Islam datang melalui Nabi Muhammad sebagai agama yang Rahmatan lil Alamin; menebar kasih sayang dan rahmat kepada segenap alam semesta tanpa terkecuali. Namun, Islam yang Rahmatan lil Alamin ini tidak lantas diam membiarkan begitu saja berbagai macam penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dengan dalih Islam itu agama rahmat. Banyak kalangan yang salah paham. Ada yang terlalu liberal sehingga cenderung permisif atau ibahiyah adapula yang cederung ekstrim kaku sehingga cenderung radikal. Seperti apa maksud Islam Rahmatan lil Alamin dan bagaimana cara kita menerapkannya dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara seperti di Indonesia ini. Berikut wawancara Zain Rusdy, kontributor Sidogiri Media dengan Prof. Dr. KH. Malik Madani, MA. Mantan Katib Am PBNU dan juga dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Apa maksud dari penyebutan Islam Rahmatan lil Âlamîn?

Islam itu membawa ajaran yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Baik ajaran yang lunak, keras, dan setengah keras. Semua ini adalah dalam rangka rahmat bagi alam semesta. Jangan artikan ayat ini ْ وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
hanya untuk menampilkan ajaran Islam yang lunak saja, tidak bisa. Pengertian ayat ini mencakup semua ajaran Islam, baik yang berupa ayat-ayat qitâl (keras) atau ayat lîn (lunak) itu sebenarnya dalam rangka menciptakan Rahmatan lil Âlamîn. Karena itu, jangan gunakan ayat ini untuk melegitimasi sikap lembek, mengalah terus, kendati Islam itu dilecehkan oleh pihak lain. Semua apa yang diajarkan oleh Islam mengenai kewajiban menegakkan kebenaran, tidak tunduk pada kezaliman itu rahmat bagi alam semesta. Kalau Islam tidak mengajarkan hal itu, maka alam semesta akan dirugikan oleh ajaran Islam. Justru ketika Islam mengajarkan untuk bertindak tegas menegakkan kebenaran dan melawan kemungkaran, ketika itu Islam tampil sebagai agama yang menebarkan rahmat.

Jadi, Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi alam semesta ini mencakup kepada semua aspek kehidupan?

Oh iya. Cakupan Islam Rahmatan lil Âlamîn ini luas, bukan hanya untuk manusia, dan manusia bukan hanya orang Islam saja, tapi untuk alam semesta, termasuk flora, fauna, lingkungan hidup, semua itu diuntungkan oleh ajaran Islam. Perhatikan bagaimana Islam menjaga lingkungan; kita dilarang kencing di air yang tergenang tidak mengalir, ini rahmat bagi lingkungan. Nabi melarang menyembelih binatang dengan cara ta’dzîb atau menyiksa, ini juga rahmat. Islam juga melarang memotong pepohonan di wilayah musuh di saat perang, ini merupakan ajarah rahmat bagi pemeliharaan lingkungan hidup. Jadi, rahmat ini bukan hanya untuk manusia saja, tapi juga bagi alam semesta.

Memahami bahwa Islam Rahmatan lil Âlamîn kepada orang Islam itu sudah jelas, lalu bagaimana maksud Islam Rahmatan lil Âlamîn kepada non-Muslim?

Islam itu melarang kita berbuat zalim kepada manusia, termasuk kepada mereka yang non-muslim. Ayatnya sudah jelas di surat al-Mumtahanah: 8. Jadi, jangan dikira, non-Muslim itu langsung menjadi musuh bagi kita, tidak. Kita masih mengenal istilah kafir kitabi dan kafir muahid yang kita jamin keamanannya, di samping juga ada kafir harbi. Jadi, tidak mesti berbeda agama itu menjadi penyebab kita bermusuhan. Sikap kita dalam akidah sudah jelas; untukmu agamamu dan untukku agamaku. Dalam bidang teologi dan ritual keagamaan kita tidak boleh mencampuradukkan dengan teologi dan ritual agama lain. Tapi dalam interaksi sosial kita wajib berbuat baik kepada sesama manusia, atas nama kemanusiaannya. Saya punya konsep tentang ukhuwah islamiyah yang selama ini terdistorsi pemahamannya hanya dalam ruang lingkup orang Islam saja. Ini menurut saya tidak benar. Kalau ukhuwah hanya terjalin antar orang Islam saja itu namanya ukhuwah bainal muslimin, bukan ukhuwah islamiyah.

