Kiai Manshur, ayah KH. M. Ali Manshur pernah dua kali menikah. Pertama dengan Nyai Aminah yang tidak dikarunai keturunan. Selanjutnya menikah lagi dengan Nyai Sofiah bin KH. Basyar Waliyullah Makam Agung, Tuban, dan dikaruniai dua putra, yaitu Sofanah dan Ali. Sehingga Ali mudalah yang digadang-gadang sebagai generasi Mbah Shiddiq yang alim dan cakap memimpin masyarakat. Terbukti, Kiai Ali Manshur pernah menjadi anggota Konstituante, ketua NU Cabang Banyuwangi dan ketua Departemen Agama.

KH. M. Ali Manshur adalah anak saudara/keponakan KH. Ahmad Qusyairi, ulama besar pengarang kitab ”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan judul “Inarat ad-Duja”, yang juga merupakan cucu Kiai Haji Ahmad Shiddiq, Jember.

Masa kecil KH. M. Ali Manshur dihabiskan di Tuban. Setelah tamat belajar di MI Makam Agung Tuban, beliau mondok di beberapa pesantren besar, antara lain pesantren Termas Pacitan, pesantren di Lasem (asuhan Mbah Ma’shum), lalu Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Di Lirboyo ini, beliau kelihatan bakatnya dalam penguasaan ilmu ‘Arudh dan Qawafi (dasar-dasar ilmu membuat syair berbahasa Arab).

Lepas dari pesantren, beliau pulang ke Tuban lalu bergabung dengan GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) dan masuk Laskar Hizbullah. Pasca kemerdekaan, beliau hijrah ke beberapa kota: Besuki, Sumbawa, lalu Bali. Di Bali ini beliau jadi ketua Cabang NU dan diangkat jadi anggota konstituante dari NU.

Sebelum wafat di Tuban, beliau menetap di Banyuwangi tahun 1962. Di kota ini beliau jadi ketua cabang partai NU, dan banyak terlibat dengan intrik politik menentang PKI dan PNI.

Mengarang Shalawat Badar

Sebagian kaum Muslimin, terutama di Indonesia, sering mengamalkan Shalawat Badar, dan mereka menyangka itu sebagai lafadz-lafadz sunah Nabi. Namun apakah benar demikian halnya? Shalawat Badar adalah rangkaian shalawat berisikan Tawassul dengan nama Allah, dengan junjungan Nabi serta para Mujahidin, teristimewapara pejuang Badar.

Diceritakan bahwa asal mula karya ini ditulis oleh Kiai Ali Manshur sekitar tahun 1960-an, pada waktu umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika itu, Kiai Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi dan juga seorang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ. Shalawat Badar yang beliau gubah dipopulerkan ke berbagai wilayah untuk menandingi lagu hymne PKI “Genjer-genjer” dan untuk membangkitkan semangat juang melawan PKI, sampai akhirnya PKI dapat ditumpas pada tahun 1965.

Keadaan politik yang mencekam saat itu dan kebejatan PKI yang merajalela membunuh massa, bahkan banyak kiai yang menjadi mangsa mereka, maka terlintaslah di hati Kiai Ali, yang memang mahir membuat syair Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah untuk meredam fitnah politik saat itu bagi kaum Muslimin, khususnya Indonesia.

Dalam keadaan tersebut, Kiai Ali tertidur. Dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih-hijau, dan pada malam yang sama juga, istri beliau bermimpi Kanjeng Nabi Muhammad.

Lalu di siang hari, Kiai Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi alHaddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahwa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiai Ali semakin bertekad untuk mengarang syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiai Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudian dikenal sebagai “Shalawat al-Badriyyah” atau “Shalawat Badar”.

Maka terjadilah hal yang mengherankan. Keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan bahan makanan lain. Mereka menceritakan bahwa pada waktu Subuh mereka didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiai Ali untuk membantunya karena akan ada suatu acara diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barang tersebut menurut kemampuan masing-masing. Yang lebih mengherankan lagi adalah pada malam harinya, ada beberapa orang asing yang membuat persiapan acara tersebut namun tak ada seorangpun mengenal mereka.

Menjelang keesokan harinya, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib Ali bin Abdur Rahman al-Habsyi Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiai Ali tanpa memberi tahu terlebih dahulu akan kedatangannya. Tidak tergambar kegembiraan Kiai Ali menerima para tamu istimewa tersebut.

Setelah memulai pembicaraan tentang kabar dan keadaan Muslimin, tiba-tiba Habib ‘Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiai Ali. Tentu saja Kiai Ali terkejut karena hasil karyanya itu hanya diketahui dirinya sendiri dan belum disebarkan kepada seorang pun, tapi beliau mengetahui. Ini adalah salah satu karamah Habib Ali yang terkenal sebagai Waliyullah.

Lalu tanpa banyak bicara, Kiai Ali Manshur mengambil kertas karangan syair tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan Habaib mendengar dengan khusyuk sambil meneteskan air mata karena terharu. Setelah selesai dibacakan Shalawat Badar oleh Kiai Ali, Habib Ali menyerukan agar Shalawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiai Ali tersebut.

Selanjutnya, Habib Ali Kwitang mengundang para ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, salah seorang yang diundang di antaranya ialah Kiai Ali Manshur bersama pamannya Kiai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiai Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Shalawat al-Badriyyah gubahannya. Maka bertambah masyhur dan tersebar luaslah Shalawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan populer dalam majelis-majelis ta’lim dan pertemuan.

Maka tak heran bila sampai sekarang Shalawat Badar selalu populer. Di Majelis Taklim Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang) sendiri tidak pernah absen membaca Shalawat Badar setiap minggunya. Begitu pula sering terdengar kumandang Shalawat Badar di berbagai pesantren di nusantara.

Faiz Jawami’ Amzad/sidogiri