH PERTAMA PARA MUSLIMAH DI MASA RASULULLAH

JAMALUDDIN AL-ISNAWI PAKAR FIKIH YANG KERAP BERPOLEMIK

SA’DUDDIN AT-TAFTAZANI, ULAMA AKADEMISI YANG BERILMU LADUNNI

ABU BAKAR MUHAMMAD AL-BAQILANI, ANAK TUKANG SAYUR YANG JADI PANUTAN ULAMA AHLUSSUNNAH

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.

By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook Copy Link Print
Share
Previous Article 25 NOVEMBER 2000, TAYANG PERDANA METRO TV TELEVISI YANG TIDAK RAMAH KEPADA UMAT ISLAM 25 November 2000, Tayang Perdana Metro TV Televisi yang Tidak Ramah Kepada Umat Islam
Next Article Umar bin Khaththab Masa Muda Umar Bin Khaththab RA Bangsawan yang Lihai Berkuda, Jagoan Sekaligus Pujangga
Leave a Comment Leave a Comment

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Stay Connected

235.3kFollowersLike
69.1kFollowersFollow
11.6kFollowersPin
56.4kFollowersFollow
136kSubscribersSubscribe
4.4kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Latest News

Milad Sidogiri 288: Meluncurkan Website Resmi untuk Souvenir dan Pernak-Pernik
Liputan 28 Januari 2025
DAKWAH DENGAN MUSIK
Kajian 25 November 2024
NYANYIAN DAN TARIAN SUFI
Kajian 24 November 2024
SEKULARISME & HEDONISME
Kajian 6 November 2024
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

Sidogiri Media OnlineSidogiri Media Online
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.

Login
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..

Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

%d