Bisa dijabarkan lebih detail mengenai penejelasan konsep ukhuwah ini?

Ukhuwah islamiyah adalah susunan mausuf ala sifat artinya persaudaraan yang islami, yakni yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam, bukan ukhuwah di antara orang Islam saja. Selama ini ini kita mengartikan persaudaran dengan ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Menurut saya yang pertama itu ukhuwah imaniyah atau diniyah, yaitu persaudaraan atas nama kesamaan agama yang itu belum tentu islamiyah. Cobak saudara lihat kelompok Ali Imrom, Imam Samudra, Amrozi cs, yang menjalin persaudaraan lalu membuat bom bunuh diri untuk membunuh orang yang tidak berdosa, apakah itu ukhuwah islamiyah? Tidak, itu ukhuwah bainal muslimin yang tidak islamiyah, bahkan itu bisa disebut ukhwuah jahiliyah. Ukhuwah islamiyah itu tidak identik dengan sesama Muslim saja. Jenis ukhuwah yang lain itu bisa jadi ukhuwah islamiyah apabila terjalin sesuai dengan nilai-nilai Islam. Ukhuwah islamiyah itu adalah kerangka dasar yang menaungi ketiga jenis ukhuwah yang lain itu.

Ada sebagian kalangan yang menjadikan ayat-ayat rahmat ini sebagai dalih mereka untuk mentoleransi aliran sesat dan toleransi kebablasan dengan nonMuslim. Tanggapan Kiai?

Menurut saya sebaiknya kita jangan berlebih-lebihan. Kalau misalnya merayakan Maulid Nabi bersamaan dengan natal itu bukan toleransi antar umat beragama, tapi intervensi umat agama yang satu kepada yang lain. Kita itu sudah toleransi dalam arti menghargai keyakinan orang lain yang berbeda dengan kita. Tapi tidak berarti kita ikuti. Tidak mengkolaborasikan ritual agama kita dengan ritual agama lain yang berbeda. Tidak boleh. Jangan artikan ayat rahmat ini sebagai wujud toleransi tanpa batas kepada umat lain, mengalah dan menerima segala keadaan. Kita pun masih dibebani kewajiban dakwah kepada orang yang tak beriman itu. Dakwah dengan mauidzah hasanah itu juga termasuk wujud Islam yang rahmatan lil âlamîn. Sedangkan dakwah dengan cara kekerasan, intimidasi dan lain sebagainya itu bertentangan dengan prinsip rahmatan lil âlamîn. Jadi, kita saat ini berada di antara dua titik ekstrim طرفني بني الناس النقيض satu terlalu liberal memahami maksud rahmatan lil âlamîn sehingga nampaknya orang Islam tidak berhak membela diri, tidak berhak untuk berdakwah dan menyerukan agamanya. Ini pihak yang tafrith. Tapi sebaliknya ada yang terlalu ekstrim dan radikal atau ifrath. Islam dengan berbagai konsep yang ada dalam Fikih harus diterapkan semua dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk seperti Indonesia ini. Kita ada di tengah-tengah di antara keduanya, dalam arti kita tetap harus tegas memperjuangkan kebenaran agama kita tapi kita juga harus memperhatikan faktor situasi dan kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk.

Jadi, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dengan berbagai macam perbedaan suku dan agama ini, bagaimana cara kita menampilkan Islam yang rahmatan lil âlamîn?

Kita amalkan ajaran Islam itu secara utuh, baik yang lunak atau yang tegas. Kita juga dakwahkan ajaran itu dengan cara-cara yang santun bil hikmah wal mauidzatil hasanah. Dengan cara yang seperti itu orang di luar Islam akan tahu bahwa Islam itu bukan sesuatu yang berbahaya bagi kemanusiaan. Tapi justru benar-benar membawa rahmat bagi alam semesta. Ini yang menjadi tugas kita untuk menampakkan pada dunia bahwa Islam itu Rahmatan lil Âlamîn dalam arti yang sebenarnya. Tapi perlu diingat, tanpa harus menggadaikan akidah dengan dalih rahmat. Islam akan kehilangan fungsinya kalau membiarkan dan tidak mengoreksi hal-hal yang tidak benar tetap berlangsung karena dalih Rahmatan lil Âlamîn. Kalau semua yang salah dibiarkan dengan dalih rahmat itu tidak boleh. Ini namanya ibahiyah atau permisifme.