Dewasa ini aksi meng-orang lainkan (othering) kelompok yang tidak sepaham kian marak. Vonis kafir, bid’ah, fasiq dan semacamnya seolah tak terbendung. Fenomena ini mengingatkan kita pada golongan Khawarij yang notebene-nya memiliki ciri khas takfîr dan tafsîq terhadap golongan yang tak sehaluan. Dari sini, kemudian perlu dicari tahu; sesimpel itukah mencap orang lain keluar dari suatu aliran atau agama? Jika ia, pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah serendah itukah nilai tawar sebuah agama sehingga vonis kafir hanya di ujung lidah saja? Kajian mendalam tentang hal ini dikupas tuntas di sini.

Gejala yang mengemuka atas maraknya vonis takfir dari sebagian kelompok pada kelmpok lain yang dinilai berbeda dirumuskan setidaknya kaena ada 3 alasan. Pertama, bekal keilmuan yang kurang. Pada dasarnya mereka yang gemar dan juga gencar memberikan vonis kafir pada orang lain adalah kalangan abal-abal yang sok alim. Lebih sering hal ini muncul dari kalangan yang tidak memiliki kapabilitas berfatwa. Alhasil, vonis yang mereka berikan cenderung hambar dan tidak ada cita rasa keilmuan yang kental. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah dalam Hadis riwayat Ibnu al-Mubarak dalam bab Zuhud, yang artinya, “Di antara tanda-tanda akhir zaman adalah maraknya ilmu diperoleh dari orang-orang awam.’

Kedua, kapasitas ilmu yang tidak memadai tersebut mendorong mereka ceroboh dalam memahami teks. Akibatnya, kata kafir dalam beberapa literatur Hadis digebyah uyah diartikan sebagai keluar dari agama. Di sinilah titik fatal kesalahan mereka. Maka kemudian di dalam buku ini dijelaskan bahwa kata kufrun masih terbagi-bagi. Pemaknaannya tidak satu. Bahwa ada kafir ashghar ada pula kafir akbar. Kafir kecil seperti amaliah yang tidak sesuai aturan. Kafir besar yaitu kafir yang berkenaan dengan masalah itikad. Satu contoh, suatu ketika Rasulullah pernah berkata, sebagaimaan termaktub dalam Sunan Tirmidzi, “Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah kafir atau syirik”. Maka seperti yang dijelaskan oleh Imam at-Thahawi dalam Syarhul-Musykil beliau menjelaskan bahwa kata kafara dalam Hadis tersebut tergolong pada kafir ashghar. Karena yang dikehendaki dari Hadis tersebut adalah tidak sepantasnya seseorang bersumpah dengan selain Allah.

Ketiga, abuse of authority (penyalahgunaan wewenang). Mengingat urusan takfir adalah urusan krusial yang hanya boleh dijamah oleh kalangan tertentu, maka vonis kafir yang mereka lakukan tidak lain merupakan sebuah penyalahgunaan wewenang yang memiliki implikasi tidak sederhana. Dalam al-Quran juga banyak ditemukan beberapa kata yang diserap dari kata kafara namun pemaknaannya tidak melulu diartikan sebagai keluar dari agama. Dalam banyak tempat Imam at-Thabari dalam tafsirnya dengan mengutip pernyataan Imam Atha’ bin Abi Rabah dan Imam Thawus al-yamani menyatakan bahwa banyak kata kufrun diartikan berbeda; bukan kufur yang keluar dari agama.”

Jika diformulasikan maka persoalan vonis takfir ini terangkum dalam beberapa poin. Pertama, vonis kafir adalah hukum syara’ yang merupakan hak prerogatif Allah. Ini menjadi semacam forbidden area bagi selain-Nya. Kedua, setiap Muslim itu adil. Muslim dan adil ini merupakan label yang senantiasa melekat pada mereka yang telah berikrar dengan dua syahadat dan tidak merobeknya dengan pisau murtad. Ketiga, vonis kafir bisa dilakukan jika terjadi kensensus ulama ketika merespon suatu kejadian. Alhafidz dari negeri Maroko, Ibnu Abdil Bar menyatakan “Bagaimana bisa seseorang yang imannya disepakati secara ijma’ lalu dirobek begitu saja oleh hal-hal yang masih khilaf?”. Keempat, sebagaimana iman yang memiliki bebrapa cabang, maka demikian halnya dengan kufur juga berlapislapis penuh tingkatan. Kelima, secara garis besar kufur terbagi dua. Kufur secara amal dan kufur yang disertai hati inkar dan menentang. Seperti di sebutkan Ibnu Qayyim, kufur dengan makna menentang hampir dipastikan bertentengan dengan nilai imna. Akan tetapi kufur amal masih dibagi dengan hukum yang penuh perincian.